Sorotan Utama:
- Skor resmi 2026: Indonesia 66,89 (64 dunia), Vietnam 62,48 (81 dunia) — selisih 4,41 poin
- Pilar pendidikan jadi penentu: Vietnam unggul di PISA 2025 sains 457 vs Indonesia 389, matematika 443 vs 364
- Investasi 20% APBN: Vietnam mewajibkan 20% anggaran negara untuk pendidikan sejak UU 2019
- 63,2% siswa Indonesia berprestasi rendah dalam bidang sains vs 28,7% di Vietnam
- Stagnasi sejak 2023: Indonesia naik 15 peringkat dari 79 ke 64 sejak 2015, tapi berhenti tumbuh
JAKARTA, 17 September 2026 — Indonesia masih berada di tiga besar negara paling makmur di Asia Tenggara versi Legatum Prosperity Index 2026. Namun di balik peringkat 64 dunia tersebut, data pilar pendidikan menunjukkan Indonesia telah tersalip Vietnam. Perkembangan ini mengirimkan sinyal kuat tentang efektivitas investasi jangka panjang Vietnam.
Laporan Legatum yang dirilis Agustus 2026 menempatkan Singapura di posisi teratas ASEAN dengan skor 83,83 dan peringkat 23 dunia, diikuti Malaysia 73,03 di peringkat 46, dan Indonesia 66,89 di peringkat 64. Skor Indonesia turun dari 67,01 pada edisi sebelumnya. Vietnam berada di posisi keenam ASEAN dengan skor 62,48 dan peringkat 81 dunia.
Skor Resmi: Indonesia Masih di Atas, Tapi Retak
Menurut Fortune Indonesia, daftar lengkap ASEAN 2026 adalah Singapura 83,83, Malaysia 73,03, Indonesia 66,89, Thailand 65,72, Filipina 63,06, Vietnam 62,48.
Legatum mengukur kemakmuran melalui tiga domain: Development, Freedom, dan Society, dengan 130 variabel di 161 negara. Domain tersebut dipecah menjadi 12 pilar termasuk Education, Health, dan Economic Quality.
Kekuatan Indonesia ada di komunitas dengan skor 84,99, diikuti pendidikan 81,99, keluarga 78,84, dan kesehatan 76,47. Kelemahannya ada di standar hidup 61,08 dan kebebasan 61,90.
Menurut Spotlight Report Legatum Institute, Indonesia naik dari peringkat 79 pada 2015 menjadi 64 pada 2025, namun mengalami stagnasi sejak 2023 yang bertepatan dengan kemunduran demokrasi.
Pilar Pendidikan: Di Mana Vietnam Sudah Menyalip
Inilah yang hilang dari 17 artikel kompetitor yang kami analisis — mulai dari GoodStats, Fortune, Newsy Today, hingga Investor.id. Hampir semua hanya menyalin daftar peringkat.
Padahal, menurut World Bank, negara dengan peringkat teratas di pilar pendidikan hampir selalu masuk top 4 kemakmuran keseluruhan. Pendidikan adalah proxy untuk kemakmuran.
Vietnam membuktikan itu. Meski PDB per kapita lebih rendah, Vietnam mencatat kinerja pendidikan yang melampaui banyak negara OECD.
PISA 2025: Bukti Keras di Lapangan
Program for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis OECD pada 8 September 2026 melibatkan 91 negara dan 760 ribu siswa. Hasilnya menjadi cermin paling jujur.
Dari delapan negara ASEAN yang ikut, Singapura mencatat 560 untuk sains, 535 membaca, dan 563 matematika. Vietnam memperoleh 457, 392, dan 443. Indonesia berada pada 389 untuk sains, 365 membaca, dan 364 matematika.
Menurut OECD Education GPS:
- Vietnam sains 457 poin, low performers 28,7%
- Indonesia sains 389 poin, low performers 63,2% dan top performers 0%
Selisih 68 poin di sains dan 79 poin di matematika setara dengan hampir dua tahun masa sekolah. Dalam matematika, Indonesia bahkan mencatat skor terendah di ASEAN dengan 364 poin.
"Your education system has achieved what many thought impossible — outperforming many OECD countries in the Programme for International Student Assessment, despite the substantial difference in economic development," kata Senator Win Gatchalian, Co-Chair EDCOM 2 Filipina, saat kunjungan studi ke Vietnam.
Vietnam mengungguli seluruh peserta Asia Tenggara lainnya—kecuali Singapura—dalam bidang sains pada tes PISA OECD tahun 2025, dengan mencatatkan skor 457.
Baca juga: Peta Persaingan ASEAN: Filipina Menyalip Indonesia dan Konsistensi Vietnam
Rahasia 20% yang Tidak Dilihat Kompetitor
Information Gain terbesar dari riset ini adalah kebijakan investasi Vietnam yang tidak pernah disebut media Indonesia.
Menurut siaran pers resmi Senat Filipina, "In particular, the 2019 Law on Education mandated the Vietnamese government to invest 20% of the total state budget for education and training". Lebih lanjut, Vietnam menghabiskan USD 745,8 per siswa untuk kelas 1-3 pada 2022, sementara Filipina hanya USD 328.
Negara tersebut saat ini menginvestasikan 20% dari anggaran tahunan ke sektor pendidikan, dan jumlah ini meningkat USD 4,02 miliar dalam lima tahun terakhir.
Menurut UNICEF, Vietnam mengalokasikan 20% anggaran negara untuk pendidikan, memungkinkan investasi kuat dalam kualitas pembelajaran termasuk kurikulum terfokus dan investasi lebih besar pada guru.
World Bank menemukan variabel terkait siswa, orang tua, dan sekolah menjelaskan sebagian keunggulan Vietnam, termasuk investasi prasekolah yang memiliki efek jangka panjang.
Vietnam juga memulai dari PAUD sejak usia 3 bulan dengan fokus perkembangan holistik fisik, kognitif, linguistik, dan emosional-sosial, serta desentralisasi pengelolaan ke pemerintah provinsi.
Indonesia, sebaliknya, menurut OECD, hanya 16,93% siswa mencapai kompetensi minimum matematika pada 2025 dan 60,9% berada di bawah Level 2 di ketiga bidang sekaligus.
Mengapa Ini Penting: Dari Kelas ke Kemakmuran
Legatum sendiri menyatakan kemakmuran bukan hanya kekayaan. Ketika pilar pendidikan lemah, skor total tertahan karena Legatum menggunakan metode power mean — kelemahan besar di satu domain membatasi skor keseluruhan.
Data ekonomi memperkuat sinyal: Ekonomi Indonesia semester I-2026 tumbuh 5,45%, sementara Vietnam di atas 8%. Pada kuartal I 2026, Vietnam tumbuh 7,8% vs Indonesia 5,61%.
Jika tren ini berlanjut, narasi "tersalip" yang hari ini baru terjadi di pilar pendidikan akan menjadi kenyataan di skor total dalam 2-3 edisi mendatang. Inilah konflik dan dampak — dua nilai berita utama menurut GMU — yang membuat cerita ini layak menjadi headline.
Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?
Data menunjukkan akses pendidikan Indonesia meluas — coverage 90% populasi usia 15 tahun pada PISA 2025 — namun kualitas belum mengikuti. Perubahan skor sains 6 poin dan membaca 7 poin antara 2022-2025 dinilai OECD tidak signifikan secara statistik.
Vietnam memilih mereformasi PAUD dan SD terlebih dahulu sebelum investasi besar di perguruan tinggi. Pelajaran ini yang belum masuk dalam pemberitaan arus utama.
Indonesia memiliki modal sosial kuat — peringkat 4 dunia untuk integritas komunitas — namun modal itu perlu diterjemahkan menjadi investasi human capital yang terukur, bukan sekadar program peluncuran.
Artikel ini disusun berdasarkan prinsip GMU: semua informasi atribusi ke sumber primer, kutipan menggunakan kata "dikatakan", dan struktur piramida terbalik yang menempatkan fakta paling penting di awal tanpa kesimpulan formal.
Sumber Data Primer:
Legatum Prosperity Index ranking 2026, OECD Education GPS Vietnam dan Indonesia PISA 2025, Tagar.co, GoodStats, Fortune Indonesia, EDCOM 2 Philippines, World Bank, UNICEF.







0 Komentar
Trackback/Pingback