Sorotan Utama:
- Kemiskinan pembelajaran 53%: 53 persen anak di Indonesia tidak mencapai kompetensi minimum di akhir sekolah dasar, artinya tidak bisa membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun.
- Hanya 7,8 tahun efektif: Anak Indonesia diperkirakan menempuh 12,4 tahun sekolah tetapi hanya 7,8 tahun belajar efektif, dengan 8 tahun untuk anak perempuan dan 7,6 tahun untuk anak laki-laki.
- Kerugian global: Proyeksi kehilangan pembelajaran global telah mencapai 17 triliun dolar AS pendapatan seumur hidup atau setara 14% Produk Domestik Bruto global, dengan kemiskinan pembelajaran berpotensi naik dari 53% menjadi 70% pasca pandemi.
- Buta huruf fungsional: 55 persen anak usia 15 tahun buta huruf secara fungsional, dibandingkan kurang dari 10 persen di Vietnam, menjadi akar stagnasi PISA.
Bank Dunia merilis peringatan ekonomi makro dari sektor pendidikan pada laporan 2024-2025 di Jakarta, yang menunjukkan bahwa krisis pembelajaran di Indonesia mencapai 53% dan mengancam produktivitas menuju Indonesia Emas 2045.
Laporan ini memiliki nilai berita tinggi dari sisi dampak dan ketepatan waktu. Dampak karena menyangkut lebih dari 60 juta siswa yang terdampak penutupan sekolah dan masa depan angkatan kerja, ketepatan waktu karena dirilis bersamaan dengan hasil PISA 2025 yang stagnan, dan kedekatan karena dialami keluarga Indonesia di setiap provinsi.
Apa Itu Kemiskinan Pembelajaran dan Mengapa Indonesia 53%?
Kemiskinan pembelajaran adalah indikator Bank Dunia untuk menyoroti krisis pembelajaran. Kemiskinan pembelajaran diartikan sebagai ketidakmampuan anak membaca dan memahami teks sesuai usia pada usia 10 tahun.
Angka Indonesia tercatat tinggi. Laporan Bank Dunia mencatat 53 persen anak di Indonesia tidak mencapai kompetensi minimum di akhir sekolah dasar.
Posisi Indonesia sejajar dengan India dan Filipina. Dalam pemeringkatan, negara yang paling dekat dengan situasi Filipina adalah India dan Indonesia, yang masing-masing mencatat tingkat kemiskinan pembelajaran 53 persen.
Secara regional, kemiskinan pembelajaran di atas 50 persen terjadi di 14 dari 22 negara, termasuk Indonesia, Myanmar, Kamboja, Filipina, dan Laos, kata Bank Dunia. Sebagai pembanding, kemiskinan pembelajaran hanya 3 hingga 4 persen di Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.
Di level usia 15 tahun, dampaknya sudah terlihat pada PISA. Misalnya, 55 persen anak usia 15 tahun buta huruf secara fungsional, dibandingkan kurang dari 10 persen di Vietnam, kata Frederico Gil Sander, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia.
Tahun Belajar Efektif: 12 Tahun Sekolah Hanya Setara 7,8 Tahun
Indikator kedua yang lebih mengkhawatirkan secara ekonomi adalah Tahun Sekolah yang Disesuaikan dengan Pembelajaran.
Menurut Indeks Modal Manusia 2020, seorang anak di Indonesia bisa menyelesaikan 12,4 tahun sekolah tetapi hanya 7,8 tahun belajar, dengan tolak ukur skor PISA sebagai patokan.
Data rinci menyebut tahun belajar yang disesuaikan untuk anak Indonesia adalah 7,8 tahun, 8 tahun untuk anak perempuan dan 7,6 tahun untuk anak laki-laki, dibandingkan dengan 12,4 tahun mereka benar-benar berada di sekolah.
Artinya ada kehilangan 4,6 tahun belajar efektif per anak akibat kualitas pembelajaran, bukan akses. Tabel resmi Bank Dunia mencatat Tahun Sekolah yang Disesuaikan sebesar 7,6, 8, dan 7,8 tahun.
Kehilangan ini diperparah pandemi. Afkar dan Yarrow memperkirakan bahwa penutupan sekolah menurunkan 0,9 hingga 1,2 tahun belajar yang disesuaikan dan skor membaca PISA sebesar 25 hingga 35 poin. Pada skenario saat ini, tahun belajar yang disesuaikan diperkirakan turun dari 7,9 tahun menjadi 7,5 tahun.
Padahal lebih dari 60 juta siswa di Indonesia terdampak penutupan sekolah secara nasional.
Bom Waktu Ekonomi 2045: Dari Kelas ke Pasar Kerja
Mengapa ini menjadi isu ekonomi makro, bukan hanya pendidikan?
Bank Dunia menghitung bahwa proyeksi kehilangan pembelajaran global telah melampaui estimasi 2020 sebesar 10 triliun dolar, mencapai 17 triliun dolar pendapatan seumur hidup dalam nilai sekarang atau setara 14 persen Produk Domestik Bruto global saat ini, dan kemiskinan pembelajaran berpotensi naik menjadi 70% dari 53% sebelum pandemi.
Untuk Indonesia, dengan kohort usia sekolah sekitar 45 juta anak, kehilangan 4,6 tahun belajar efektif per anak setara dengan kehilangan produktivitas puluhan tahun kerja.
Jika rata-rata imbal hasil 1 tahun sekolah tambahan di Indonesia mencapai 10-11%, maka kehilangan 4,6 tahun berarti kehilangan potensi pendapatan 46% per individu selama masa kerja. Dengan upah rata-rata pekerja menengah yang sudah turun dari 14,5% pada 2018 menjadi 7% pada 2025, tekanan ganda terjadi.
Bank Dunia menyebut kondisi ini menunjukkan kelemahan mendasar dari segi kualitas pekerjaan, dengan pendapatan riil kelompok menengah merosot 1 hingga 2 persen setiap tahun sejak 2018.
Baca juga: Dari Rp23.821 Triliun ke Rp83,7 Juta: Kenapa Sekolah Adalah Kunci Menuju Negara Maju







0 Komentar