Analisis PISA 2025 Indonesia: Sains dan Literasi Naik, Mengapa Matematika Justru Turun?

Sep 14, 2026

PISA 2025 menjadi potret jujur pendidikan Indonesia. Di saat 91 negara mencatat penurunan skor dalam 25 tahun terakhir, Indonesia justru naik di sains dan literasi, tetapi turun di matematika. Dengan Coverage Index yang melonjak dari 0,46 menjadi 0,90 dan skor komputasional yang di atas ekspektasi, disparitas ini membuka perdebatan besar tentang keseimbangan Kurikulum Merdeka antara proyek holistik dan penguatan numerasi fundamental.

Sorotan Utama:

  • Skor Resmi OECD 8 September 2026: Sains naik 6 poin dari 383 menjadi 389, literasi membaca naik dari 359 menjadi 365, matematika turun tipis ke angka 364.
  • Akses Meluas Dua Kali Lipat: Coverage Index 0,46 pada 2003 menjadi 0,90 pada 2025, artinya hampir semua anak usia 15 tahun kini tetap berada di sistem pendidikan formal.
  • Konteks Global: OECD mencatat tren penurunan skor sains, membaca, dan matematika selama 25 tahun terakhir, sementara Indonesia relatif stabil bahkan naik.
  • Fakta Tersembunyi: Selisih skor antara 10 persen siswa tertinggi dan 10 persen terendah di Indonesia termasuk yang terkecil di dunia, dan pengaruh status sosial ekonomi terhadap sains hanya 8,6 persen.
  • Sinyal Bahaya Matematika: Rata-rata kompetensi matematika di Kurikulum Merdeka berkurang 28 persen dari Kurikulum 2013, sementara jam P5 mengurangi porsi latihan formal.
  • Keunggulan Baru: Siswa Indonesia unggul di rasa ingin tahu, kemandirian belajar, pemecahan masalah komputasional dengan skor 427, dan literasi penilaian konten AI.

JAKARTA - Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development pada 8 September 2026 menunjukkan capaian tidak merata bagi Indonesia. Dari 14.168 siswa di 419 sekolah yang mewakili 3,9 juta siswa usia 15 tahun, skor sains dan literasi membaca naik, namun skor matematika turun, memicu pertanyaan tentang apakah Kurikulum Merdeka sudah seimbang antara kecakapan hidup dan kompetensi kognitif fundamental.

Laporan ini disusun dengan merujuk pada kaidah penulisan berita yang menekankan akurasi data, kejelasan struktur, dan keberimbangan sumber. Fakta paling penting disajikan di awal, kemudian diikuti data pembanding, analisis penyebab dari berbagai sisi, dan implikasi kebijakan, agar pembaca memperoleh gambaran utuh tentang makna disparitas antarmata pelajaran di PISA 2025.

Metodologi PISA 2025: Fokus Sains dan Partisipasi Terbesar Sejarah

PISA 2025 diikuti 91 negara atau ekonomi dengan lebih dari 760 ribu murid sampel di seluruh dunia, yang menjadi partisipasi terbesar sejak asesmen internasional itu pertama kali diselenggarakan pada 2000. Fokus utama PISA 2025 adalah sains, selain membaca, matematika, dan asesmen baru computational problem solving.

Sejak 2018, Indonesia beralih sepenuhnya dari paper based test ke computer based test. Perubahan moda ini penting untuk memahami tren, karena asesmen kini lebih adaptif dan mengukur penalaran, bukan hafalan.

Potret Lengkap Skor Indonesia: 2022 vs 2025

Sains: Naik 6 Poin Menjadi 389

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat kenaikan pada dua domain utama PISA 2025, dengan literasi sains, yang menjadi fokus utama asesmen tahun ini, sebagai capaian tertinggi. Skor sains naik 6 poin, dari 383 pada PISA 2022 menjadi 389.

Menurut OECD Education GPS, rata-rata skor sains Indonesia 389 poin dengan rata-rata OECD 482 poin. Selisih gender -5 poin, artinya anak perempuan sedikit lebih tinggi dari laki-laki. Low performers di sains masih 63,2 persen, sementara top performers 0 persen. Namun perubahan 6 poin tersebut dinilai tidak signifikan secara statistik, yang artinya trennya positif tetapi belum kuat.

Literasi Membaca: Naik Menjadi 365

Skor membaca juga naik 6 poin, dari 359 menjadi 365. Data OECD menyebutkan reading performance averaged 365 PISA score points, dengan rata-rata OECD 461 poin. Perbedaan gender -24 poin, perempuan unggul lebih besar dibandingkan laki-laki. Perubahan 7 poin antara 2022 dan 2025 juga tidak signifikan secara statistik, tetapi konsisten naik.

Matematika: Turun ke 364

Sementara skor matematika Indonesia berada pada angka 364. OECD mencatat, dalam matematika, siswa berusia 15 tahun di Indonesia memperoleh rata-rata skor PISA 364 poin, dengan rata-rata OECD 463 poin. Selisih gender -6 poin dan perubahan -2 poin antara 2022 dan 2025, juga tidak signifikan secara statistik.

Secara peringkat, Indonesia berada di peringkat 73 dari 91 negara untuk sains dan 74 dari 90 negara untuk membaca. Penurunan 2 poin di matematika memang tipis, tetapi maknanya besar karena terjadi saat dua domain lain naik.

Domain Baru yang Jarang Dibahas Media Lain

Ada dua domain baru yang menjadi keunggulan tersembunyi Indonesia. Siswa di Indonesia memperoleh rata-rata 427 poin skor PISA dalam pemecahan masalah komputasi, dengan 59,1 persen siswa berkinerja lebih baik dari ekspektasi berdasarkan kinerja sains mereka. Artinya, kemampuan berpikir komputasional siswa Indonesia relatif lebih baik dibandingkan kemampuan sains konvensional.

Kedua, kinerja ilmu lingkungan memperoleh rata-rata 393 poin skor PISA, dengan 29 persen siswa mencapai kemahiran dasar, sedikit di atas rata-rata OECD. Siswa Indonesia juga melaporkan tingkat keingintahuan yang tinggi dan kemampuan belajar mandiri.

Di Balik Angka: Coverage Index 0,90 dan Ekuitas yang Lebih Baik

Temuan yang paling sering terlewat oleh pemberitaan lain adalah Coverage Index. Pada keikutsertaan pertama PISA 2003, Coverage Index Indonesia baru 0,46. Pada PISA 2025, angka ini melonjak hampir dua kali lipat menjadi 0,90.

Artinya, kenaikan skor terjadi bukan karena sampel yang lebih selektif, melainkan justru saat sistem pendidikan menampung hampir dua kali lipat lebih banyak anak usia 15 tahun, termasuk mereka yang sebelumnya putus sekolah. Ini adalah bukti perluasan akses yang signifikan.

Dari sisi kesetaraan, data OECD menunjukkan status sosial ekonomi menyumbang 8,6 persen dari variasi kinerja sains di Indonesia, dengan rata-rata OECD 11,6 persen. Kesenjangan kinerja sains antara kuartil atas dan bawah status sosial ekonomi hanya 47 poin, jauh di bawah rata-rata OECD 84 poin.

Lebih jauh lagi, selisih nilai sains antara 10 persen siswa dengan nilai tertinggi dan 10 persen siswa dengan nilai terendah merupakan salah satu yang terkecil di antara negara-negara peserta PISA. Pola yang sama terjadi di matematika. Artinya, ketimpangan mutu antar siswa di Indonesia termasuk yang paling kecil di dunia, meskipun rata-rata masih rendah.

Mengapa Matematika Turun? Analisis 5 Faktor Kunci

1. Pengurangan 28 Persen Kompetensi Matematika di Kurikulum Merdeka

Data kajian kurikulum menunjukkan rata-rata jumlah kompetensi Kurikulum Merdeka untuk mata pelajaran Matematika mengalami pengurangan 28 persen dari rata-rata jumlah KD Kurikulum 2013. Untuk perbandingan, Bahasa Indonesia berkurang 57 persen dan Sains berkurang 19 persen.

Jika pada kurikulum 2013 terdapat dua bagian pelajaran matematika, yaitu matematika wajib dan matematika peminatan untuk program MIPA, maka pada Kurikulum Merdeka hanya ada satu pelajaran matematika dan tidak ada penjurusan MIPA dan IPS. Materi menjadi lebih esensial, tetapi latihan berjenjang yang menjadi ciri matematika ikut terpangkas.

2. Dominasi P5 yang Mengurangi Latihan Formal

P5 atau Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk penguatan karakter, kolaborasi, dan pemecahan masalah kontekstual. Evaluasi implementasi di SMA menunjukkan tidak ada pengaruh pembelajaran P5 pada pelajaran matematika ditinjau dari kepercayaan diri, bahkan korelasinya negatif dan lemah.

Di lapangan, banyak sekolah mengalokasikan 20 hingga 30 persen jam intrakurikuler untuk P5. Sains yang bersifat proyek dan eksperimen diuntungkan, sedangkan matematika yang membutuhkan latihan yang disengaja dan berulang-ulang secara terstruktur kehilangan jam latihan soal formal.

3. Kompetensi Guru dan Pembelajaran Berdiferensiasi yang Belum Merata

Hambatan lain yang dialami guru selama menerapkan kurikulum merdeka pada pembelajaran matematika adalah kurangnya inovasi dalam proses pembelajaran dan terkendala pada pengorganisasian kelas karena asesmen awal yang kurang jelas. Tidak semua guru siap melakukan pembelajaran berdiferensiasi untuk numerasi.

Padahal, PISA 2025 mengukur penalaran, bukan prosedur. Tanpa inovasi, siswa hanya menghafal rumus tanpa memahami kapan menggunakannya.

4. Beban Guru, Bullying, dan Growth Mindset yang Masih Rendah

Rilis PISA 2025 juga mencatat isu non-kognitif. Skor PISA Sains dan Literasi Siswa di RI Naik, tapi Growth Mindset Rendah. Perhimpunan Pendidikan dan Guru mengingatkan masih ada masalah bullying dan beban guru yang tinggi. Data OECD menunjukkan meskipun 84,6 persen siswa suka belajar hal baru dan 79,4 persen menyelesaikan apa yang dimulai, skor cognitive adaptability masih -0,07, sedikit di bawah rata-rata.

Kecemasan matematika dan kemandirian belajar yang rendah juga masih menjadi faktor yang membuat hasil belajar matematika berkurang, terutama di jenjang SMP yang menjadi fondasi PISA.

5. Tren Global OECD yang Juga Menurun

Penurunan matematika Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks global. Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa Indonesia relatif stabil. OECD sendiri mencatat rata-rata membaca turun dari 489 poin pada 2015 menjadi 461 pada 2025, matematika dari 485 menjadi 463, dan sains dari 489 menjadi 482. Antara 2022 dan 2025 saja, membaca turun 14 poin dan matematika turun 9 poin.

Jadi penurunan 2 poin Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan penurunan 9 poin rata-rata OECD.

2026091403 skor pisa global menurun
Sumber: statista.com

Mengapa Sains dan Literasi Justru Naik?

Kenaikan sains dan literasi bukan kebetulan. Kurikulum Merdeka yang mengurangi 19 persen kompetensi sains justru memberikan ruang untuk pembelajaran mendalam berbasis inkuiri. Siswa lebih sering melakukan percobaan sederhana, literasi sains kontekstual, dan penilaian kredibilitas informasi.

Untuk literasi, gerakan literasi sekolah, perpustakaan keliling, dan penguatan literasi di semua mata pelajaran memberikan dampak. Kemampuan membaca Indonesia naik di saat negara OECD lain turun 14 poin, menunjukkan efektivitas strategi literasi.

Selain itu, murid Indonesia lebih sering terlibat dalam pembelajaran yang mengajarkan cara menilai kredibilitas konten yang dihasilkan kecerdasan artifisial dibandingkan murid di banyak negara lain, dengan 73,2 persen siswa melaporkan belajar menilai informasi hasil AI di kelas. Ini adalah keterampilan literasi baru yang diukur PISA 2025.

Disparitas Antarmata Pelajaran: Implikasi Kurikulum dan Metode Mengajar

Disparitas ini memperkuat perdebatan lama, apakah Kurikulum Merdeka sudah seimbang. Temuan PISA 2025 menunjukkan perlunya penyeimbangan ulang. Sains dan literasi bisa tetap dengan pendekatan proyek, tetapi matematika membutuhkan jalur khusus. Konsep seperti Mathpreneur, yaitu modul ajar yang mengintegrasikan matematika dengan kewirausahaan dalam P5, perlu diperluas agar numerasi tetap terasah dalam konteks proyek.

Implikasi untuk metode mengajar, guru perlu kembali ke pembelajaran eksplisit untuk fondasi numerasi, dilanjutkan dengan problem based learning. Tanpa penguatan fakta dan prosedur, penalaran tingkat tinggi PISA tidak akan tercapai.

Implikasi untuk asesmen, Kemendikdasmen menetapkan strategi mengharmoniskan kerangka Asesmen Nasional dan Tes Kemampuan Akademik dengan kompetensi bernalar yang menjadi bagian penting dalam kerangka PISA.

Kesimpulan: Momentum Memperbaiki Numerasi Tanpa Mengorbankan Literasi

PISA 2025 memberikan pesan yang jelas. Perluasan akses hingga 90 persen tanpa penurunan mutu adalah prestasi. Kenaikan sains dan literasi di tengah penurunan global adalah modal. Namun penurunan matematika adalah alarm.

Indonesia tidak kekurangan rasa ingin tahu. Sebanyak 85 persen siswa merasa memiliki di sekolah dan 89,6 persen mudah berteman. Modal sosial ini harus diubah menjadi modal kognitif, terutama numerasi.

Jika literasi dan sains bisa naik karena pembelajaran yang kontekstual, maka matematika pun bisa naik jika diberi ruang yang sama, bukan dengan menambah jam, tetapi dengan mengintegrasikan penalaran matematis ke dalam setiap proyek P5.

Ingin terus mendapatkan update seputar dunia pendidikan dari kami? Ayo gabung ke Saluran WhatsApp Info Pendidikan BIC

Logo BIC Circle s512

Admin BIC

(Tim Konten Pendidikan)

Tentang Penulis:

Admin BIC adalah tim pengelola konten di bawah naungan Bimbingan Belajar Indonesia Cerdas (BIC). Dengan latar belakang pengalaman lebih dari 10 tahun di dunia pendidikan, Admin BIC terdiri dari para tutor, konsultan pendidikan, dan spesialis konten digital yang berkomitmen menyediakan informasi akurat, praktis, dan bermanfaat bagi siswa, orang tua, maupun pencari kerja.

iklan

Bimbel TKA SMA 2026

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

Bimbel TKA SD-SMP 2027

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *