YOGYAKARTA, INFOPENDIDIKAN.BIC.ID — Peta kualitas pendidikan Indonesia kembali terungkap secara transparan di awal tahun ini. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja merilis data lengkap hasil TKA 2025. Hasilnya menyajikan dua wajah kontradiktif: dominasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang semakin kokoh sebagai kiblat pendidikan, bersanding dengan realitas suram kemampuan matematika siswa secara nasional.
Laporan ini menjadi "lampu kuning" bagi pemangku kebijakan. Ketika satu provinsi berhasil membangun benteng akademis yang kuat, mayoritas wilayah lain justru sedang berjuang keras hanya untuk melewati ambang batas kompetensi dasar.
Hegemoni Pendidikan DIY: Kemenangan Literasi dan Numerasi
Di tengah fluktuasi mutu pendidikan daerah, DIY kembali membuktikan diri sebagai anomali positif. Data TKA 2025 menempatkan provinsi ini di peringkat pertama nasional untuk dua indikator paling fundamental: Bahasa Indonesia (Literasi) dan Matematika (Numerasi).
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Suhirman, menyambut data ini dengan rasa syukur yang terukur.
"Kami bersyukur atas capaian ini. Ini adalah bukti bahwa fokus kami pada penguatan proses pembelajaran di kelas, bukan sekadar administrasi, membuahkan hasil," ujarnya saat dihubungi Jumat (2/1/2026).
Statistik menunjukkan keunggulan DIY yang signifikan:
- Bahasa Indonesia: DIY mencatatkan skor rerata 65,89. Angka ini jauh meninggalkan DKI Jakarta (63,39) dan Jawa Tengah (61,56). Skor ini mengindikasikan bahwa siswa di Yogyakarta memiliki kemampuan membaca, memahami, dan menganalisis teks yang jauh lebih baik daripada rekan-rekan mereka di provinsi lain.
- Matematika: Inilah pencapaian yang paling disorot. DIY meraih skor 43,09. Meskipun secara absolut angka ini belum sempurna (skala 0-100), dalam konteks nasional, ini adalah skor tertinggi. DIY menjadi satu dari hanya dua provinsi—bersama DKI Jakarta (40,18)—yang mampu menembus skor psikologis 40.
Namun, Suhirman tidak menutup mata terhadap celah yang ada. Pada mata pelajaran Bahasa Inggris, DIY mencatatkan skor 30,00, masih tertinggal dari DKI Jakarta yang mencapai 33,23. "Ini menjadi catatan evaluasi kami untuk mengejar ketertinggalan eksposur global siswa kami," tambahnya.
Hasil TKA 2025: Rerata Matematika Hancur di Angka 36
Jika DIY adalah wajah optimisme, maka data nasional adalah cermin realitas yang pahit. Secara agregat, kemampuan numerasi siswa Indonesia berada dalam kondisi kritis. Rerata nasional untuk mata pelajaran Matematika pada TKA 2025 terjerembab di angka 36,10.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan jutaan siswa SMA/SMK yang gagal memahami logika dasar matematika. Para pakar pendidikan menyebut ini sebagai indikasi kegagalan sistemik dalam mengajarkan "logika", bukan sekadar "rumus". Matematika masih dianggap sebagai momok yang menakutkan, abstrak, dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Perbandingan Skor Matematika TKA 2025 (Top 5 Provinsi vs Rerata Nasional):
| Peringkat | Provinsi | Skor Rerata Matematika | Status |
| 1 | DI Yogyakarta | 43,09 | Tertinggi |
| 2 | DKI Jakarta | 40,18 | Di atas 40 |
| 3 | Jawa Tengah | 39,16 | Kompetitif |
| 4 | Sumatera Utara | 38,53 | Unggul Luar Jawa |
| 5 | Jawa Timur | 38,15 | Stabil |
| - | Nasional | 36,10 | Kritis |
Sumber Data: Kemendikdasmen & Medcom.id
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, tidak menampik fakta ini. Dalam keterangannya, ia menyebut hasil matematika tahun ini "jeblok". Namun, ia menolak narasi yang menyalahkan siswa atau guru semata.
"Masalahnya bukan pada muridnya yang tidak pintar, tapi metode kita yang mungkin belum membuat mereka jatuh cinta pada angka," ujar Mu'ti. Ia berjanji akan merombak pendekatan buku ajar STEM (Science, Technology, Engineering, Math) agar lebih relevan dan tidak mengintimidasi.
Selengkapnya: Hasil TKA
Analisis Pakar: Mengapa Kita Sulit Berhitung?
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menilai skor 36,10 adalah bukti stagnasi. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menyebut bahwa transformasi kurikulum yang dilakukan beberapa tahun terakhir belum menyentuh akar masalah di ruang kelas.
"Guru masih terbebani administrasi, sehingga pengajaran matematika kembali ke metode ceramah dan hafalan rumus. Padahal, TKA menguji nalar dan pemecahan masalah (problem solving). Ada gap besar antara apa yang diajarkan dengan apa yang diujikan," jelasnya.
Selain itu, kesenjangan infrastruktur digital juga berpengaruh. Siswa di Jawa mungkin terbiasa dengan soal-soal berbasis komputer yang adaptif, sementara siswa di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) masih bergulat dengan akses dasar, membuat mereka gagap saat menghadapi format soal TKA yang kompleks.
Dampak Jangka Panjang
Hasil TKA 2025 ini bukan tanpa konsekuensi. Bagi siswa kelas 12, skor ini adalah modal awal untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) masuk Perguruan Tinggi Negeri. Siswa dari provinsi dengan rerata tinggi seperti DIY dan Jakarta tentu memiliki keunggulan kompetitif dalam algoritma seleksi.
Secara makro, "krisis numerasi" ini mengancam ambisi Indonesia Emas 2045. Tanpa perbaikan radikal dalam kemampuan matematika dan sains, bonus demografi Indonesia berisiko hanya menjadi populasi konsumen teknologi, bukan pencipta inovasi.
Tahun 2026 harus menjadi titik balik. "Darurat Numerasi" tidak bisa lagi diselesaikan dengan seminar atau ganti istilah kurikulum, melainkan intervensi nyata pada cara guru mengajar dan cara siswa berpikir.




0 Comments