Infopendidikan.bic.id — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang Sekolah Dasar tahun 2026 resmi dimulai hari ini, Minggu, 20 April, dan akan berlangsung hingga 30 April mendatang. Tes berskala nasional ini digelar serentak di seluruh Indonesia dalam empat gelombang ujian.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan TKA dirancang bukan sebagai penentu absolut kelulusan siswa. Tes ini merupakan instrumen pemetaan kemampuan akademis yang menitikberatkan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui pengujian literasi dan numerasi. "Menjelang pelaksanaan TKA (Tes Kompetensi Akademik) SD 2026 yang akan berlangsung pada 20–30 April, wajar jika orang tua merasa cemas. Namun, perlu diingat bahwa tes ini dirancang bukan untuk membebani siswa, melainkan sebagai instrumen pemetaan kemampuan dasar dan salah satu parameter dalam proses transisi menuju jenjang SMP".
Jadwal dan mekanisme yang ditetapkan
Berdasarkan panduan resmi, pelaksanaan TKA SD akan diadakan pada 20-30 April 2026. "Berdasarkan panduan tersebut, pelaksanaan TKA SMP akan berlangsung pada 6-16 April 2026, sementara TKA SD akan diadakan pada 20-30 April 2026".
Setiap pelaksanaan dibagi dalam empat gelombang, dan setiap gelombang terdiri atas empat sesi, sehingga totalnya 16 sesi ujian. "Setiap pelaksanaaan TKA SD dan SMP akan diadakan dalam empat gelombang ujian. Pada setiap gelombang akan terdapat empat sesi ujian, sehingga jumlah keseluruhan sesinya adalah 16 sesi ujian".
Untuk menjaga integritas, satuan pendidikan nonformal melaksanakan satu gelombang yang diawasi silang. "Satuan pendidikan nonformal melaksanakan 1 gelombang ujian yang terdiri dari 4 sesi. Pengawasan akan dilakukan oleh pengawas silang dari satuan pendidikan lain dan diawasi oleh Kemendikdasmen melalui konferensi Zoom".
Materi yang diujikan
Berbeda dengan ujian nasional era sebelumnya, TKA SD hanya menguji dua mata ujian tanpa pilihan. "Materi TKA SD dan SMP hanya terdiri atas dua mata ujian tanpa mata pelajaran pilihan, yaitu: Matematika dan Bahasa Indonesia".
Pada hari pertama, siswa mengerjakan Matematika dan Numerasi sebanyak 30 soal dalam waktu 75 menit, didahului latihan 10 menit. Setelah itu dilanjutkan Survei Karakter selama 20 menit. "Matematika dan Numerasi: 30 soal dikerjakan dalam waktu 75 menit" dan "Survei Karakter: 20 menit".
Hari kedua berisi Bahasa Indonesia dan literasi dengan format sama: 30 soal, 75 menit, plus latihan 10 menit, ditutup Survei Lingkungan Belajar selama 20 menit. "Bahasa Indonesia dan literasi: 30 soal dikerjakan dalam waktu 75 menit" dan "Survei Sulingjar: 20 menit".
Bukan ujian kelulusan
Penegasan paling penting dari Kemendikdasmen adalah posisi TKA dalam ekosistem asesmen. Tes ini tidak menggantikan penilaian guru di kelas, tidak menentukan naik kelas, dan tidak menjadi syarat tunggal masuk SMP.
Fungsinya adalah diagnostik. Hasil TKA akan dipetakan untuk melihat sebaran kemampuan literasi dan numerasi secara nasional, sekaligus memberi umpan balik kepada sekolah tentang kekuatan dan kelemahan pembelajaran. Dengan begitu, intervensi bisa dilakukan lebih awal sebelum siswa memasuki jenjang menengah.
Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan Asesmen Nasional yang menempatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi di atas hafalan. Soal-soal TKA dirancang kontekstual, mengajak siswa membaca infografik, menafsir data sederhana, dan menyelesaikan masalah sehari-hari.
Rangkaian panjang menuju hari H
Pelaksanaan hari ini bukan pekerjaan mendadak. Pendaftaran peserta telah dibuka sejak 19 Januari hingga 28 Februari 2026, diikuti simulasi pada 2–8 Maret dan gladi bersih 9–17 Maret. "Pendaftaran: 19 Januari – 28 Februari 2026" , "Simulasi TKA SD: 2 – 8 Maret 2026", "Gladi bersih TKA SD: 9-17 Maret 2026".
Setelah pelaksanaan utama 20-30 April, masih ada ujian susulan pada 11–17 Mei bagi siswa yang berhalangan karena sakit atau bencana. "Pelaksanaan TKA susulan SD: 11-17 Mei 2026". Pengolahan hasil dijadwalkan 18–23 Mei dan pengumuman resmi pada 24 Mei. "Pengolahan hasil TKA SD: 18-23 Mei 2026" dan "Pengumuman hasil TKA SD: 24 Mei 2026".
Konteks Penting di Balik Pelaksanaan Serentak
Pelaksanaan serentak dalam rentang sepuluh hari di lebih dari 140 ribu SD negeri dan swasta bukan perkara teknis semata. Ada tiga hal yang membuat TKA 2026 berbeda dari asesmen sebelumnya.
Pertama, TKA hadir di tengah transisi kurikulum. Sejak 2025, sekolah didorong menerapkan pembelajaran mendalam dan mulai mengenalkan coding serta AI sebagai mata pelajaran pilihan di kelas 5. Artinya, siswa yang hari ini mengerjakan soal numerasi adalah generasi pertama yang belajar dengan perangkat digital di kelas. Hasil TKA akan menjadi baseline untuk mengukur apakah integrasi teknologi benar-benar meningkatkan literasi, atau justru melebar jurang digital.
Kedua, TKA menguji bukan hanya kognitif tetapi juga karakter dan iklim belajar. Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar yang menyertai tiap hari ujian akan memberi potret non-akademik: ketangguhan, empati, dan rasa aman di sekolah. Data ini penting karena banyak sekolah fokus mengejar skor tanpa memperhatikan kesejahteraan siswa. Dengan menggabungkan keduanya, Kemendikdasmen berharap sekolah tidak lagi mengajar untuk tes.
Ketiga, desain empat gelombang dengan pengawasan silang melalui Zoom menunjukkan perubahan tata kelola. Pengawasan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kehadiran fisik pengawas, melainkan sistem berlapis yang melibatkan satuan pendidikan lain. Ini mengurangi beban biaya perjalanan sekaligus meningkatkan transparansi, meski menuntut kesiapan jaringan internet di daerah 3T.
Apa yang belum diumumkan secara rinci
Meski jadwal sudah jelas, beberapa hal masih ditunggu publik. Hingga pagi ini, belum ada rincian resmi tentang bagaimana hasil TKA akan digunakan dalam proses penerimaan peserta didik baru SMP, terutama di daerah yang masih menggunakan sistem zonasi ketat. Apakah skor TKA akan menjadi bobot tambahan, atau hanya sebagai data pemetaan internal?
Belum ada pula penjelasan terbuka tentang tindak lanjut bagi sekolah dengan capaian literasi di bawah ambang nasional. Apakah akan ada intervensi berupa pelatihan guru, tambahan jam literasi, atau distribusi buku bacaan? Tanpa tindak lanjut yang jelas, TKA berisiko menjadi potret tanpa bingkai.
Orang tua juga menunggu kepastian tentang akses hasil individu. Apakah rapor TKA akan diberikan dalam bentuk narasi deskriptif yang mudah dipahami, atau sekadar angka persentil yang membingungkan? Pengalaman Asesmen Nasional sebelumnya menunjukkan banyak orang tua tidak memahami cara membaca hasil.
Suasana di lapangan
Di SDN Menteng 01 Jakarta, pelaksanaan sesi pertama dimulai pukul 07.00 WIB. Siswa masuk dengan kartu peserta dan mengerjakan latihan 10 menit sebelum soal utama. Guru pendamping tidak diperkenankan menjelaskan soal, hanya memastikan perangkat berfungsi.
Di SDN Inpres Oebufu Kupang, sekolah memilih sesi III pukul 11.30 WITA karena keterbatasan perangkat. Mereka menggunakan skema bergilir dengan pengawasan silang dari SD tetangga melalui Zoom, sesuai panduan.
Kondisi ini menggambarkan fleksibilitas desain TKA. Dengan empat sesi per hari — pukul 07.00, 09.15, 11.30, dan 13.45 WIB — sekolah dapat menyesuaikan dengan jumlah komputer dan daya listrik.
Dampak yang diharapkan
Kemendikdasmen berharap TKA menjadi cermin, bukan palu. Dengan memetakan kemampuan literasi dan numerasi sejak SD, pemerintah dapat merancang intervensi lebih dini, bukan menunggu siswa tertinggal di SMP.
Bagi guru, hasil TKA diharapkan menjadi bahan refleksi pembelajaran. Jika mayoritas siswa gagal menafsir grafik sederhana, maka pendekatan pengajaran matematika perlu diubah dari prosedural ke kontekstual.
Bagi orang tua, pesan utamanya adalah menurunkan kecemasan. Karena TKA bukan penentu kelulusan, persiapan terbaik bukan bimbingan belajar intensif seminggu terakhir, melainkan kebiasaan membaca dan berdiskusi di rumah sepanjang tahun.
Menuju budaya asesmen yang sehat
Pelaksanaan TKA 20-30 April 2026 menandai langkah lanjutan dari transformasi evaluasi pendidikan nasional. Setelah menghapus ujian nasional berisiko tinggi, pemerintah menggantinya dengan asesmen yang lebih rendah tekanan tetapi lebih kaya informasi.
Tantangan terbesarnya bukan pada soal, melainkan pada cara hasil digunakan. Jika kepala daerah menjadikan skor TKA sebagai alat pemeringkatan sekolah, maka tujuan pemetaan akan berbelok menjadi kompetisi. Jika guru menggunakan hasil untuk melabeli siswa "lambat", maka semangat diagnostik akan hilang.
Karena itu, sepuluh hari ke depan bukan hanya tentang 30 soal matematika dan 30 soal bahasa Indonesia. Ini tentang membangun budaya baru: bahwa mengukur kemampuan bukan untuk menghukum, melainkan untuk memahami, dan bahwa data terbaik adalah data yang membuat guru mengajar lebih baik besok pagi.
Hasilnya akan diumumkan 24 Mei. Apapun angkanya, yang paling penting adalah apa yang dilakukan sekolah setelah itu.




0 Comments