Pak Herman tidak sedang memegang kapur tulis hari ini. Kemeja batiknya yang biasa rapi kini berganti kaus lusuh penuh bercak tanah. Di tangannya, sebuah sekop besar menghantam gumpalan lumpur yang mengeras di lantai kelas SDN 2 Kota Langsa, Aceh. Napasnya memburu. Sudah tiga hari ia dan puluhan relawan berjibaku mengeruk sisa banjir bandang yang merendam sekolah mereka hingga setinggi dada orang dewasa.
"Buku-buku di perpustakaan habis semua, jadi bubur kertas," ujarnya sembari menyeka keringat di dahi. Ia menatap dinding kelas yang menyisakan garis cokelat batas air, saksi bisu terjangan bencana pekan lalu. "Tapi Januari nanti anak-anak harus sekolah. Tidak mungkin mereka belajar di atas lumpur."
Semangat Pak Herman adalah potret mikrokosmos dari upaya raksasa yang sedang berlangsung di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemerintah pusat telah memancangkan target ambisius: Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka harus pulih total pada Januari 2026. Tidak ada tawar-menawar. Lonceng sekolah harus kembali berbunyi nyaring, menandakan kehidupan telah kembali normal.
Balapan Melawan Waktu
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, sadar betul bahwa setiap hari sekolah tutup, risiko learning loss dan trauma psikososial pada anak akan semakin dalam. Data di mejanya menunjukkan progres yang menggembirakan namun belum merata.
Di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, pemulihan fisik sekolah telah menyentuh angka 90 persen. Ruang-ruang kelas sudah mulai kering, bangku-bangku telah dijemur, dan atap yang bocor mulai ditambal. Namun, Aceh menyajikan tantangan berbeda. Kerusakan infrastruktur yang masif membuat tingkat kesiapan sekolah di Serambi Mekkah baru mencapai 65 persen.

Peta di atas memperlihatkan konsentrasi wilayah yang membutuhkan intervensi ekstra. Di zona merah seperti Aceh Tamiang, sekolah bukan hanya kotor, tapi rusak secara struktural. Dinding retak dan pondasi yang tergerus air membuat banyak ruang kelas belum aman untuk digunakan. Pemerintah pun berpacu dengan waktu, mengerahkan alat berat dan ribuan personel gabungan TNI-Polri untuk memastikan target Januari tidak meleset.
Dahaga di Tengah Banjir
Tantangan pemulihan bukan hanya soal bangunan fisik. Di pengungsian dan sekolah-sekolah darurat, masalah sanitasi menjadi bom waktu. Ironis memang, di tengah banjir air, air bersih justru langka. Sumber air tanah tercemar bakteri E. coli dan lumpur pekat, mengancam kesehatan ribuan siswa yang bertahan di tenda-tenda darurat.
Di sinilah teknologi mengambil peran vital. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tidak mengirimkan selimut atau mi instan, melainkan truk-truk tangki canggih bernama Arsinum (Air Siap Minum).
Mesin ini bekerja dalam diam di sudut-sudut pengungsian Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah. Dengan teknologi filtrasi membran keramik dan ultraviolet, Arsinum menyedot air banjir yang keruh, memisahkannya dari partikel berbahaya, dan memuntahkannya kembali sebagai air bening yang siap teguk. Tanpa perlu dimasak.
"Rasanya segar, tidak bau tanah," kata Rina, siswi kelas 5 SD yang kini tinggal di tenda pengungsian. Bagi Rina dan teman-temannya, tegukan air bersih dari Arsinum adalah jaminan bahwa mereka tidak akan sakit perut sebelum hari pertama sekolah tiba.
Kehadiran Negara di Ruang Guru
Pemulihan sekolah tidak akan lengkap tanpa memulihkan jiwa para pendidiknya. Guru-guru seperti Pak Herman juga korban. Rumah mereka terendam, harta benda hanyut, namun mereka tetap datang ke sekolah setiap pagi untuk memastikan anak didik mereka punya tempat untuk kembali.
Memahami beban ganda ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyuntikkan dukungan moral yang konkret. Tunjangan khusus sebesar Rp 2 juta per orang mulai disalurkan kepada 16.500 guru terdampak bencana. Dana ini diambil dari revisi anggaran 2025 senilai Rp 35 miliar.
Bagi para guru, nilai nominal itu mungkin tidak bisa mengganti seluruh kerugian materi. Namun, pesan di baliknya jauh lebih mahal: negara hadir dan tidak membiarkan mereka berjuang sendirian.
Januari 2026 tinggal menghitung hari. Di SDN 2 Kota Langsa, lantai kelas kini sudah mulai terlihat warna aslinya. Meski bau lembab masih samar tercium, Pak Herman tersenyum. Ia membayangkan riuh rendah suara anak-anak yang akan segera memenuhi ruangan itu, menggantikan sepi yang dibawa bencana. Pendidikan, bagaimanapun caranya, harus tetap jalan terus.




0 Comments