926 Sekolah di Kalsel Rusak Akibat Banjir, Penanganan Darurat Diprioritaskan

926 Sekolah di Kalsel Rusak Akibat Banjir, Penanganan Darurat Diprioritaskan

Oleh: Tim Redaksi

Info Pendidikan BIC, 15 Januari 2026 – Dampak banjir besar yang melanda sebagian wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) ternyata sangat memukul sektor pendidikan. Data terkini yang dirilis oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel mencatat sebanyak 926 satuan pendidikan, mulai dari tingkat TK hingga SMA/SMK, mengalami kerusakan infrastruktur akibat genangan air. Pemerintah daerah pun langsung menetapkan seluruh sekolah terdampak sebagai prioritas utama penanganan darurat.

Kondisi ini menjadi fokus utama penyelenggara pendidikan setelah banjir surut, guna memastikan bahwa proses Belajar Mengajar (KBM) dapat segera normal kembali. Kerusakan yang terjadi bervariasi, mulai dari perabot kelas yang hanyut, dinding yang jebol, hingga buku-buku pelajaran yang tidak bisa digunakan lagi.

Pemetaan Kerusakan dan Kategori Penanganan

Tim percepatan penanganan bencana pendidikan yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Kalsel saat ini tengah melakukan verifikasi lapangan yang masif. Dari total 926 sekolah terdampak, sebagian besar berada di wilayah rawan banjir yang rutin terendam setiap tahun.

Berdasarkan hasil survei awal, kerusakan dikategorikan menjadi tiga tingkat. Pertama, kerusakan ringan yang meliputi kotoran lumpur dan kerusakan perabot ringan. Kedua, kerusakan sedang seperti atap bocor atau plafon jebol. Ketiga, kerusakan berat di mana struktur bangunan ambrol atau terendam air dalam waktu lama sehingga membahayakan jika digunakan.

"Prioritas kami saat ini adalah membersihkan lumpur dan memperbaiki sanitasi agar sekolah layak pakai. Untuk sekolah yang rusak berat, kami akan menerapkan sistem merger atau menggunakan gedung sekolah terdekat yang aman sambil menunggu perbaikan," ujar Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel dalam keterangan persnya, Rabu (15/1).

Dampak banjir tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga mengganggu kelancaran administrasi pendidikan. Banyak dokumen penting siswa dan guru yang basah terendam air, memaksa pihak sekolah untuk melakukan rekapitulasi ulang data secara cepat.

Antisipasi Learning Loss dan Trauma Siswa

Salah satu konsekuensi terbesar dari bencana banjir ini adalah terhentinya KBM yang berpotensi menyebabkan learning loss atau hilangnya masa belajar bagi siswa. Untuk mengantisipasi hal ini, Dinas Pendidikan Kalsel mengimbau seluruh sekolah untuk tetap melakukan interaksi belajar meskipun gedung sekolah belum bisa dipakai.

Metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau learning from home diaktifkan kembali sementara waktu bagi daerah yang masih sulit dijangkau. Namun, bagi daerah yang jaringan internetnya terputus, guru diharapkan melakukan kunjungan rumah belajar atau menggunakan masjid/balai desa sebagai ruang kelas darurat.

Selain aspek akademik, aspek psikologis siswa juga menjadi perhatian. Pengalaman mengungsi dan kehilangan barang bawaan di sekolah berpotensi menimbulkan trauma. Konselor sekolah diminta untuk aktif melakukan trauma healing agar siswa siap kembali ke rutinitas belajar.

Integrasi dengan Program Revitalisasi Nasional

Penanganan 926 sekolah rusak di Kalsel ini sejalan dengan komitmen nasional terkait program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebelumnya telah menyatakan bahwa sekolah di wilayah bencana menjadi prioritas penerima bantuan perbaikan pada 2026.

Data yang dikumpulkan dari lapangan ini akan diintegrasikan ke dalam pusat data nasional agar segera mendapatkan anggaran perbaikan dari APBN maupun APBD. Pemerintah menargetkan tidak ada lagi sekolah yang kondisinya memprihatinkan, terutama akibat bencana, tanpa adanya tindak lanjut perbaikan.

Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya peta zonasi risiko bencana dalam perencanaan pembangunan sekolah baru ke depan. Langkah ini diambil untuk mencegah agar peristiwa kerusakan sekolah akibat banjir tidak terulang setiap tahun secara berulang-ulang.

Masa Sanggah Kuota SNBP 2026 Berakhir: Validasi TKA Diperketat

Masa Sanggah Kuota SNBP 2026 Berakhir: Validasi TKA Diperketat

Oleh: Tim Redaksi

Info Pendidikan BIC, 15 Januari 2026 – Tenggat waktu kritikal bagi sekolah-sekolah di Indonesia telah tiba. Rabu, 15 Januari 2026, menandai berakhirnya masa sanggah kuota SNBP 2026. Panitia Pusat SNBP menegaskan bahwa tidak ada lagi perpanjangan waktu bagi sekolah yang ingin mengajukan keberatan atau koreksi terhadap alokasi kuota peserta yang telah ditetapkan.

Tahun ini, seleksi jalur prestasi mengalami pembaruan signifikan. Selain berakhirnya masa sanggah kuota hari ini, Komite Seleksi Nasional (KSN) menerapkan protokol validasi yang jauh lebih ketat terkait nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA). Langkah ini ditempuh guna menjaga integritas seleksi dan memastikan bahwa prestasi akademik yang dilaporkan benar-benar mencerminkan kompetensi siswa.

Detik Terakhir Perbaikan Data Kuota

Masa sanggah kuota merupakan fase penting di mana sekolah dapat memverifikasi jumlah siswa yang mereka usulkan untuk mendaftar melalui jalur SNBP. SNBP, yang sebelumnya dikenal sebagai SNMPTN, merupakan jalur seleksi berdasarkan rapor dan prestasi akademik tanpa ujian tulis. Oleh karena itu, keakuratan penentuan kuota sangat krusial.

Berdasarkan panduan resmi, kuota sekolah ditentukan berdasarkan akreditasi dan jumlah siswa lulusan yang memenuhi syarat. Banyak sekolah yang sebelumnya merasa keberatan karena kuota yang muncul di sistem tidak sesuai dengan data mereka, misalnya karena perbedaan data antara Dapodik (Data Pokok Pendidikan) dengan data pembaruan yang ada di sekolah.

"Batas waktu 15 Januari adalah waktu mati (deadline). Kami menghimbau seluruh sekolah untuk memanfaatkan waktu sisa ini dengan sebaik-baiknya. Jika tidak melakukan sanggah sebelum tenggat, maka kuota yang tampil di sistem dianggap final dan tidak dapat digugat," ujar Juru Bicara Kemendikbudristek dalam konferensi pers virtual, Selasa (14/1) malam.

Sekolah yang gagal memperbaiki kuota dalam masa sanggah berpotensi kehilangan kesempatan siswa berprestasinya untuk lolos ke PTN favorit melalui jalur ini.

Disiplin Baru: Validasi Nilai TKA

Salah satu poin sorotan dalam pelaksanaan SNBP 2026 adalah penerapan validasi yang ketat terhadap nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA). Dalam tahun-tahun sebelumnya, fokus validasi lebih banyak tertuju pada kebenaran data siswa dan nilai rapor. Namun, tahun ini, komite seleksi menggandeng sekolah asal untuk memastikan bahwa nilai yang diinput memiliki dasar pembenaran yang kuat.

Validasi TKA ini berfungsi sebagai mekanisme "deteksi kebocoran" atau inflasi nilai. KSN akan secara acak atau berbasis risiko melakukan cross-check terhadap nilai siswa yang memiliki skor rapor yang sangat tinggi atau di luar kebiasaan. Jika ditemukan ketidakkonsistenan antara data prestasi di dokumen dengan kemampuan akademik yang sebenarnya, kuota atau kelulusan siswa tersebut dapat dibatalkan.

"Kita ingin memastikan bahwa 'Prestasi' dalam SNBP itu adalah prestasi sejati, bukan rekayasa administrasi. Validasi TKA diperketat untuk menangkal praktik manipulasi nilai yang merugikan siswa lain yang jujur," tambah Jubir tersebut.

Proses validasi ini melibatkan analisis mendalam menggunakan sistem algoritma serta verifikasi lapangan jika diperlukan. Hal ini sejalan dengan prinsip integritas dan kepercayaan yang menjadi komitmen utama penyelenggaraan seleksi nasional tahun ini.

Dampak pada Siswa dan Strategi Sekolah

Pengetatan aturan ini membawa dampak langsung bagi siswa kelas 12. Mereka disarankan untuk tidak mengandalkan "kebetulan" atau celah administrasi. Siswa harus memastikan bahwa prestasi akademik mereka terdokumentasi dengan baik dan benar di rapor semester 1 sampai dengan 5.

Bagi sekolah, validasi TKA yang ketat berarti tanggung jawab guru BK dan Kurikulum semakin besar. Sekolah tidak bisa sembarangan mengusulkan siswa jika tidak memiliki keyakinan penuh terhadap integritas nilai akademik siswa tersebut. Sekolah juga diwajibkan untuk mengunci data siswa yang akan mengikuti seleksi sebelum jadwal pengisian PDSS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa) berakhir.

Setelah masa sanggah kuota berakhir hari ini, tahapan selanjutnya adalah periode finalisasi data oleh sekolah dan kemudian tahapan pemeringkatan siswa oleh sistem. Hasil seleksi SNBP 2026 sendiri dijadwalkan akan diumumkan pada Maret mendatang.

Siswa yang tidak lolos melalui jalur SNBP masih memiliki kesempatan melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT), yang ujiannya digelar pada bulan April.

Transparansi Data demi Keadilan

Ketatnya masa sanggah dan validasi nilai ini menuai respons positif dari berbagai kalangan pengamat pendidikan. Mereka menilai bahwa transparansi data dan validasi yang kuat adalah kunci untuk menciptakan persaingan yang sehat. Kejujuran akademik di tingkat sekolah menengah menjadi fondasi bagi lahirnya mahasiswa yang berkualitas di perguruan tinggi.

Dengan berakhirnya masa sanggah hari ini, proses SNBP memasuki babak krusial. Ribuan sekolah dan ratusan ribu siswa kini menunggu hasil dari sistem komputer yang akan menentukan siapa yang berhak mengisi kursi di kampus-kampus impian. Semua mata tertuju pada komitmen pemerintah untuk menyelenggarakan seleksi yang fair, transparan, dan bebas dari kecurangan.

Sumber: SNPMB

Uji Coba Pencairan TPG Bulanan Resmi Dimulai Januari 2026

Uji Coba Pencairan TPG Bulanan Resmi Dimulai Januari 2026

Oleh: Tim Redaksi

Info Pendidikan BIC, 15 Januari 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi memulai implementasi pilot project skema baru pencairan TPG bulanan. Perubahan mendasar ini mengalihkan frekuensi penyaluran dana yang semula dilakukan secara triwulanan (setiap tiga bulan) menjadi bulanan. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya serius pemerintah untuk menjamin stabilitas finansial para guru di seluruh Indonesia.

Mekanisme baru ini merupakan respon langsung dari aspirasi guru yang selama ini mengelola keuangan dengan siklus penerimaan yang panjang. Dengan pencairan bulanan, diharapkan guru dapat memiliki aliran kas (cash flow) yang lebih sehat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk cicilan rumah, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan lain tanpa harus menunggu akhir triwulan.

Transformasi Siklus Keuangan: Dari Triwulan ke Bulanan

Deputi Bidang Pemberdayaan Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen menjelaskan bahwa uji coba ini adalah tahap awal dari transformasi besar-besaran tata kelola keuangan guru. Sebelumnya, TPG cair dalam tiga termin dalam setahun (Januari, April, Juli, Oktober). Kebijakan ini seringkali memicu masalah likuiditas bagi guru, terutama yang memiliki kewajiban kredit atau tanggungan rutin tiap bulan.

"Kami memahami bahwa pengelolaan keuangan guru akan jauh lebih efektif jika pendapatan masuk setiap bulan, layaknya gaji pokok. Uji coba ini kami lakukan untuk memastikan sistem perbankan dan mekanisme pendistribusian di Kemendikdasmen siap secara teknis sebelum diterapkan secara nasional penuh," ujar pejabat terkait dalam keterangan persnya.

Selain aspek manajemen keuangan guru, pencairan bulanan juga dinilai dapat meningkatkan semangat kerja dan motivasi profesi. Guru tidak lagi dibebani oleh kekhawatiran keuangan jangka menengah, sehingga fokus mereka dapat lebih terarah pada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas.

Mekanisme Uji Coba dan Kriteria Penerima

Dalam tahap awal ini, pilot project tidak diterapkan secara serentak di seluruh Indonesia. Kemendikdasmen memilih beberapa wilayah representatif sebagai sampel uji coba. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kesiapan sistem perbankan daerah serta kepatuhan data guru di Dapodik (Data Pokok Pendidikan).

Guru yang terlibat dalam uji coba ini adalah mereka yang telah memenuhi seluruh persyaratan administratif, antara lain:

  1. Memiliki sertifikat pendidik.
  2. Terdaftar sebagai Guru ASN di Data Pokok Pendidik (Dapodik).
  3. Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) yang valid.
  4. Melaksanakan tugas sebagai guru paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka per minggu.

Mekanisme penyaluranannya tetap menggunakan sistem non-tunai (transfer bank) ke rekening guru yang terdaftar. Kemendikdasmen bekerja sama dengan bank penyalur (Himpunan Bank Negara/Himbara) untuk memastikan dana sampai ke rekening penerima pada tanggal yang ditentukan setiap bulannya, tanpa potongan administrasi di pihak guru.

Tantangan Teknis dan Validasi Data

Meski memberikan banyak manfaat, transisi dari skema triwulanan ke bulanan memiliki tantangan teknis yang kompleks. Salah satu tantangan terbesar adalah validasi data yang bersifat real-time. Jika sebelumnya pengecekan data dilakukan setiap tiga bulan, kini harus dilakukan setiap bulan untuk memastikan guru tidak menerima ganda atau guru yang telah pensiun/meninggal dunia masih menerima pembayaran.

Sistem Dapodik menjadi tulang punggung keberhasilan program ini. Kemendikdasmen mengimbau seluruh operator sekolah dan dinas pendidikan daerah untuk secara rutin memperbarui data. Kesalahan input data, seperti perbedaan nama di rekening bank dengan KTP, atau status mengajar yang tidak aktif, dapat menyebabkan penundaan pencairan TPG di bulan berjalan.

"Kebersihan data adalah kunci. Kami tidak ingin ada guru yang haknya tertunda karena kesalahan administratif. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pemda dan operator sekolah sangat krusial dalam fase uji coba ini," tambahnya.

Dampak pada Kesejahteraan dan Profesionalisme

Para pakar pendidikan menilai bahwa kebijakan pencairan bulanan adalah langkah progresif dalam kesejahteraan guru. Dengan pendapatan yang lebih pasti setiap bulan, guru memiliki ruang finansial yang lebih luas untuk mengembangkan kompetensi diri, misalnya mengikuti pelatihan tambahan, membeli buku referensi, atau memperbarui perangkat pembelajaran digital.

Selain itu, stabilitas finansial berkontribusi pada penurunan tingkat stres kerja. Guru yang terbebas dari tekanan ekonomi cenderung memiliki emosi yang lebih stabil dan interaksi yang lebih positif dengan siswa. Hal ini sejalan dengan visi Kemendikdasmen untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang manusiawi dan berpusat pada peserta didik.

Jika uji coba ini berjalan lancar tanpa hambatan teknis yang berarti, rencana berikutnya adalah perluasan implementasi ke seluruh provinsi di Indonesia di tahun-tahun mendatang. Kemendikdasmen berkomitmen untuk terus mengevaluasi skema ini, memastikan bahwa setiap rupiah anggaran negara benar-benar sampai ke tangan pahlawan pendidikan tanpa potongan atau penyimpangan.

Target Revitalisasi Sekolah 2026 Naik Jadi 71.000 Unit, Prioritas Daerah 3T dan Lokasi Bencana

Target Revitalisasi Sekolah 2026 Naik Jadi 71.000 Unit, Prioritas Daerah 3T dan Lokasi Bencana

Oleh: Tim Redaksi

Info Pendidikan BIC, 15 Januari 2026 – Pemerintah memutuskan untuk meningkatkan target revitalisasi sekolah 2026 menjadi sekitar 71.000 sekolah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengumumkan bahwa dari semula sekitar 11.700 satuan pendidikan yang dianggarkan dalam APBN, Presiden Prabowo Subianto meminta penambahan sekitar 60.000 unit lagi sehingga total sasaran tahun ini melonjak menjadi lebih dari 71.000 sekolah di seluruh Indonesia.

Penambahan target ini sejalan dengan komitmen Presiden agar pada 2029 tidak ada lagi sekolah dengan bangunan rusak berat, atap bocor, toilet tidak layak, atau sarana yang membahayakan keselamatan peserta didik. Mu’ti menegaskan, prioritas utama revitalisasi 2026 adalah sekolah rusak berat, khususnya di daerah terdampak bencana dan kawasan 3T (terluar, terdepan, tertinggal).

Lompatan Skala: Dari 11.700 Menjadi 71.000 Sekolah

Dalam acara Peresmian Revitalisasi Satuan Pendidikan untuk Mewujudkan Sekolah Aman dan Nyaman se-Tangerang Raya di SD Ruhama Labschool UHAMKA, Tangerang Selatan, Rabu (14/1), Mu’ti menjelaskan bahwa dalam APBN 2026 pemerintah awalnya mengalokasikan target revitalisasi untuk 11.700 satuan pendidikan. Namun, Presiden Prabowo secara berulang menegaskan agar kapasitas program diperluas dengan menambah sekitar 60.000 sekolah lagi.

“Untuk tahun 2026, revitalisasi yang sudah aman di dalam APBN kami alokasikan untuk 11.700 sekian satuan pendidikan dan Pak Presiden menyampaikan berulang kali di berbagai kesempatan bahwa tahun ini revitalisasi akan ditambah 60 ribu,” ungkap Mu’ti. Dengan tambahan itu, ia memperkirakan total sekolah yang akan direvitalisasi pada 2026 bisa mencapai sekitar 71.000 satuan pendidikan.

Secara angka, ini berarti kenaikan yang sangat signifikan dibanding 2025. Pada tahun 2025, program revitalisasi menyasar 16.170–16.177 satuan pendidikan dengan anggaran sekitar Rp16,9 triliun, dan hingga awal 2026 hampir seluruhnya telah selesai dan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.kabarpendidikan+1

Pemerintah juga mengamankan alokasi awal APBN 2026 sekitar Rp14 triliun untuk merevitalisasi sekitar 11 ribu sekolah, yang kemudian rencananya diperluas hingga menjangkau sekitar 71 ribu satuan pendidikan secara nasional.

Prioritas 2026: Sekolah Rusak Berat dan Daerah Bencana

Mu’ti menegaskan bahwa fokus utama revitalisasi 2026 bukan sekadar renovasi ringan atau penambahan ruang, tetapi perbaikan sekolah yang benar-benar rusak, terutama pascabencana. Sekolah yang hanya membutuhkan rehabilitasi kecil dapat memanfaatkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sehingga program revitalisasi bisa terpusat pada kerusakan besar.

“Prioritas kami 2026 adalah sekolah yang memang rusak, bukan sekolah yang misalnya penambahan-penambahan atau rehabilitasi kecil. Karena kalau rehabilitasi kecil bisa dengan dana BOS, tidak perlu dari revitalisasi,” jelas Mendikdasmen Mu’ti di Tangerang Selatan.

Dari sekitar 71.000 target baru tersebut, sekitar 11.000 satuan pendidikan diprioritaskan bagi daerah yang terdampak bencana, sedangkan sisanya, sekitar 60.000 sekolah, akan diarahkan ke wilayah lain yang masih membutuhkan perbaikan infrastruktur pendidikan.

Mu’ti juga memastikan bahwa sekolah terdampak bencana di berbagai wilayah—termasuk di Sumatera—menjadi prioritas utama. Pemerintah kini masih melakukan pendataan dan penghitungan kebutuhan revitalisasi di wilayah bencana melalui tim lintas kementerian yang diketuai Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Seluruh sekolah terdampak, baik rusak ringan, sedang, maupun berat, akan diupayakan masuk program revitalisasi 2026.

Di beberapa daerah, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, tercatat sekitar 4.000 satuan pendidikan mengalami kerusakan akibat bencana, mulai dari ringan hingga berat, dan bahkan ada sekolah yang hilang akibat banjir. Mu’ti menggambarkan kondisi di lapangan: masih ada anak yang belajar di lantai karena meja dan kursi rusak, serta belum memiliki seragam layak. Untuk itu, selain perbaikan fisik, Kemendikdasmen menyiapkan skema sekolah darurat, mulai dari penggunaan tenda maksimal tiga bulan hingga pembangunan sekolah semi permanen, serta menyusun kurikulum darurat untuk masa pemulihan.

Layanan psikososial bagi siswa dan guru juga digalang bersama organisasi profesi seperti HIMPSI, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), PMI, dan organisasi masyarakat lainnya agar dampak traumatis bencana tidak mengganggu proses belajar dalam jangka panjang.

Daerah 3T dan Pemerataan Layanan Pendidikan

Selain lokasi bencana, Mu’ti berulang kali menegaskan bahwa daerah 3T akan menjadi bagian penting dari peta revitalisasi. Dalam kunjungannya ke Sulawesi Tenggara, misalnya, ia menjamin bahwa provinsi ini akan mendapat bagian dari program perbaikan 71 ribu gedung sekolah yang dicanangkan pemerintah pada 2026. Menurutnya, program tersebut merupakan prioritas Presiden guna memastikan seluruh gedung sekolah, termasuk di daerah terpencil, memiliki sarana dan prasarana yang layak.

Program Revitalisasi Satuan Pendidikan sendiri merupakan mandat dari Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 dan menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Program ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas melalui rehabilitasi, pembangunan, dan penyediaan fasilitas baru, dengan prinsip efektif, efisien, akuntabel, partisipatif, dan mengutamakan kepentingan terbaik peserta didik.

Mu’ti menjelaskan, Presiden berkali-kali menegaskan tidak boleh lagi ada sekolah dengan atap bocor, toilet tidak layak, atau kondisi bangunan yang membahayakan. Targetnya, seluruh bangunan sekolah yang tidak layak dapat diperbaiki secara bertahap hingga 2029.

Di berbagai kesempatan, ia menyatakan optimistis target tersebut bisa tercapai, bahkan lebih cepat. “Kalau sekarang 16 ribu, lalu tahun ini 71 ribu, insya Allah sebelum 2029 sudah 100 persen selesai. Bahkan bisa lebih cepat, misalnya mulai 2026 setiap tahun 71 ribu, maka 2027 bisa selesai,” ujarnya, merujuk pada capaian 2025 dan target 2026 yang dipercepat.m.harianjogja

Di Balik Angka: Revitalisasi sebagai Ekosistem Perbaikan Pendidikan

Program revitalisasi tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga berdampak pada ekonomi lokal dan praktik tata kelola di sekolah. Dalam pelaksanaannya, pola swakelola sekolah banyak diterapkan. Dengan skema ini, pembangunan dan renovasi melibatkan tenaga kerja lokal serta memanfaatkan material dari lingkungan sekitar. Ini membantu memutar ekonomi masyarakat sekitar sekolah sekaligus mempercepat penyelesaian pekerjaan secara lebih efisien.

Di Demak dan Jepara, misalnya, ratusan satuan pendidikan dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, hingga PKBM menerima manfaat revitalisasi. Di SD Negeri Wonorejo 2, Demak, dana revitalisasi digunakan untuk memperbaiki 12 ruang kelas, ruang administrasi, perpustakaan, UKS, ruang TI, dan fasilitas sanitasi. Kepala sekolah melaporkan perbaikan ini langsung meningkatkan kenyamanan dan keselamatan proses belajar mengajar. SMP Negeri 1 Tahunan di Jepara bahkan mampu mengembangkan empat ruang kelas menjadi lima, sekaligus memanfaatkan sisa material untuk perbaikan fasilitas ibadah sekolah.

Dari sisi tata kelola, Kemendikdasmen menekankan prinsip akuntabilitas dan partisipasi. Pemerintah daerah didorong aktif mengusulkan titik-titik sekolah yang paling membutuhkan, terutama di wilayah rawan banjir atau rawan bencana lain. Selain itu, pelaporan dan pemantauan dilakukan secara digital untuk memastikan penggunaan anggaran transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Revitalisasi Fisik dan Digitalisasi Berjalan Beriringan

Meskipun fokus tahun ini sangat kuat pada perbaikan bangunan, Kemendikdasmen menegaskan bahwa revitalisasi fisik dan akselerasi digitalisasi pembelajaran harus berjalan beriringan. Dalam Rakor Kepala Daerah tentang Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran di Tangerang, November 2025, Mu’ti menyatakan bahwa dua agenda ini adalah dua sisi mata uang yang sama untuk memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal.

Selain perbaikan gedung, Kemendikdasmen juga berencana menambah perangkat pembelajaran digital berupa interactive flat panel (IFP) hingga empat unit per sekolah, sekaligus meningkatkan pelatihan kompetensi guru pendidikan dasar dan menengah. “Guru tidak hanya menjadi agen pembelajaran, tetapi juga agen peradaban. Karena itu kesejahteraan guru kami tingkatkan melalui sertifikasi dan pelatihan,” ujar Mu’ti dalam kunjungan ke Sulawesi Tenggara.

Di tingkat praktik, ini berarti sekolah-sekolah yang telah direvitalisasi tidak hanya memiliki bangunan yang lebih aman dan nyaman, tetapi juga mulai dilengkapi dengan perangkat digital yang memungkinkan pembelajaran lebih interaktif, akses materi sumber belajar yang lebih luas, dan integrasi dengan platform digital nasional. Dengan demikian, manfaat revitalisasi tidak hanya terasa pada jangka pendek—misalnya siswa tidak lagi belajar di ruang bocor—tetapi juga pada jangka menengah dan panjang melalui peningkatan kualitas proses belajar itu sendiri.

Tantangan dan Harapan: Dari Bangunan Layak hingga Pendidikan Berkualitas

Kenaikan target menjadi 71.000 sekolah tentu saja membawa tantangan tersendiri. Di antaranya adalah memastikan kualitas pekerjaan tetap terjaga meskipun kapasitas program meningkat tajam, mengelola risiko keterlambatan di lapangan, serta memastikan distribusi penerima bantuan benar-benar tepat sasaran ke sekolah-sekolah paling rusak, termasuk di daerah sulit akses.diskominfomc.kalselprov.go

Beberapa proyek revitalisasi 2025 memang mengalami keterlambatan karena berbagai kendala teknis dan kondisi lapangan. Namun, Kemendikdasmen mencatat bahwa secara nasional, lebih dari 90 persen revitalisasi 2025 telah selesai dan digunakan, dengan target penyelesaian 100 persen pada akhir Januari 2026.diskominfomc.kalselprov.go

Untuk 2026, kementerian menegaskan kembali bahwa skema swakelola akan tetap menjadi andalan, dengan peran pengawasan yang diperkuat. Pemerintah daerah, komite sekolah, dan masyarakat diharapkan terus dilibatkan, bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pengawas dan mitra dalam menjaga keberlanjutan fasilitas yang telah dibangun.

Dalam jangka panjang, tujuan besar revitalisasi ini bukan sekadar menghilangkan angka sekolah rusak dari data nasional, tetapi menciptakan ekosistem pendidikan dasar dan menengah yang aman, layak, dan inklusif di seluruh Indonesia. Bangunan yang baik, sanitasi yang layak, dan fasilitas yang aman menjadi syarat minimum—bukan tujuan akhir—untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.

“Sekolah yang rusak berpotensi menghambat proses belajar dan membahayakan peserta didik. Karena itu, perbaikan fisik sekolah menjadi fondasi penting dalam peningkatan mutu pendidikan nasional,” tegas Mu’ti dalam keterangan tertulis yang disampaikan melalui InfoPublik.

Dengan target revitalisasi 2026 yang kini mencapai 71.000 sekolah, titik berat pemerintah dalam beberapa tahun ke depan jelas: memperbaiki fondasi fisik pendidikan di daerah 3T, wilayah terpencil, dan lokasi bencana, sambil memperkuat digitalisasi dan kompetensi guru. Jika berjalan sesuai rencana, fondasi ini diharapkan menjadi pijakan kokoh bagi upaya Indonesia mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.

Presiden Prabowo Kumpulkan 1.200 Rektor dan Guru Besar di Istana

Presiden Prabowo Kumpulkan 1.200 Rektor dan Guru Besar di Istana

Oleh: Tim Redaksi

Info Pendidikan BIC, 15 Januari 2026 – Istana Negara menjadi saksi bisu salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah pendidikan Indonesia. Pada hari ini, tanggal 15 Januari, Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumpulkan 1.200 rektor dan guru besar dari perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Indonesia. Dialog bersejarah ini bertujuan utama untuk menyelaraskan visi pendidikan tinggi dengan agenda pembangunan nasional yang agresif dan berkelanjutan.

Pertemuan mega-scale ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah panggilan strategis untuk membangun sinergi antara kampus (cendekiawan) dan pemerintah (eksekutif) demi mewujudkan "Indonesia Emas 2045". Suasana hangat dan penuh antusiasme terlihat saat para pemimpin kampus memenuhi ruangan utama Istana, siap berdialog langsung dengan Presiden.

Sinkronisasi Visi Akademik dan Politik Pembangunan

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa perguruan tinggi adalah "benteng terakhir" dalam pembentukan karakter bangsa sekaligus mesin utama inovasi teknologi. Ia menyadari bahwa selama ini sering terjadi kesenjangan antara output lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata di lapangan pembangunan.

"Hari ini kita buktikan bahwa Istana terbuka untuk akademisi. Saya tidak ingin ada tembok pemisah antara kebijakan pemerintah dan kajian akademik. Visi pembangunan nasional kita, mulai dari kedaulatan pangan, energi, hingga teknologi digital, harus mendapat dukungan penuh dari riset dan pemikiran para rektor dan guru besar," tegas Presiden Prabowo di hadapan ribuan akademisi.

Dialog ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi lahirnya kurikulum yang lebih adaptif dan berorientasi pada future skills. Pemerintah mendorong perguruan tinggi untuk tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga pada penerapan ilmu pengetahuan yang bisa langsung memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Fokus Utama: Kedaulatan Teknologi dan Riset Berbasis Masalah

Salah satu poin krusial yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah penguatan riset terapan. Presiden meminta agar 1.200 Salah satu pilar terpenting dalam dialog nasional ini adalah tekad kuat untuk mewujudkan kedaulatan teknologi melalui revolusi metode riset. Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa perguruan tinggi tidak boleh lagi berfungsi sekadar sebagai menara gading yang steril dari realitas, melainkan harus bertransformasi menjadi inkubator solusi nyata bagi masalah bangsa.

Dalam pengarahannya, Presiden secara gamblang mendorong terjadinya hilirisasi (downstreaming) riset. Konsep ini menuntut agar temuan-temuan akademik yang selama ini terjebak dalam jurnal internasional atau rak perpustakaan, dapat diubah menjadi produk, teknologi, atau kebijakan yang bernilai ekonomi tinggi dan langsung dirasakan oleh masyarakat.

"Pak Presiden menyampaikan garis tegas: kita harus menghentikan budaya hanya mengejejak indeksasi jurnal internasional demi kepentingan promosi jabatan akademik semata. Fokusnya bergeser ke seberapa besar kontribusi penelitian kita untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, kesehatan, dan ketertinggalan teknologi," jelas salah seorang sumber di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) yang hadir dalam pertemuan tertutup.

Agenda strategis ini kemudian diperinci ke dalam tiga fokus teknologi yang menjadi prioritas nasional:

  1. Transformasi Kedaulatan Pangan dan Bioteknologi: Indonesia yang kaya akan sumber daya alam diharapkan tidak hanya menjadi pasar, tetapi pemain utama di bidang pangan global. Para rektor didorong untuk memimpin penelitian benih tahan iklim (climate-smart agriculture), pupuk organik berbasis bahan lokal, serta teknologi pasca-panen yang dapat mengurangi angka limbah pertanian. Kampus-kampus pertanian dan kedokteran diminta untuk bersinergi menciptakan formula pangan alternatif yang murah dan bergizi untuk menekan angka stunting.
  2. Kemandirian Energi dan Sumber Daya Alam: Dalam menghadapi krisis energi global, Presiden meminta kalangan akademisi untuk mempercepat transisi energi. Ini mencakup penelitian mendalam mengenai energi baru dan terbarukan (EBT) seperti panas bumi, surya, dan potensi energi nuklir yang aman. Selain itu, riset mengenai teknologi carbon capture dan pengolahan mineral mentah menjadi produk turunan bernilai tambah menjadi sorotan utama untuk memaksimalkan kekayaan alam Indonesia.
  3. Kedaulatan Digital dan Kecerdasan Artifisial (AI): Menghadapi tantangan Revolusi Industri 5.0, penguatan ekosistem digital menjadi non-negotiable. Presiden menekankan perlunya kurikulum berbasis AI dan keamanan siber (cyber security). Tantangan bagi para rektor adalah mencetak talenta digital yang tidak hanya konsumen teknologi buatan negara lain, tetapi pencipta algoritma dan platform digital yang dapat bersaing di kancah internasional.

Untuk memastikan agenda ini berjalan, Presiden menyinggung perlunya restrukturisasi skema dana hibah penelitian. Dana pemerintah ke depan akan diprioritaskan untuk riset-riset kolaboratif yang melibatkan dunia usaha dan industri (DUDI). Dengan demikian, setiap penelitian yang dibiayai negara memiliki jalan keluar yang jelas untuk diproduksi masif, sehingga istilah "kampus menara gading" perlahan berganti menjadi "kampus pusat inovasi dan kewirausahaan".

Respon Positif dari Para Pendidik

Sejumlah rektor yang ditemui usai acara menyambut baik inisiatif Presiden ini. Prof. Dr. (H.C.) H. Mohammad Nasih, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi), menyatakan bahwa ini adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh dunia pendidikan.

"Ini adalah penghargaan tertinggi bagi dunia pendidikan tinggi. Pak Presiden memberi ruang langsung kepada kami untuk menyampaikan aspirasi dan sekaligus mendengar arah besar kebijakan. Kami siap mendukung program pemerintah melalui 'Tridharma Perguruan Tinggi' yang lebih relevan," ujar Nasih.

Senada dengan hal tersebut, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) menyatakan kesiapannya untuk menerjunkan mahasiswa dan dosen ke daerah-daerah terpencil sebagai bagian dari program pembangunan desa, sejalan dengan visi pemerintahan yang mengutamakan pembangunan dari pinggiran.

Tantangan ke Depan: Kolaborasi Tanpa Sekat

Meski dihadiri antusias, tantangan besar tetap menanti, yaitu implementasi dari hasil diskusi ini. Bagaimana memastikan bahwa 1.200 rektor ini dapat menerjemahkan arahan Presiden ke dalam kebijakan di masing-masing kampus, terutama perguruan tinggi di daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal).

Presiden Prabowo dalam pertemuan tertutup itu meminta agar Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset menjadi jembatan yang memfasilitasi sinergi ini, memastikan tidak ada kampus yang tertinggal dalam transformasi digital dan inovasi.

Pertemuan 15 Januari ini ditutup dengan komitmen bersama untuk menerbitkan "Deklarasi Istana" tentang Pendidikan Tinggi untuk Pembangunan Nasional. Deklarasi ini diharapkan menjadi pedoman bagi perguruan tinggi Indonesia dalam lima tahun ke depan.