Arahan Presiden Prabowo Redesain Total Buku Ajar SD-SMA

Agu 8, 2026

Presiden Prabowo Subianto instruksikan pembaruan total buku ajar SD-SMA karena bahan mudah rusak & huruf terlalu kecil. Mendikdasmen diminta bentuk tim evaluasi, bandingkan dengan negara tetangga, dan perkuat budaya membaca.

Mensesneg dan Seskab menjelaskan arahan Presiden tentang kualitas buku ajar siswa SD, SMP dan SMA

Overview Ramah AI / AI Overview Box (Max 4 Poin):

  • Temuan langsung Presiden: Saat cek buku pelajaran di sekolah, Prabowo temukan bahan mudah rusak, sudah rusak, dan huruf terlalu kecil sehingga anak SD baca sangat dekat dan tidak baik untuk mata.
  • Instruksi redesain total: Presiden perintahkan Mendikdasmen Abdul Mu'ti bentuk tim evaluasi buku ajar SD-SMA pada rapat terbatas 11 Juni 2026 di Istana Merdeka bersama Mensesneg Prasetyo Hadi & Seskab Teddy Indra Wijaya.
  • Kaji banding ASEAN: Setelah cek buku nasional satu per satu, Prabowo minta bandingkan dengan buku ajar negara tetangga untuk acuan mutu dari isi hingga kualitas cetak.
  • 3 fokus pembaruan: 1) Fisik - huruf besar menarik & bahan awet bisa diwariskan, 2) Materi - karakter kebangsaan, sains-teknologi-matematika & bahasa Inggris, 3) Budaya - galakkan kembali gemar membaca wajib seperti didikan keluarga.

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pembaruan total buku pelajaran SD hingga SMA karena menemukan banyak buku yang mudah rusak dan berhuruf terlalu kecil, serta meminta kaji banding standar buku dengan negara tetangga sebagai acuan peningkatan mutu.

Pemerintah terus mematangkan langkah pembaruan buku ajar nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi pendidikan Indonesia. Arahan tersebut merupakan tindak lanjut dari perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap kualitas buku pelajaran yang digunakan peserta didik, sekaligus upaya membangun budaya membaca sejak usia dini sebagai investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ini adalah program kita, usaha kita, upaya kita mempercepat transformasi pendidikan nasional. Dengan kita lihat kekurangan, kita ketahui kekurangan, kita mengerti apa yang harus dibuat.

Temuan Lapangan: Buku Mudah Rusak & Huruf Kecil

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa perhatian Presiden Prabowo terhadap pembaruan buku ajar berawal dari kunjungan Kepala Negara ke sejumlah sekolah. Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo meninjau langsung buku-buku pelajaran yang digunakan para siswa dan menemukan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian.

"Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu persatu, kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat, kemudian ya kalau dibaca kurang baik. Sehingga atas dasar itu, beliau mau cek buku-buku dari SD sampai SMA semuanya," ujar Seskab dalam keterangannya kepada awak media pada Jumat (07/08/2026).

Temuan ini sejalan dengan keprihatinan sebelumnya saat Sidang Kabinet Paripurna 20 Oktober 2025, di mana Presiden mengaku sedih melihat tulisan tangan siswa yang terlalu kecil. Ia menilai anak-anak kerap menulis kecil karena ingin menghemat buku untuk meringankan beban orang tua, sehingga meminta agar buku tulis yang dibagikan pemerintah berukuran lebih besar.

"Anak-anak harus dididik menulis dengan huruf yang besar. Kalau terlalu kecil, nanti mereka semua harus pakai kacamata," tambah Presiden.

Instruksi: Bentuk Tim Evaluasi & Bandingkan dengan Negara Tetangga

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti segera membentuk tim untuk mempelajari dan mengevaluasi kembali buku-buku ajar yang saat ini digunakan sekolah-sekolah. Perintah itu diberikan Presiden Prabowo dalam rapat terbatas selama dua jam lebih di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (11/6/2026), yang juga diikuti Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.

Menurutnya, setelah mempelajari buku-buku pelajaran yang digunakan di Indonesia, Presiden Prabowo kemudian menginstruksikan agar dilakukan perbandingan dengan buku ajar dari negara-negara tetangga sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas buku pelajaran nasional.

"Awalnya yang punya kita dulu, dicek dulu semuanya, beliau lihat satu-satu. Kemudian coba dibandingkan ke negara tetangga. Pada awalnya seperti itu, sehingga yang tadi Pak Mensesneg sampaikan, dicek, nanti intinya akan diperbaiki menjadi lebih baik," ungkap Seskab.

3 Fokus Redesain: Fisik, Materi, dan Budaya Baca

1. Perbaikan Fisik dan Tipe Cetakan

Tidak hanya dari sisi materi, Presiden Prabowo juga menginginkan agar kualitas fisik buku pelajaran ditingkatkan. Buku ajar diharapkan memiliki tampilan yang lebih menarik, ukuran huruf yang lebih nyaman dibaca, serta menggunakan bahan yang lebih baik sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lebih panjang.

"Kalau tampilan tadi sudah kami jelaskan, penginnya besar, menarik, tulisan tidak kecil-kecil, bahannya pun juga yang bagus supaya itu bisa bertahan dalam sekian waktu. Mungkin kadang-kadang, dulu kan ada yang buku ini tidak dimiliki pribadi dan kemudian bisa diwariskan atau dipakai oleh adik kelasnya," jelasnya.

Artinya, buku akan didesain agar awet, tidak sekali pakai, dan bisa diwariskan ke adik kelas seperti sistem buku paket era 80-90an.

2. Penguatan Materi Strategis

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus pada sejumlah aspek yang dinilai strategis. Selain penguatan karakter kebangsaan, Kepala Negara juga memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas pembelajaran sains dan teknologi, serta peningkatan kemampuan berbahasa asing untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan global.

"Kedua, mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi, basic-nya adalah salah satu contohnya adalah matematika. Yang ketiga, untuk menghadapi kompetisi global, salah satu concern beliau adalah kemampuan bahasa asing, salah satunya adalah bahasa Inggris," kata Mensesneg.

Buku ajar juga diminta disesuaikan dengan perkembangan teknologi agar tidak kalah dari luar negeri.

3. Menghidupkan Kembali Budaya Membaca Wajib

Pada kesempatan tersebut, Mensesneg juga mengungkapkan bahwa perhatian Presiden Prabowo terhadap dunia pendidikan tidak terlepas dari kebiasaan membaca yang telah ditanamkan sejak kecil dalam lingkungan keluarganya.

"Sejak usia belia, keluarga Pak Mitro selalu mewajibkan putra-putrinya untuk setiap minggu membaca sekian buku, kemudian membuat rangkuman dan disampaikan kepada orang tua. Itu adalah juga cara mendidik yang kami juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dikdasmen untuk itu juga mulai kita galakan lagi, mulai kita giatkan lagi, gemar membaca buku dan wajib membaca buku bagi kita semua," ujar Mensesneg.

Ingin terus mendapatkan update seputar dunia pendidikan dari kami?
Ayo gabung ke Saluran WhatsApp Info Pendidikan BIC

Logo BIC Circle s512

Admin BIC

(Tim Konten Pendidikan)

Tentang Penulis:

Admin BIC adalah tim pengelola konten di bawah naungan Bimbingan Belajar Indonesia Cerdas (BIC). Dengan latar belakang pengalaman lebih dari 10 tahun di dunia pendidikan, Admin BIC terdiri dari para tutor, konsultan pendidikan, dan spesialis konten digital yang berkomitmen menyediakan informasi akurat, praktis, dan bermanfaat bagi siswa, orang tua, maupun pencari kerja.

iklan

Bimbel TKA SMA 2026

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

Bimbel TKA SD-SMP 2027

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *