INFOPENDIDIKAN.BIC.ID – Arah strategis pendidikan tinggi Indonesia menunjukkan fokus ganda: akselerasi kolaborasi global untuk mendukung agenda politik nasional "Asta Cita" yang di saat bersamaan dibayangi oleh kritik tajam mengenai minimnya alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk sektor riset domestik.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), pada Senin (10/11/2025), secara resmi mengumumkan langkah "Perkuat Kerja Sama Pendidikan Tinggi Indonesia–Tiongkok". Langkah ini secara eksplisit ditujukan untuk "Dukung Agenda Asta Cita Nasional".
Penguatan kerja sama ini mencakup berbagai program strategis, termasuk pertukaran mahasiswa dan akademisi, program beasiswa penuh maupun parsial, kemitraan riset lintas kampus, serta pengembangan program gelar ganda (joint degree) dengan model spesifik seperti 3+1 dan 2+2.
Langkah globalisasi ini merupakan implementasi arahan Presiden Joko Widodo yang sebelumnya mendorong perguruan tinggi untuk "menguatkan kolaborasi dan sinergi" guna "mencetak SDM unggul".
Ironisnya, pada hari yang sama, peringatan keras datang dari salah satu peneliti terbaik Indonesia. R Tedjo Sasmono, peneliti senior Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman BRIN, memanfaatkan momen penganugerahan Habibie Prize 2025 untuk menyuarakan keprihatinannya.
Tedjo, yang meraih penghargaan Bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi, mengungkap harapan agar persentase APBN untuk riset dan pendidikan dinaikkan.
"Tentu saja kontribusi negara sangat penting. Kita masih kecil sekali yang persentase APBN untuk riset. Nah, itu perlu dinaikkan nantinya ya. Nggak hanya untuk riset ya, jadi semuanya, pendidikan (juga)," kata Tedjo di Gedung BJ Habibie, BRIN, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Menurut Tedjo, peningkatan anggaran tersebut krusial untuk mendukung cita-cita Indonesia menjadi "negara yang berbasis sains" (science-based), di mana seluruh kebijakan publik harus didasarkan pada data-data sains, sebuah praktik yang menurutnya sudah menjadi patokan di negara maju.
Kesenjangan antara ambisi global dan pendanaan domestik ini menjadi tantangan utama. Di satu sisi, pemerintah gencar mendorong institusi pendidikan tinggi untuk berkontribusi pada delapan agenda prioritas "Asta Cita", seperti yang juga ditekankan Kementerian Agama kepada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk memperkuat ketahanan ideologi.
Di sisi lain, dorongan untuk "pertumbuhan ekonomi yang tinggi"—seperti yang dipaparkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam kuliah umumnya di Universitas Airlangga pada hari yang sama —sangat bergantung pada inovasi. Hal ini menyoroti sebuah pertanyaan kritis: bagaimana ambisi "Asta Cita" dan target pertumbuhan ekonomi dapat tercapai jika fondasi riset domestiknya dinilai "masih kecil sekali" oleh para ahlinya.




0 Comments