INFOPENDIDIKAN.BIC.ID - Prediksi pergeseran pola iklim global, khususnya potensi kembalinya fenomena El Niño pada pertengahan tahun 2026, telah memicu respons strategis yang mendalam di sektor pendidikan Indonesia. Alih-alih hanya berfokus pada mitigasi bencana fisik, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memilih jalur adaptasi jangka panjang melalui transformasi kurikulum.
Kemendikdasmen menjadikan tahun 2026 sebagai momentum kunci implementasi masif program Agro-Eco-Edo-Tourism (AEET). Program ini adalah model pembelajaran terpadu di sekolah yang dirancang untuk membangun resiliensi iklim, memperkuat literasi lingkungan, dan yang paling krusial, menjamin ketahanan pangan sejak usia dini. Pendekatan proaktif ini menunjukkan pengakuan bahwa tantangan iklim di masa depan tidak hanya memerlukan respons darurat, tetapi juga perubahan fundamental dalam cara generasi muda berinteraksi dengan lingkungan dan sumber daya alam.
PROGNOSIS EL NIÑO 2026 SEBAGAI PENDORONG KEBIJAKAN
Kebijakan pendidikan yang adaptif terhadap iklim tidak dapat disusun tanpa didasarkan pada data saintifik yang otoritatif. Keputusan Kemendikdasmen untuk memprioritaskan Kurikulum Hijau terkait langsung dengan analisis iklim jangka panjang yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga meteorologi global dan nasional.
Transisi Kritis ENSO: Prognosis Jangka Panjang BMKG dan NOAA
Fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) adalah pola iklim alami di Samudra Pasifik tropis yang sangat memengaruhi cuaca di Indonesia. Analisis terkini dari World Meteorological Organization (WMO) dan NOAA menunjukkan adanya transisi fase yang kritis di tahun 2026.
Prediksi WMO menunjukkan probabilitas yang signifikan, yaitu sekitar 65% hingga 75%, untuk kembalinya kondisi ENSO-Netral (normal) pada periode Januari hingga April 2026. Pergeseran ini terjadi setelah kondisi La Niña, yang cenderung membawa curah hujan tinggi, diperkirakan akan melemah pada akhir musim dingin Belahan Bumi Utara (sekitar awal tahun 2026). Bahkan, potensi ambang batas La Niña diprediksi hanya 55% selama Desember 2025—Februari 2026.
Meskipun probabilitas El Niño langsung rendah pada awal tahun 2026, kondisi Netral (atau normal) seringkali berfungsi sebagai fase prekursor yang sangat rentan sebelum munculnya El Niño baru, yang dapat membawa kekeringan ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin menyusun Pandangan Iklim Tahun 2026, yang secara spesifik mempertimbangkan dinamika atmosfer–laut global, hasil pemodelan dinamis, dan prediksi iklim berbasis machine learning.
Fokus Kemendikdasmen pada "antisipasi El Niño 2026" merupakan kalkulasi risiko jangka panjang yang cermat, bukan sekadar respons terhadap data iklim saat ini. Membangun kurikulum yang kokoh dan infrastruktur pembelajaran berbasis lapangan (seperti AEET) memerlukan proses inkubasi dan persiapan yang panjang. Jika sektor pendidikan menunggu konfirmasi penuh munculnya El Niño di pertengahan atau akhir 2026, upaya mitigasi dan adaptasi non-fisik—terutama dalam hal literasi dan keterampilan adaptif—akan terlambat. Oleh karena itu, kebijakan ini adalah langkah pre-emptive yang bertujuan memastikan sistem pendidikan nasional siap menghadapi potensi dampak kekeringan yang diperkirakan datang seiring melemahnya La Niña.
Dampak Iklim Terhadap Tiga Pilar Ketahanan Pangan
Tujuan utama dari Kurikulum Hijau adalah membangun resiliensi pangan. Latar belakangnya adalah kenyataan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim, dengan ancaman kekeringan, banjir, dan peningkatan suhu yang secara langsung dapat mengganggu produksi pangan.
Program AEET dan Kurikulum Hijau secara strategis diarahkan untuk memperkuat tiga aspek utama ketahanan pangan yang diakui oleh Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian:
- Ketersediaan Pangan: Dipastikan melalui produksi lokal dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.
- Akses Pangan: Diperkuat melalui promosi pangan lokal yang memiliki nilai gizi tinggi, serta peningkatan pengetahuan tentang distribusi pangan yang efisien.
- Pemanfaatan Pangan: Berkaitan erat dengan edukasi gizi dan etika, termasuk pencegahan pemborosan pangan (food waste).
Di sini, peserta didik diposisikan sebagai agen perubahan kunci. Mereka harus memiliki inisiatif untuk merajut ketahanan pangan, mulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Lembaga pendidikan memainkan peran vital dalam meningkatkan pemahaman mengenai dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan. Mereka harus mendorong siswa memikirkan solusi dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya alam yang dapat diimplementasikan di berbagai tingkatan.
KURIKULUM HIJAU SEBAGAI STRATEGI RESILIENSI PENDIDIKAN
Penguatan pendidikan lingkungan hidup telah menjadi agenda Kemendikdasmen jauh sebelum tahun 2026. Namun, prediksi iklim yang spesifik memberikan dorongan dan urgensi yang belum pernah ada sebelumnya.
Kebijakan Adaptasi dan Momentum Transformasi 2026
Kurikulum Hijau bukan merupakan kurikulum yang berdiri sendiri, melainkan integrasi substansial ke dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Pada tahun 2024, Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbud Ristek memublikasikan Panduan Pendidikan Perubahan Iklim dalam program Bergerak Bersama untuk Pendidikan Perubahan Iklim dalam Kurikulum Merdeka. Panduan ini bertujuan membantu pemerintah daerah, sekolah, guru, dan mitra pendidikan untuk mengimplementasikan pendidikan yang memperkuat kesadaran dan strategi kolaboratif penanganan iklim.
Tahun 2026 dipandang oleh Kemendikdasmen sebagai tahun implementasi besar bagi beberapa agenda strategis, termasuk redistribusi guru ASN dan pendidikan inklusif. Strategi ini disinergikan dengan dorongan keras terhadap program Agro-Eco-Edo-Tourism (AEET) sebagai pilar utama Kurikulum Hijau. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan pada Desember 2025 bahwa program AEET dan School of Biodiversity harus menjadi pusat inovasi yang mengubah cara siswa, guru, dan masyarakat memahami hubungan antara manusia dan lingkungan, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, krisis pangan, dan degradasi lingkungan.
Memutus Rantai Sisa Pangan: Dimensi Karakter dan Etika
Salah satu fokus kebijakan yang unik dalam Kurikulum Hijau adalah penekanan pada etika konsumsi. Wamendikdasmen menyoroti capaian penting dari lembaga mitra Kemendikdasmen, SEAMEO Biotrop, yaitu penyusunan policy brief berjudul "Memutus Rantai Sisa Pangan Sejak Dini: Memberdayakan Sekolah sebagai Agen Perubahan".
Isu sisa pangan (food waste) merupakan masalah lingkungan sekaligus masalah pendidikan karakter dan etika. Secara lingkungan, sisa makanan yang menumpuk menghasilkan emisi metana yang signifikan, memperburuk pemanasan global. Dari perspektif pedagogis, mengintegrasikan isu pemborosan pangan ke dalam kurikulum berarti mendorong perubahan perilaku konsumsi yang bertanggung jawab. Sekolah, dengan demikian, berfungsi sebagai katalisator untuk perubahan perilaku di tingkat rumah tangga, membangun kesadaran bahwa pengurangan food waste adalah bagian dari mitigasi jejak karbon. Fokus pada pemanfaatan pangan lokal (yang didorong oleh program Agro) berhubungan erat dengan pengurangan food waste, menciptakan lingkaran penuh antara produksi yang efisien dan konsumsi yang bertanggung jawab.
Table 1: Proyeksi Risiko Iklim Jangka Pendek (2025/2026) dan Respon Kurikulum Hijau
Pendekatan Kurikulum Hijau dirancang untuk beradaptasi dengan perubahan fase ENSO yang cepat, seperti yang diringkas dalam tabel di bawah ini.
Table 1: Proyeksi Risiko Iklim Jangka Pendek (2025/2026) dan Respon Kurikulum Hijau
| Periode Fokus | Fase ENSO Dominan | Probabilitas Utama | Dampak Utama di Indonesia | Respon Kurikulum Hijau (AEET) yang Relevan |
| Desember 2025 – Feb 2026 | La Niña Lemah/Netral | Netral (65-75%) | Curah Hujan Tinggi, Risiko Hidrometeorologi | Pendidikan Konservasi Air, Mitigasi Bencana, Konservasi Keanekaragaman Hayati. |
| Maret – April 2026 | Netral | Netral (75%) | Transisi Musim, Musim Tanam Tidak Stabil | Fokus pada Pangan Lokal, Perencanaan Tanaman Adaptif Iklim, Geopark Educational Model (GEM). |
| Pertengahan 2026 dan Selanjutnya | Potensi Transisi El Niño | Meningkat setelah periode Netral | Kekeringan, Gangguan Produksi Pangan | Penguatan Pilar Agro (Produksi Mandiri) dan Efisiensi Pemanfaatan Lahan Sub-Optimal. |
DEKONSTRUKSI MODEL AGRO-ECO-EDO-TOURISM (AEET)
Program Agro-Eco-Edo-Tourism (AEET) merupakan manifestasi operasional dari Kurikulum Hijau. Program ini adalah prototipe pembelajaran berbasis lapangan (Field-Based Learning) yang dikembangkan untuk mengatasi kebutuhan pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, dan pengembangan ekonomi lokal secara simultan. AEET menggabungkan tiga dimensi utama yang terintegrasi di lingkungan sekolah.
AEET: Perkawinan Tiga Visi Pembelajaran Lapangan
Konsep AEET diciptakan untuk mempromosikan produk pertanian (Agro), konservasi lingkungan (Eco), dan paket pembelajaran edukatif yang dikaitkan dengan pariwisata (Edu-Tourism). Implementasi yang paling matang sering terjadi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melalui model Teaching Factory (TeFa). Di sini, siswa mendapatkan keterampilan langsung (hands-on skills) dalam manajemen eco-tourism dan hospitality, serta praktik keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, AEET tidak hanya mengajarkan teori tetapi juga memberikan paparan industri nyata dan meningkatkan peluang kerja.
Pilar 'Agro': Mengubah Sekolah Menjadi Inkubator Pangan Mandiri
Pilar Agro adalah inti dari upaya penguatan ketahanan pangan di sekolah. Program ini mendorong satuan pendidikan untuk beralih fungsi menjadi inkubator produksi pangan mandiri.
Contoh praktik nyata yang didorong Kemendikdasmen adalah program yang menggabungkan pendidikan gizi dan budidaya, seperti program "Ayam KUB Masuk Sekolah". Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan), yang merupakan ayam kampung asli Indonesia, memiliki keunggulan produktivitas telur hingga 200 butir per tahun. Melalui budidaya ini, siswa tidak hanya belajar tentang biologi dan peternakan, tetapi juga tentang pemenuhan gizi sejak dini.
Lebih jauh, praktik ini berimplikasi pada penguatan ekonomi lokal. Program yang berorientasi ketahanan pangan seperti School Food Care (SFC) bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui kemitraan antara sekolah dan petani setempat, termasuk penjualan hasil kebun sekolah. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam manajemen produksi dan ekonomi ini kemudian dapat ditransfer ke keluarga dan masyarakat luas, meningkatkan kesadaran akan praktik pertanian berkelanjutan.
Visi masa depan pilar Agro akan berkembang menuju model Circular Economy. Ini berarti sekolah tidak hanya fokus pada produksi hasil panen atau ternak, tetapi juga pada pengelolaan limbah yang dihasilkan. Misalnya, sisa makanan atau hasil samping peternakan diolah menjadi kompos atau biogas untuk menopang produksi pangan selanjutnya. Proses ini menutup siklus sumber daya di dalam ekosistem sekolah, meningkatkan efisiensi, dan memitigasi dampak lingkungan.
Pilar 'Eco': Pendidikan Konservasi sebagai Keterampilan Abad ke-21
Pilar Eco berfokus pada konservasi dan penerapan perilaku ramah lingkungan di dalam dan sekitar sekolah. Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup, Jo Kumala Dewi, mencontohkan perilaku ramah lingkungan yang harus dipraktikkan, seperti menanam pohon serta konservasi air dan energi.
Dalam konteks AEET, praktik Eco tidak hanya bersifat teoritis. Sekolah-sekolah percontohan telah mengintegrasikan praktik ramah lingkungan ke dalam operasional sehari-hari mereka, misalnya melalui pertanian organik, penggunaan produk lokal dalam layanan hospitality, dan adopsi energi terbarukan. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan sekolah, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata dengan menarik pengunjung yang sadar ekologi (eco-conscious visitors).
Pilar ini juga secara implisit mendukung pelestarian keanekaragaman hayati. Dengan mempromosikan pertanian dan ekologi lokal, AEET turut menjaga keberadaan spesies tumbuhan lokal (seperti yang ada di Jawa Tengah, termasuk Saninten dan Kantong Semar), yang penting sebagai sumber pangan, obat-obatan, dan industri hayati.
Pilar 'Edo': Menghidupkan Kearifan Lokal dalam Resiliensi Iklim
Pilar terakhir, 'Edo', adalah aspek paling khas dari Kurikulum Hijau Kemendikdasmen. Meskipun ada kemiripan dengan Edu-Tourism global—yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman dan refleksi kritis penambahan 'Edo' secara spesifik menggarisbawahi pentingnya integrasi kearifan lokal (local wisdom) sebagai landasan utama literasi lingkungan.
Kearifan lokal (Local Wisdom) menyediakan solusi adaptasi iklim yang telah teruji secara turun-temurun dan memiliki fondasi yang kuat dalam budaya masyarakat. Pengembangannya adalah upaya untuk membangun resiliensi sosial dari bawah, memastikan bahwa upaya adaptasi iklim tidak hanya bergantung pada teknologi global, tetapi juga pada praktik yang sesuai dengan konteks regional.
Penelitian menunjukkan bahwa praktik kearifan lokal dapat digunakan sebagai sumber belajar yang kaya dan dapat diintegrasikan ke dalam hampir semua mata pelajaran di sekolah dasar, mulai dari Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Matematika, PPKn, PJOK, hingga SBdP.19 Contoh praktik yang dapat digunakan adalah:
- Gugur Gunung: Semangat gotong royong dan kebersamaan dalam kegiatan pertanian atau pengelolaan lingkungan.
- Gunungan Ketan: Ritual yang berkaitan dengan rasa syukur atas hasil panen dan pemanfaatan pangan lokal.
- Festival Jajanan Pasar: Promosi pemanfaatan pangan lokal yang bergizi tinggi.
Melalui 'Edo', kurikulum berfungsi sebagai perekat komunitas. Persepsi masyarakat yang positif terhadap pelestarian kearifan lokal, misalnya, dapat mengesampingkan perbedaan sosial dan meningkatkan kohesi sosial demi kemajuan bersama. Hal ini menjadikan literasi lingkungan tidak hanya tentang ilmu alam, tetapi juga tentang pembangunan karakter warga negara yang bertanggung jawab dan adaptif.
FOKUS IMPLEMENTASI, KOLABORASI, DAN KAPASITAS DAERAH

Keberhasilan AEET sangat bergantung pada kemampuan sistem pendidikan untuk mensinkronisasi sumber daya dan kapasitas yang ada di tingkat pusat dan daerah, terutama mengingat tahun 2026 adalah tahun implementasi yang ambisius.
Keterlibatan Multisektor dan Skala Penerapan
Pengembangan AEET merupakan upaya kolaboratif. Kemendikdasmen bekerja sama erat dengan lembaga penelitian seperti SEAMEO Biotrop, yang bertugas mengembangkan prototipe pembelajaran berbasis lapangan. Selain itu, program ini diselaraskan dengan inisiatif lain, seperti program Agro Edu Wisata dari sektor pertanian.
Dalam pelaksanaannya, lokasi percontohan AEET harus memenuhi kriteria tertentu. Lokasi diprioritaskan yang sudah memiliki komponen agro dan potensi pengembangan sarana edukasi dan wisata. Sekolah yang terlibat harus bersedia melaksanakan kegiatan sesuai rencana usaha kelompok dan berkomitmen untuk tidak mengalihfungsikan lahan yang digunakan untuk Agro Edu Wisata. Komitmen ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan program dan memitigasi risiko kegagalan proyek yang mungkin muncul akibat ketidakpastian iklim.
Kebutuhan Peningkatan Kapasitas Guru dan Dukungan Pemda
Wakil Menteri Atip secara eksplisit mendorong Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memfasilitasi sekolah agar menjadi inovator dan pelestari lingkungan serta ketahanan pangan. Namun, implementasi kurikulum yang menuntut pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dan berbasis lapangan, seperti AEET, memerlukan lebih dari sekadar dukungan regulasi.
Diperlukan peningkatan kapasitas guru secara masif. Guru harus mampu beradaptasi dan berkolaborasi lintas disiplin ilmu untuk mengintegrasikan aspek Agro, Eco, dan Edo ke dalam kurikulum sehari-hari. Pengumuman Kemendikdasmen bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun implementasi redistribusi guru ASN menunjukkan bahwa pemerataan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dilihat sebagai prasyarat fundamental bagi keberhasilan Kurikulum Hijau dan AEET. Tanpa guru yang terlatih memadai dalam pendidikan ekologi, kearifan lokal, dan pertanian berkelanjutan, program AEET yang kompleks ini berisiko hanya menjadi proyek wisata tanpa kedalaman pedagogis.
Table 2: Defragmentasi Pilar Agro-Eco-Edo-Tourism (AEET)
Model AEET memecah tantangan resiliensi iklim menjadi tiga pilar pembelajaran yang dapat diukur dan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang ada.
Table 2: Defragmentasi Pilar Agro-Eco-Edo-Tourism (AEET) dan Kontribusi pada Kurikulum Merdeka
| Pilar AEET | Fokus Utama Pembelajaran | Contoh Praktik di Sekolah | Output Kunci Terhadap Krisis Iklim | Mata Pelajaran Kunci yang Terkait |
| Agro | Ketahanan Pangan, Gizi, dan Ekonomi Pertanian | Budidaya Ayam KUB atau tanaman pangan lokal. Penjualan hasil kebun (School Food Care). | Kemandirian Pangan dan mitigasi dampak kekeringan (El Niño). | IPA, IPS, Matematika (Manajemen Keuangan) |
| Eco | Konservasi, Etika Lingkungan, Keanekaragaman Hayati | Konservasi air/energi, eco-guided tours. Pengurangan food waste. | Adaptasi terhadap perubahan iklim dan degradasi lingkungan. | IPA, PJOK, SBdP |
| Edo | Kearifan Lokal, Resiliensi Sosial-Budaya | Penggunaan praktik lokal (Gugur Gunung, Gunungan Ketan) sebagai sumber belajar. | Membangun resiliensi sosial-budaya, kohesi komunitas, dan kesadaran lingkungan yang mengakar. | IPS, PPKn, Bahasa Indonesia (Narasi Lokal) |
TANTANGAN, RISIKO, DAN TRAJEKTORI PENDIDIKAN MASA DEPAN
Meskipun AEET adalah model yang menjanjikan, implementasinya secara nasional pada tahun 2026 menghadapi tantangan serius yang perlu diatasi.
Tantangan Sinkronisasi dan Keberlanjutan Program
Studi kasus implementasi AEET di sekolah kejuruan, misalnya di Kota Batu, mengidentifikasi sejumlah tantangan kunci. Keberhasilan program sangat bergantung pada koordinasi yang kuat antar pemangku kepentingan—termasuk sekolah, manajemen destinasi wisata, dan komunitas. Kurangnya koordinasi, keterlibatan komunitas yang tidak mendalam, dan integrasi teknologi eco-tourism yang masih terbatas menjadi hambatan. Selain itu, ketimpangan geografis dan kesenjangan pendanaan, sebagaimana yang dihadapi dalam pengembangan edu-tourism secara umum di Indonesia, dapat menghambat replikasi model AEET yang berhasil di sekolah percontohan.
Terdapat juga risiko bahwa tujuan inti AEET, yaitu literasi lingkungan dan ketahanan pangan, tereduksi menjadi sekadar greenwashing atau fokus berlebihan pada aspek pariwisata untuk mencari pendapatan (TeFa). Resor-resor yang sukses mengadopsi tema Agro-Eco (seperti Taman Simalem) menunjukkan potensi ekonomi dari model ini. Namun, jika sekolah terlalu fokus pada aspek komersial Tourism, sementara pilar Agro dan Edo diabaikan, tujuan utama pembangunan resiliensi iklim dan ketahanan pangan akan hilang. Oleh karena itu, Kemendikdasmen harus memastikan adanya mekanisme pengawasan dan evaluasi yang ketat agar komponen edukasi dan pangan tetap menjadi prioritas utama.
Visi Pendidikan Hijau Generasi Kedua: Integrasi AI dan Model Geopark
Kemendikdasmen tidak hanya merespons tantangan saat ini tetapi juga menatap visi pendidikan hijau generasi kedua. Arah program SEAMEO Biotrop untuk tahun 2026 menunjukkan bahwa Kurikulum Hijau akan diperluas dengan integrasi teknologi canggih dan model pembelajaran baru.
Rencana pengembangan ke depan meliputi:
- Pengembangan Geopark Educational Model (GEM), yang memanfaatkan lanskap geologis dan ekologis lokal sebagai ruang belajar.
- Integrasi Artificial Intelligence for Tropical Biology (AI).
- Penguatan konsep Circular Economy.
Integrasi AI menunjukkan pergeseran penting: pendidikan lingkungan dan pangan tidak lagi dianggap sebagai domain pendidikan "lunak" semata, tetapi sebagai domain teknis yang membutuhkan analisis data dan kecerdasan buatan. Pemanfaatan AI dalam Biologi Tropis akan menghasilkan generasi lulusan yang tidak hanya memiliki kesadaran ekologis, tetapi juga memiliki keterampilan teknis untuk mengelola sumber daya secara presisi, misalnya dalam memprediksi pola penyakit tropis atau mengoptimalkan hasil panen di tengah fluktuasi iklim. Hal ini memperkuat posisi AEET sebagai model pembelajaran yang menyiapkan siswa menghadapi kompleksitas abad ke-21.
INVESTASI RESILIENSI
Langkah Kemendikdasmen menjadikan tahun 2026 sebagai momentum implementasi masif Kurikulum Hijau melalui program Agro-Eco-Edo-Tourism adalah investasi krusial dalam resiliensi nasional. Keputusan ini merupakan pengakuan tegas bahwa krisis iklim memerlukan respons yang terstruktur dan terintegrasi, dimulai dari ruang kelas dan lingkungan sekolah.
Antisipasi El Niño 2026 berfungsi sebagai pengingat yang mendesak bahwa ketidakpastian iklim adalah realitas permanen. Keberhasilan implementasi AEET secara berkelanjutan—dengan penekanan yang seimbang pada produksi pangan (Agro), konservasi (Eco), dan kearifan lokal (Edo)—akan menentukan tidak hanya kualitas literasi lingkungan generasi mendatang, tetapi juga kemampuan mereka untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pangan di tengah kondisi iklim yang semakin tidak terduga. Sekolah kini didorong menjadi benteng pertama pertahanan, mengubah ancaman iklim menjadi peluang pendidikan yang transformatif.




0 Comments