Sorotan utama:
- Studi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2026 menemukan penguasaan gerak dasar anak Indonesia belum optimal.
- Peneliti Pascadoktoral Pusat Riset Pendidikan BRIN, Arisco Mardiansyah, menjelaskan kebiasaan olahraga dewasa dipengaruhi kemampuan gerak awal. Jika gerak dasar tidak dikuasai, anak sulit mempelajari keterampilan olahraga spesifik.
- Penelitian pada anak PAUD-SD di Sumatera Barat menunjukkan banyak anak belum kuasai 3 kelompok gerak dasar: lokomotor (berlari, melompat), manipulatif (melempar, menendang), stabilitas (keseimbangan).
- BRIN menggunakan instrumen Test of Gross Motor Development (TGMD) untuk usia 3-11 tahun.
- Rekomendasi: penguatan pendidikan jasmani, aktivitas fisik terstruktur sejak dini, dan pemahaman kematangan biologis bukan hanya usia kronologis. Temuan ini jadi fondasi pembinaan atlet dan kualitas SDM.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa kemampuan gerak dasar (motorik) anak-anak Indonesia usia PAUD hingga sekolah dasar belum berkembang secara optimal, sebuah temuan yang menyoroti minimnya waktu gerak fisik terstruktur di sekolah akibat padatnya kurikulum akademik.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai kemampuan motorik menjadi fondasi utama dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas pada masa depan. Keterampilan gerak dasar yang terasah sejak dini akan mendorong kepercayaan diri anak untuk aktif berolahraga hingga usia dewasa.
Jika fondasi ini rapuh, dampaknya jangka panjang: anak enggan berolahraga, kebugaran rendah, obesitas, dan pembinaan atlet prestasi terhambat sejak hulu.
Temuan Utama BRIN: Banyak Anak Belum Kuasai Gerak Dasar
Peneliti Pasca doktoral Pusat Riset Pendidikan (PRP) BRIN, Arisco Mardiansyah, menjelaskan bahwa kebiasaan olahraga saat dewasa sangat dipengaruhi oleh kemampuan gerak awal.
"Kalau gerak dasarnya belum dikuasai, mereka akan lebih sulit mempelajari keterampilan olahraga yang spesifik di kemudian hari," kata Arisco Mardiansyah.
Studi terhadap anak usia PAUD hingga sekolah dasar di Sumatera Barat menunjukkan masih banyak anak yang belum menguasai kemampuan gerak dasar secara optimal. Data Indeks Pembangunan Olahraga juga memperlihatkan proporsi anak usia sekolah dengan tingkat kebugaran rendah masih tergolong cukup besar.
Temuan ini konsisten dengan riset Detikcom yang menyebut gerak dasar belum optimal dan minimnya waktu gerak fisik di sekolah.
Mengenal 3 Kelompok Gerak Dasar yang Diukur BRIN
Terdapat tiga kelompok keterampilan gerak dasar, yakni lokomotor seperti berlari dan melompat, manipulatif seperti melempar dan menendang, serta stabilitas untuk menjaga keseimbangan.
1. Lokomotor: Kemampuan memindahkan tubuh dari satu titik ke titik lain. Contoh: berlari, melompat, melompat satu kaki, berlari zig-zag.
2. Manipulatif: Kemampuan mengontrol objek. Contoh: melempar, menangkap bola, menendang, memantulkan bola.
3. Stabilitas: Kemampuan menjaga keseimbangan tubuh. Contoh: berdiri satu kaki, berjalan di garis lurus, berguling.
Anak yang mahir dalam gerakan tersebut cenderung lebih aktif, sedangkan mereka yang mengalami keterbatasan gerak biasanya enggan terlibat dalam aktivitas fisik. Fenomena ini terlihat di lapangan: anak yang belum bisa menangkap bola dengan baik akan menghindari permainan bola.
Instrumen TGMD: Cara BRIN Mengukur Motorik Anak 3-11 Tahun
Untuk mengukur kemampuan fisik anak usia 3-11 tahun, BRIN mengandalkan instrumen Test of Gross Motor Development (TGMD). TGMD membantu para pendidik mengidentifikasi kapasitas motorik setiap siswa agar pola pembelajaran bisa disesuaikan dengan kebutuhan individu.
TGMD adalah standar internasional yang mengukur kualitas gerakan, bukan hanya hasil. Misalnya, bukan sekadar apakah anak bisa melempar, tapi bagaimana pola gerakannya: apakah koordinasi tangan-mata sudah matang?
Arisco menekankan bahwa perbedaan kemampuan anak harus dipahami berdasarkan tingkat kematangan biologis, bukan sekadar melihat usia kronologisnya.
"Semua anak memiliki potensi. Yang perlu dilakukan adalah memberikan kesempatan agar mereka berkembang sesuai tahapannya. Dari fondasi gerak yang baik, barulah proses identifikasi dan pembinaan bakat olahraga dapat dilakukan secara lebih tepat," kata Arisco Mardiansyah.
Artinya, anak usia 7 tahun yang belum bisa melompat seimbang bukan berarti tidak berbakat, tapi mungkin belum mendapat stimulasi yang cukup.
Akar Masalah: Kurikulum Padat, Jam Penjas Minim, dan Gadget
Para ahli yang dikutip dalam riset BRIN menyoroti minimnya waktu gerak fisik di sekolah akibat padatnya kurikulum akademik. Beberapa sekolah hanya memiliki 1-2 jam pendidikan jasmani per minggu, itupun sering terpotong upacara atau digunakan untuk mengejar materi akademik.
Faktor lain:
- Screen time tinggi: Anak lebih banyak duduk bermain gadget daripada bermain fisik di luar ruangan.
- Kurangnya guru Penjas yang kompeten di PAUD: Banyak PAUD belum memiliki guru khusus motorik.
- Lingkungan yang tidak mendukung: Minimnya ruang bermain aman di perkotaan.
Padahal, usia sekolah dasar menjadi waktu yang ideal untuk membangun fondasi yang kuat bagi perkembangan fisik dan motorik anak-anak, yang akan berdampak positif pada kehidupan di masa mendatang.
Implikasi Kurikulum dan Rekomendasi Mendesak dari BRIN
Temuan BRIN ini memiliki implikasi besar bagi kebijakan pendidikan dan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Hulu pembinaan merupakan titik awal upaya untuk menemukan bakat-bakat olahraga di antara belantara jutaan anak-anak Indonesia usia belia, yang duduk di bangku sekolah dasar.
Rekomendasi BRIN:
- Penguatan Pendidikan Jasmani Terstruktur Sejak Dini: Tidak sekadar bermain bebas, tapi aktivitas fisik yang dirancang untuk melatih lokomotor, manipulatif, dan stabilitas secara sistematis.
- Integrasi Gerak dalam Kurikulum: Gerak tidak hanya di jam Penjas, tapi diintegrasikan dalam pembelajaran tematik PAUD-SD.
- Pelatihan Guru: Guru PAUD dan SD perlu dilatih menggunakan instrumen seperti TGMD untuk identifikasi dini.
- Intervensi Berbasis Kematangan Biologis: Pembelajaran disesuaikan dengan tahap perkembangan anak, bukan paksaan target usia kronologis.
Kompetensi motorik sejak usia dini adalah fondasi pembinaan atlet dan kualitas SDM. Tanpa fondasi gerak yang baik, mustahil mencetak atlet berprestasi dan generasi yang bugar.







0 Komentar