Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2025: Status Terkini, Analisis Anggaran, dan Sorotan Kritis Ahli Gizi

Nov 4, 2025

infopendidikan.bic.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terus berjalan setelah diluncurkan secara bertahap sejak awal tahun 2025. Setelah hampir sepuluh bulan implementasi, fokus publik dan para ahli kini bergeser dari "apakah program ini akan berjalan" menjadi "bagaimana kualitas dan tata kelolanya". Meskipun tidak ada […]

Siswa sekolah antre untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang higienis dan terorganisir

infopendidikan.bic.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terus berjalan setelah diluncurkan secara bertahap sejak awal tahun 2025. Setelah hampir sepuluh bulan implementasi, fokus publik dan para ahli kini bergeser dari "apakah program ini akan berjalan" menjadi "bagaimana kualitas dan tata kelolanya".

Meskipun tidak ada perkembangan kebijakan besar dalam 7 hari terakhir, diskusi hangat mengenai program ini masih berpusat pada dua isu utama: skalabilitas anggaran dan efektivitas gizi.

Status Implementasi dan Skalabilitas Anggaran Makan Bergizi Gratis

Program MBG, yang menyasar puluhan juta penerima manfaat mulai dari siswa PAUD, SD, SMP hingga SMA, telah berjalan dengan mekanisme Dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Analisis terbaru menyoroti potensi perubahan signifikan dalam alokasi dana:

  • Anggaran Awal: Program ini dialokasikan sebesar Rp 335 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.
  • Potensi Peningkatan: Berdasarkan informasi dari pertengahan Oktober 2025, Menteri Koordinator Bidang Pangan mengindikasikan bahwa anggaran program MBG berpotensi meningkat hingga Rp 140 triliun pada tahun 2025 untuk memastikan jangkauan dan kualitas yang lebih baik.
  • Target: Peningkatan ini sejalan dengan target pemerintah untuk menjangkau lebih banyak penerima manfaat secara bertahap sepanjang tahun.

Meskipun demikian, rincian mengenai mekanisme penambahan anggaran ini dan bagaimana alokasinya untuk mencegah kebocoran masih menjadi perbincangan.

Sorotan Kritis dari Akademisi dan Ahli Gizi

Seiring berjalannya program, para akademisi dan ahli gizi memberikan catatan kritis untuk perbaikan. Isu yang diangkat bukan lagi sekadar ketersediaan makanan, tetapi pada presisi dan dampaknya.

Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam sebuah rilis pertengahan Oktober lalu menyoroti program ini dengan frasa "Memenuhi Ambisi, Kurang Presisi". Mereka menekankan bahwa tanpa tata kelola yang baik dan presisi dalam distribusi, program ambisius ini berisiko tidak mencapai tujuannya secara efektif. (Sumber: feb.ugm.ac.id)

Para ahli gizi, termasuk dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), juga memberikan catatan penting:

  1. Fokus pada Kualitas Gizi: Para ahli menekankan bahwa MBG tidak boleh hanya dilihat sebagai "program bagi-bagi makanan", tetapi harus menjadi "program intervensi gizi". Ini berarti menu yang disajikan harus benar-benar terukur kandungan gizinya, bukan sekadar mengenyangkan.
  2. Pemanfaatan Pangan Lokal: Ada desakan kuat agar menu MBG memberdayakan kearifan lokal. Penggunaan sumber pangan lokal (misalnya, mengganti nasi dengan sagu atau singkong di daerah tertentu) diyakini lebih berkelanjutan, mendukung ekonomi petani lokal, dan mencegah kebosanan menu.
  3. Evaluasi Dampak: Para ahli meminta adanya evaluasi status gizi penerima manfaat secara berkala. Program ini harus bisa menjawab pertanyaan: "Apakah status gizi anak-anak membaik setelah menerima MBG?"
  4. Standar Kebersihan: Beberapa laporan menyoroti pentingnya standar higienitas di SPPG. SPPG yang dikelola Polri sempat disebut sebagai salah satu role model dalam hal kebersihan dan manajemen dapur.

Ingin terus mendapatkan update seputar dunia pendidikan dari kami?
Ayo gabung ke Saluran WhatsApp Info Pendidikan BIC

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *