Perusahaan AI Punya Proyek Musnahkan Buku Fisik, Pakar Soroti Bahaya Deep Reading & Monopoli Ilmu

Agu 8, 2026

Anthropic & perusahaan AI borong hingga 2 juta buku langka lewat Project Panama, jilid dipotong & fisik dihancurkan usai scan. Ketua FPDI UMY Dr. Joko Santoso warning: ini alarm matinya sumber asli, risiko monopoli ilmu, dan hancurnya kemampuan deep reading siswa.

Buku-buku langka dihancurkan demi melatih AI

Sorotan utama:

  • Ancaman Deep Reading: Pakar literasi soroti hilangnya buku fisik mengikis kemampuan baca mendalam siswa. Penelitian UNIMED: 45,8% mahasiswa nilai buku cetak lebih efektif untuk pemahaman kompleks dibanding layar.
  • Fakta Project Panama: Anthropic (pembuat Claude) borong 500 ribu - 2 juta buku fisik dalam 6 bulan, jilid dipotong paksa, dipindai OCR kecepatan tinggi, lalu dihancurkan jadi bubur kertas untuk latih AI.
  • Pemicu Data Wall: Perusahaan AI kehabisan data digital di internet, butuh karya murni manusia yang belum pernah digital. Manfaatkan ISBNdb untuk pesan 1 juta buku sekaligus, termasuk buku langka abad 16-17 dari toko antik Haarlem Belanda.
  • Bahaya Hak Cipta & Monopoli: Anthropic digugat penulis sejak akhir 2024, didenda $1,5 miliar ($3.000/buku). Ketua FPDI Dr. Joko Santoso ingatkan: jika fisik musnah dan digital dikuasai korporasi, akses ilmu gratis lewat perpustakaan terancam jadi layanan berbayar.

Sebuah perusahaan teknologi AI mengungkap rencana ambisius untuk mendigitalisasi jutaan buku fisik yang berpotensi menghapus ekosistem penerbitan cetak, di mana pakar dari Indonesia menyoroti bahaya jangka panjang mulai dari isu hak cipta masif hingga hilangnya kemampuan baca mendalam (deep reading) siswa.

Kenapa Ini Penting Buat Pendidikan?

Pemerintah Indonesia baru saja mendorong redesain buku ajar dan budaya baca wajib. Di sisi lain, raksasa AI justru menghancurkan buku fisik secara massal. Dua arah berlawanan ini menempatkan ekosistem literasi di persimpangan kritis: apakah digitalisasi berarti pelestarian atau pemusnahan?

Terungkap: Project Panama - Beli, Potong, Scan, Hancurkan

Fenomena memprihatinkan melanda dunia perbukuan global. Perusahaan AI raksasa asal Silicon Valley dilaporkan memborong jutaan buku langka. Isi buku dipindai menggunakan teknologi berkecepatan tinggi. Setelah proses digitalisasi selesai, salinan fisik aslinya dihancurkan.

Praktik ini mulai terendus setelah sejumlah toko buku langka mencurigai lonjakan permintaan tidak biasa. Pieter de Vries, pemilik toko buku kuno di Haarlem, Belanda yang mengoleksi peta dan cetakan abad ke-16 dan ke-17, pada pertengahan Juni lalu dihubungi perwakilan perusahaan 2077 AI yang bermaksud membeli sekitar 3.000 judul buku sekaligus.

Para pedagang menjelaskan fenomena dipicu kondisi data wall, yaitu ketika perusahaan AI mulai kehabisan sumber data digital di internet. Akibatnya, perusahaan butuh karya asli buatan manusia yang belum pernah dipublikasikan digital. Tren menguat setelah Anthropic merekrut mantan eksekutif Google Books, Tom Turvey.

Dalam proyek tersebut, perusahaan membeli, memindai, dan kemudian memusnahkan secara fisik antara 500.000 hingga 2 juta buku dalam kurun waktu enam bulan demi melatih algoritma agar mampu berpikir dan menulis selayaknya manusia.

Modusnya brutal: buku dibeli jutaan dolar (sebagian besar bekas), jilid dilepas, dipotong sesuai dimensi, lalu masuk mesin pemindai Optical Character Recognition (OCR). Dalam hitungan detik, buku utuh berubah jadi tumpukan kertas tak berbentuk, lalu didaur ulang jadi bubur kertas.

Gugatan $1,5 Miliar dan Jejak Buku Bajakan

Gugatan dilayangkan sejak akhir 2024 menuding Anthropic melanggar hak cipta karena memindai dan menggunakan buku tanpa izin. Dokumen pengadilan ungkap salah satu pendiri Anthropic, Ben Mann, sebelumnya mengunduh lebih dari 7 juta buku bajakan dari shadow libraries lewat Applebot sebelum beralih ke pendekatan "legal" beli fisik.

Hakim Alsup menegaskan: "Membeli salinan fisik tidak membebaskan dari tanggung jawab hukum jika sebelumnya memakai konten bajakan."

Hasil putusan: Anthropic wajib membayar $1,5 miliar kepada penulis ($3.000 per buku), memusnahkan dokumen bajakan dan semua salinannya, tapi tetap mempertahankan hak atas buku yang diperoleh dan dipindai secara sah. Kasus ini jadi peringatan serius etika dan legalitas pelatihan AI.

Perusahaan juga sengaja menghancurkan fisik untuk menghemat waktu sekaligus menghindari persoalan hak cipta - karena jika buku fisiknya masih ada, mereka harus menyimpan dan mempertanggungjawabkan.

Suara Pakar Indonesia: FPDI Sebut Ini Alarm Bahaya

Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Dr. Joko Santoso, M.Hum., menilai praktik pemusnahan massal sebagai sinyal bahaya bagi ilmu pengetahuan.

Pernyataan disampaikan di UMY Student Dormitory, Selasa (4/8/2026).

"Ketika buku sudah didigitalisasi lalu dimusnahkan, perpustakaan memandang hal itu sebagai alarm. Bagaimanapun juga, buku cetak tetap menjadi dasar untuk mengecek kembali sumber aslinya. Jika informasi hanya mengandalkan hasil digitalisasi, siapa yang menjamin tidak ada perubahan isi? Oleh karena itu, tugas perpustakaan adalah memastikan sumber asli tetap dapat ditelusuri," ujar Joko.

Ia tambahkan buku cetak edisi pertama merupakan representasi autentik dari penulis. Keberadaan naskah fisik asli harus tetap dipertahankan sebagai rujukan utama dan bentuk pertanggungjawaban akademik.

3 Bahaya Jangka Panjang yang Disoroti

1. Hilangnya Otentikasi Sumber - Kebenaran Terancam
Jika sumber asli musnah, verifikasi fakta jadi mustahil. Siapa yang jamin hasil OCR tidak ada kesalahan, perubahan, atau halusinasi AI? Perpustakaan kehilangan fungsi sebagai penjaga kebenaran.

2. Monopoli Pengetahuan dan Akhir Akses Gratis
Jika seluruh pengetahuan beralih ke digital dan dikuasai perusahaan AI komersial, masyarakat bisa bergantung pada layanan berbayar. Padahal perpustakaan menjamin hak memperoleh informasi gratis.

"Jika seluruh pengetahuan beralih ke digital dan dikuasai perusahaan AI, masyarakat bisa bergantung pada layanan berbayar. Padahal, perpustakaan menjamin hak masyarakat untuk memperoleh informasi secara gratis. Jangan sampai akses pengetahuan tidak lagi bebas karena dikuasai pihak tertentu," tegasnya.

3. Matinya Deep Reading - Siswa Gagal Paham Kompleks
Ini bahaya yang paling dekat dengan dunia pendidikan. Pakar literasi soroti: membaca di layar melatih skimming cepat, tapi buku fisik melatih deep reading - kemampuan membaca mendalam, konsentrasi lama, dan pemahaman kompleks.

Penelitian preferensi membaca mahasiswa UNIMED menunjukkan 45,8% menilai buku cetak lebih efektif untuk pemahaman. Di era AI yang bisa kasih ringkasan instan, siswa makin terjebak malas intelektual: tidak terbiasa merumuskan pertanyaan kritis, tidak verifikasi akurasi, dan pasif.

AI dapat memberikan ringkasan isi buku, kemudahan ini menjadi jebakan jika selalu menggunakan alat untuk menyederhanakan isi buku tanpa membacanya secara utuh.

Digitalisasi Seharusnya Pelestarian, Bukan Pemusnahan

Meski mengecam, FPDI menegaskan digitalisasi tetap penting, tapi tujuannya harus preservation (pelestarian) dan accessibility (perluas akses), bukan pemusnahan.

FPDI mendorong isi naskah kuno dihidupkan lewat media modern seperti multimedia, komik, dan animasi agar relevan bagi generasi muda tanpa menghilangkan jejak sejarah fisiknya. Digitalisasi harus memanusiakan manusia, bukan menggantikan peran buku.

Ingin terus mendapatkan update seputar dunia pendidikan dari kami?
Ayo gabung ke Saluran WhatsApp Info Pendidikan BIC

Logo BIC Circle s512

Admin BIC

(Tim Konten Pendidikan)

Tentang Penulis:

Admin BIC adalah tim pengelola konten di bawah naungan Bimbingan Belajar Indonesia Cerdas (BIC). Dengan latar belakang pengalaman lebih dari 10 tahun di dunia pendidikan, Admin BIC terdiri dari para tutor, konsultan pendidikan, dan spesialis konten digital yang berkomitmen menyediakan informasi akurat, praktis, dan bermanfaat bagi siswa, orang tua, maupun pencari kerja.

iklan

Bimbel TKA SMA 2026

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

Bimbel TKA SD-SMP 2027

Belajar lebih efektif. Nilai lebih maksimal

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *