Pelajar MTsN Perkuat Posisi Indonesia dalam Sains Terpadu IJSO 2025 di Rusia

Dec 9, 2025

Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Banyuwangi, Reyno Felix Altair Hidayat, berhasil meraih Medali Perak di International Junior Science Olympiad (IJSO) 2025 di Sochi, Rusia. Prestasi ini menegaskan kekuatan fondasi Indonesia dalam penguasaan sains terpadu (Fisika, Biologi, Kimia) di tingkat global.

Enam Medali IJSO 2025: Bukti Konsistensi Mutu Pembinaan STEM Indonesia di Panggung Sains Global

JAKARTA, INFOPENDIDIKAN.BIC.ID – Di tengah fokus nasional pada Kecerdasan Artifisial (AI) dan teknologi, prestasi di bidang sains dasar kembali menjadi sorotan. Pelajar Indonesia mengukir prestasi gemilang dengan membawa pulang Medali Perak dari ajang International Junior Science Olympiad (IJSO) 2025 yang diselenggarakan di Sochi, Rusia, pada 23 November hingga 2 Desember 2025.

Peraih medali perak tersebut adalah Reyno Felix Altair Hidayat, seorang siswa berprestasi dari Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Banyuwangi. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi institusi madrasah, tetapi juga memperkuat fondasi Indonesia dalam penguasaan ilmu pengetahuan alam terpadu di kancah internasional.  

IJSO: Ujian Komprehensif Sains Terpadu

International Junior Science Olympiad (IJSO) adalah kompetisi sains bergengsi yang dirancang untuk menguji kemampuan pelajar tingkat sekolah menengah pertama (SMP/MTs) dalam ilmu pengetahuan alam terpadu, yang secara simultan mencakup disiplin Fisika, Biologi, dan Kimia.  

Pada perhelatan IJSO 2025 di Sochi, Rusia, yang diikuti oleh 123 peserta dari 21 negara, Reyno Felix menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berhasil meraih Medali Perak, sementara lima delegasi Indonesia lainnya meraih Medali Perunggu.  

Kompetisi ini terkenal dengan tingkat kesulitannya yang tinggi, yang menuntut peserta tidak hanya memiliki pengetahuan mendalam di setiap bidang sains, tetapi juga kemampuan analitis, kreativitas, dan ketelitian yang luar biasa.  

Perjuangan dan Pembinaan Intensif menuju Podium Rusia

Keberhasilan Reyno Felix mencapai podium di Rusia adalah hasil dari proses pembinaan yang panjang dan bertahap. Menurut pengakuan Reyno di Banyuwangi, perjalanan ini dimulai dari jenjang kompetisi lokal di tingkat kabupaten/kota, kemudian berlanjut ke tingkat provinsi dan nasional melalui Olimpiade Sains Nasional (OSN).  

"Berkat kerja keras, dedikasi belajar, dan dukungan intensif dari madrasah dan orang tua, akhirnya saya bisa masuk dalam tim nasional yang dibina oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah," jelasnya.  

Reyno juga menyoroti kompleksitas soal di IJSO. Ia menjelaskan bahwa soal-soal olimpiade tersebut sangat rumit, setara dengan tingkat perkuliahan S1. Bagian yang paling menantang adalah sesi eksperimen, di mana fisika, biologi, dan kimia saling terkait satu sama lain, menuntut pemahaman holistik untuk memecahkan masalah lintas disiplin. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pembinaan sains di Indonesia sudah mencapai level yang mampu mempersiapkan siswa menghadapi standar akademik global tertinggi.  

Signifikansi Madrasah dan Sains Dasar

Prestasi yang diraih oleh pelajar dari Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) ini membawa makna penting bagi peta pendidikan nasional. Hal ini membuktikan bahwa institusi pendidikan di bawah Kementerian Agama (Kemenag) dan Kemendikdasmen memiliki potensi yang setara dalam mencetak talenta unggul di bidang sains murni.

Di saat agenda pendidikan nasional tengah gencar mendorong Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) sebagai mata pelajaran pilihan , kemenangan di IJSO menegaskan perlunya keseimbangan. Inovasi sejati dalam AI dan teknologi mutakhir hanya dapat dicapai jika didukung oleh fondasi ilmu pengetahuan dasar (Fisika, Biologi, Kimia) yang kuat.  

Dengan adanya prestasi di sains terpadu ini, Indonesia mendapatkan validasi bahwa fokus pada STEM dan penguasaan ilmu alam tetap menjadi prioritas strategis. Kemenangan ini harus menjadi pendorong bagi seluruh sekolah, baik negeri maupun madrasah, untuk meningkatkan kualitas laboratorium dan metodologi pembelajaran sains terpadu.  

Tantangan Mensekalakan Keunggulan

Meskipun prestasi ini membanggakan, tantangan yang dihadapi pemerintah tetap besar: bagaimana mensekalakan keunggulan yang dicapai oleh sekelompok kecil delegasi yang dibina Puspresnas ke seluruh 288.000 sekolah yang menjadi target digitalisasi.  

Metodologi pembelajaran dan pelatihan intensif yang berhasil menghasilkan juara IJSO perlu didesentralisasi dan diadaptasi agar dapat diakses oleh lebih banyak siswa, terutama yang berada di daerah 3T. Hal ini memerlukan dukungan infrastruktur digital yang optimal, sebagaimana dicanangkan oleh program digitalisasi nasional, serta peningkatan masif pada kompetensi guru sains di seluruh daerah. Keberlanjutan prestasi Indonesia di kancah global bergantung pada pemerataan kualitas pembinaan, bukan hanya pada keberadaan segelintir talenta super.

Ingin terus mendapatkan update seputar dunia pendidikan dari kami?
Ayo gabung ke Saluran WhatsApp Info Pendidikan BIC

Tag: ijso | madrasah

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *