Infopendidikan.bic.id — Partisipasi perempuan dalam program Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) di perguruan tinggi meningkat 22 persen pada semester ganjil 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu tercatat dalam laporan triwulanan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Peningkatan terjadi setelah dua tahun pelaksanaan program pendampingan khusus perempuan yang dimulai sejak 2024. Program tersebut dirancang untuk mengatasi hambatan struktural dan kultural yang selama ini membuat mahasiswi enggan memilih jurusan teknik, informatika, dan sains murni. Hasil awal menunjukkan pergeseran signifikan di kampus negeri maupun swasta.
Laporan mencatat kenaikan paling tinggi terjadi pada program studi teknik komputer, sistem informasi, dan teknik elektro, dengan pertumbuhan mahasiswi baru mencapai lebih dari seperempat. Di sisi lain, program studi teknik mesin dan teknik sipil masih didominasi laki-laki, meski gap-nya mulai menyempit.
Program pendampingan yang berjalan sejak 2024
Lonjakan ini tidak terjadi tiba-tiba. Pada 8 Mei 2024, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi bersama Yayasan Daya Saing Anak Bangsa (Markoding) meluncurkan program Perempuan Inovasi 2024. "Sebagai upaya mendukung pengembangan potensi generasi muda Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) terus memperkuat komitmennya... salah satunya dengan kerja sama dengan Markoding yang telah menghasilkan program Perempuan Inovasi 2024 dan resmi diluncurkan pada hari Rabu (08/05/2024)".
Program itu menyediakan mentor perempuan dari industri, beasiswa pelatihan coding, serta kelas persiapan masuk jurusan STEM. Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi saat itu, Kiki Yuliati, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. "Dalam pemberdayaan anak bangsa, terutama di Indonesia, dibutuhkannya kerja sama multri sektoral antara pemerintahan dan sektor lainnya. Melalui kerja sama ini, kami terus berusaha untuk meningkatkan peran perempuan dalam dunia teknologi dan inovasi, serta kesadaran terhadap isu kesetaraan gender".
Sejak 2024, model pendampingan diperluas ke perguruan tinggi melalui unit kegiatan mahasiswa dan pusat karier. Mentor tidak hanya mengajari Python atau analisis data, tetapi juga mendampingi mahasiswi dalam menghadapi bias di laboratorium dan ruang kelas yang didominasi laki-laki.
Potret kesenjangan yang hendak ditutup
Konteksnya penting. Data yang dirilis bersamaan dengan peluncuran program 2024 menunjukkan ketimpangan yang dalam. "Di Indonesia, jumlah perempuan yang bekerja di bidang teknologi hanya sebesar 27 persen, akademisi perempuan di institut teknologi sebesar 35,7 persen, dan dokter perempuan yang menempuh pendidikan spesialis sebesar 41,6 persen".
Angka-angka itu menjelaskan mengapa kenaikan 22 persen pada 2026 terasa signifikan. Bukan sekadar statistik, melainkan koreksi atas stigma lama bahwa STEM adalah dunia laki-laki. Kiki Yuliati pernah mengingatkan bahwa "untuk bidang studi yang terkait dengan STEM, masih didominasi oleh murid laki-laki. Hal ini didukung oleh stigma publik yang membuat peserta didik memilih jurusan atau bidang pendidikan berdasarkan gender, dibandingkan minat dan bakat setiap peserta didik".
Konteks Penting di Balik Angka 22 Persen
Kenaikan 22 persen tidak bisa dibaca sebagai garis lurus menuju kesetaraan. Di balik angka itu ada dinamika yang lebih rumit.
Pertama, pertumbuhan terjadi paling cepat di universitas besar di Jawa dan Sumatera yang sudah memiliki ekosistem pendukung — asrama perempuan, dosen perempuan senior, dan kemitraan industri. Di kampus-kampus kecil di Indonesia Timur, kenaikan masih di bawah 10 persen karena keterbatasan laboratorium dan mentor. Tanpa intervensi khusus, kesenjangan antarwilayah berisiko melebar meski angka nasional naik.
Kedua, program pendampingan bekerja paling efektif ketika digabungkan dengan insentif finansial. Mahasiswi yang mendapat bantuan biaya hidup selama magang di startup teknologi memiliki tingkat bertahan di jurusan STEM 1,8 kali lebih tinggi dibanding yang hanya mendapat mentoring. Hingga kini belum ada skema nasional yang mengikat beasiswa dengan kewajiban magang di industri STEM, padahal itu yang membuat mahasiswi bertahan.
Ketiga, kenaikan partisipasi belum otomatis berarti kenaikan kepemimpinan. Data internal beberapa fakultas teknik menunjukkan mahasiswi memang lebih banyak mendaftar, tetapi proporsi mereka di posisi asisten laboratorium, ketua himpunan, dan penulis pertama publikasi masih di bawah 30 persen. Tanpa perubahan budaya di dalam kampus, peningkatan jumlah berisiko berhenti di pintu masuk.
Keempat, stigma tidak hilang hanya karena ada program. Banyak mahasiswi melaporkan masih diminta "membuktikan diri lebih keras" di kelas pemrograman. Beberapa dosen — tanpa sadar — memberikan tugas administratif kepada mahasiswi sementara mahasiswa laki-laki diberi tugas coding yang kompleks. Perubahan kurikulum tanpa pelatihan bias implisit bagi dosen tidak akan cukup.
Dari vokasi ke universitas
Menariknya, fondasi kenaikan di universitas justru dibangun di SMK. Data 2023/2024 menunjukkan dari 4,99 juta murid SMK, 2,14 juta adalah perempuan. Angka yang hampir seimbang ini menjadi pipa talenta potensial untuk STEM perguruan tinggi, asalkan stigma jurusan bisa dipatahkan.
Pendidikan vokasi memang dirancang untuk itu. "Vokasi sebagai Pendidikan yang menitikberatkan pada penguasaan keahlian atau keterampilan terapan tertentu, menjadi pemegang peran kunci dalam membekali setiap anak bangsa, baik laki-laki maupun perempuan. Agar bisa terjun langsung dalam dunia kerja atau industri, hingga bersaing secara global di masa depan, termasuk dalam bidang STEM".
Program Perempuan Inovasi memanfaatkan pipa ini dengan merekrut lulusan SMK perempuan untuk bootcamp intensif sebelum kuliah. Mereka yang lolos mendapat surat rekomendasi ke politeknik dan universitas mitra.
Apa yang belum diumumkan
Meski laporan menyebut kenaikan 22 persen, beberapa rincian penting belum dibuka ke publik. Hingga pertengahan April, belum ada rincian resmi tentang distribusi kenaikan per provinsi, per jenis perguruan tinggi, dan per kelompok ekonomi. Publik juga belum mengetahui berapa persen mahasiswi penerima program pendampingan yang benar-benar lulus tepat waktu, dan berapa yang beralih jurusan di tengah jalan.
Informasi lain yang masih ditunggu adalah mekanisme pendanaan jangka panjang. Program 2024-2025 banyak ditopang dana CSR dan hibah filantropi. Belum ada komitmen APBN yang mengunci anggaran pendampingan perempuan STEM hingga 2029. Tanpa kepastian itu, kenaikan 22 persen berisiko menjadi puncak sesaat, bukan tren berkelanjutan.
Dampak awal di ruang kelas
Di lapangan, perubahan sudah terasa. Di Universitas Gadjah Mada, kelas pengantar kecerdasan artifisial semester ganjil 2026 memiliki komposisi 42 persen mahasiswi, naik dari 31 persen tahun sebelumnya. Dosen melaporkan dinamika diskusi berubah: lebih banyak pertanyaan tentang etika algoritma dan dampak sosial teknologi.
Di Institut Teknologi Bandung, komunitas Women in Engineering mencatat peningkatan anggota aktif dari 180 menjadi 290 dalam setahun. Mereka kini rutin mengadakan sesi peer-mentoring untuk mata kuliah kalkulus dan struktur data — dua mata kuliah yang sebelumnya memiliki tingkat drop-out tinggi di kalangan mahasiswi.
Perubahan ini penting karena partisipasi bukan hanya soal angka. Ketika mahasiswi melihat kakak tingkat perempuan menjadi asisten laboratorium, mereka lebih mungkin bertahan.
Tantangan yang masih mengadang
Kenaikan 22 persen tidak menghapus tantangan struktural. Pertama, beban ganda. Banyak mahasiswi STEM masih diharapkan membantu pekerjaan domestik sambil mengejar tugas laboratorium yang memakan waktu hingga larut malam. Tanpa asrama kampus yang aman dan terjangkau, sebagian memilih jurusan yang dianggap "lebih ringan".
Kedua, kurangnya role model di industri. Dengan hanya 27 persen perempuan bekerja di teknologi, mahasiswi kesulitan membayangkan jalur karier jangka panjang. Program magang yang mempertemukan mahasiswi dengan CTO perempuan masih terbatas di Jakarta dan Bandung.
Ketiga, kurikulum yang belum responsif gender. Contoh soal di buku teks teknik masih sering menggunakan tokoh laki-laki sebagai insinyur dan perempuan sebagai pengguna. Perubahan kecil seperti ini memengaruhi rasa memiliki terhadap bidang.
Menutup jarak, bukan sekadar mengejar angka
Target akhir program bukan sekadar mencapai 50-50. Tujuannya adalah menutup jarak kesenjangan gender dalam bidang teknologi, baik dalam akses, prestasi, maupun kepemimpinan. Kenaikan 22 persen adalah indikator awal bahwa intervensi yang tepat — pendampingan, mentor sebaya, dan penghapusan stigma — bekerja.
Namun pekerjaan rumah masih panjang. Tanpa integrasi program ke dalam sistem penerimaan mahasiswa, tanpa insentif bagi dosen pembimbing perempuan, dan tanpa pelacakan alumni jangka panjang, angka bisa kembali turun ketika perhatian publik bergeser.
Badan Pengembangan SDM Dikti dalam laporannya menekankan perlunya peta jalan lima tahun. Peta itu harus mencakup target bukan hanya jumlah pendaftar, tetapi juga retensi, kelulusan tepat waktu, dan proporsi mahasiswi di posisi kepemimpinan akademik.
Implikasi ke depan
Jika tren 22 persen bertahan hingga 2027, Indonesia akan memiliki tambahan sekitar 35 ribu mahasiswi STEM baru setiap tahun. Dalam lima tahun, itu berarti lebih dari 150 ribu talenta perempuan siap masuk industri digital, manufaktur hijau, dan riset kesehatan.
Dampak ekonominya nyata. Studi global konsisten menunjukkan tim yang beragam gender menghasilkan inovasi lebih tinggi dan keputusan yang lebih baik. Bagi Indonesia yang mengejar target ekonomi digital 400 miliar dolar AS pada 2030, partisipasi perempuan bukan isu keadilan semata, melainkan strategi daya saing.
Lebih penting lagi, kenaikan ini mengirim sinyal ke siswi SMA di seluruh Indonesia: laboratorium, ruang server, dan papan sirkuit bukan ruang terlarang. Dengan pendampingan yang tepat, mereka bisa masuk, bertahan, dan memimpin.
Semester ganjil 2026 mungkin akan dikenang bukan karena angkanya, tetapi karena untuk pertama kalinya, pintu STEM terbuka lebih lebar — dan perempuan berjalan masuk dengan percaya diri.




0 Comments