Sorotan utama:
- Top 6 Asia Versi OECD 2025: 1. Jepang 57% (peringkat 3 global), 2. Korea Selatan 56% (peringkat 5 global), 3. Israel (peringkat 5 global Asia), 4. Singapura (peringkat 10 global), 5. China 19% / 267,52 juta jiwa (peringkat 44 global), 6. Turki / Indonesia (peringkat 46 global versi Publika). Indikator: angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan proporsi lulusan pendidikan tinggi usia 25-64 tahun.
- Posisi Indonesia di Asia: Indonesia di peringkat 46 global dengan total populasi berpendidikan tinggi mencapai 36,6 juta jiwa, di bawah China 267,52 juta jiwa. Secara persentase masih di bawah Jepang-Korsel, tapi secara kuantitas masuk 3 besar Asia bersama China dan India (203 juta jiwa).
- Posisi Indonesia di ASEAN: Singapura memimpin ASEAN dengan rata-rata lama sekolah 11,5 tahun, Malaysia 10,2 tahun, Indonesia 8 tahun, Thailand 7,6 tahun. Di sistem pendidikan terbaik ASEAN, Indonesia peringkat 5 setelah Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand, dan peringkat 67 dunia versi CEOWorld 2025.
- Konteks Reformasi: Peringkat ini menjadi bahan refleksi di tengah reformasi pendidikan pemerintah: SNT (Seleksi Nasional Terpadu), SMK Go Global 500 ribu lulusan ke 10+ negara, beasiswa bahasa asing PBPU, dan revisi Kurikulum Merdeka yang sedang berjalan untuk kejar ketertinggalan.
Jepang kembali dinobatkan sebagai negara paling berpendidikan di Asia tahun 2025, sementara Indonesia harus puas di papan tengah. Di manakah posisi Indonesia?
Laporan Education at a Glance 2025 dari OECD mengungkapkan daftar negara dengan populasi orang dewasa (25-64 tahun) paling berpendidikan tinggi di dunia berdasarkan persentase lulusan pendidikan tinggi, angka melek huruf, dan rata-rata lama sekolah.
Dari puluhan negara yang dianalisis, terdapat 6 negara Asia yang berhasil masuk daftar tersebut, dengan Jepang dan Korea Selatan di puncak, sementara Indonesia mencatatkan 36,6 juta penduduk berpendidikan tinggi.
Data ini menjadi cermin di tengah gencarnya reformasi pendidikan Indonesia mulai dari SNT, SMK Go Global, hingga Kurikulum Merdeka.
Daftar 6 Negara Paling Berpendidikan Di Asia Versi OECD 2025
Berdasarkan laporan Education at a Glance 2025 yang dirilis oleh OECD, penilaian ini berdasarkan persentase orang dewasa berusia 25–64 tahun yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi:
1. Jepang (57%) - Peringkat 3 Global
Menempati peringkat ke-3 secara global, Jepang menjadi negara Asia dengan persentase populasi berpendidikan tinggi tertinggi. Dengan budaya disiplin dan investasi R&D tinggi, 57% populasinya telah menyelesaikan perguruan tinggi.
2. Korea Selatan (56%) - Peringkat 5 Global
Berada di peringkat ke-5 secara global, Korea Selatan menjadi perwakilan Asia berikutnya. Sistem hagwon dan tekanan akademik tinggi menghasilkan 56% populasi berpendidikan tinggi.
3. Israel - Peringkat 3 di Asia
Mengisi posisi ke-3 di tingkat Asia dan berada pada peringkat global ke-5. Negara ini unggul dalam riset dan startup dengan proporsi lulusan STEM tinggi.
4. Singapura - Peringkat 10 Global
Masuk dalam daftar perwakilan Asia dan menempati peringkat global ke-10. Singapura memiliki rata-rata lama sekolah paling lama di ASEAN yaitu 11,5 tahun.
5. China (19%) - Peringkat 44 Global
Menempati peringkat ke-44 secara global, China memiliki 19% populasi berpendidikan tinggi yang secara jumlah setara dengan 267,52 juta jiwa - terbanyak di dunia secara kuantitas.
6. Indonesia / Turki - Peringkat 46 Global
Indonesia berada di peringkat ke-46 secara global dengan total populasi berpendidikan tinggi mencapai 36,6 juta jiwa. Meski persentase lebih kecil, secara kuantitas Indonesia masuk 3 besar Asia bersama China dan India yang mencapai 203 juta jiwa berpendidikan tinggi.
Meski Jepang memimpin secara persentase di Asia, China dan India menjadi negara dengan jumlah populasi berpendidikan tinggi terbanyak secara kuantitas.
Indonesia Nomor Berapa di ASEAN? Potret Rata-Rata Lama Sekolah
Jika dilihat dari kacamata ASEAN, posisi Indonesia masih harus mengejar.
Data rata-rata lama sekolah negara-negara di ASEAN:
- Singapura: 11,5 tahun (tertinggi)
- Malaysia: 10,2 tahun
- Indonesia: 8 tahun
- Thailand: 7,6 tahun
- Laos: 5,2 tahun
- Myanmar: 4,9 tahun
- Kamboja: 4,8 tahun
Sementara untuk sistem pendidikan terbaik di Asia Tenggara 2025 versi CEOWorld Magazine:
- Singapura peringkat 21 dunia
- Malaysia peringkat 39
- Brunei peringkat 34
- Indonesia peringkat 55 dari 73 negara dalam studi lama, dan peringkat 67 dunia pada 2025
- Indonesia posisi ke-5 di ASEAN, kalah dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand.
Artinya, secara kualitas sistem, Indonesia masih di tengah, namun secara kuantitas penduduk terdidik, Indonesia masuk 4 besar ASEAN dengan skor di atas Vietnam, Thailand, Myanmar dan Kamboja.
Mengapa Indonesia Tertinggal? Refleksi Indesk Pendidikan
Laporan OECD dan PISA 2018 menempatkan Indonesia di 10 negara terbawah. Prestasi pelajar Indonesia termasuk terendah di Asia Tenggara.
Faktor yang disorot:
- Rata-rata lama sekolah baru 8 tahun, belum wajib belajar 12 tahun merata
- Proporsi lulusan pendidikan tinggi masih di bawah 20% dibanding Jepang 57%
- Kualitas guru dan ketimpangan akses antar provinsi
Direktur Pendidikan OECD Andreas Schleicher mengatakan pemeringkatan ini dapat memberi perbandingan sistem pendidikan setiap negara.
Respon Pemerintah - Dari SNT Hingga SMK Go Global Untuk Kejar Ketertinggalan
Peringkat ini menjadi alarm sekaligus momentum reformasi yang sedang dijalankan pemerintah:
1. SNT (Seleksi Nasional Terpadu): Penyempurnaan sistem seleksi masuk perguruan tinggi agar lebih merata dan berbasis kompetensi, bukan hafalan.
2. SMK Go Global: Program Quick Win Presiden Prabowo menargetkan 500.000 lulusan SMK (300rb SMK/SMA + 200rb umum) ke 10+ negara seperti Jepang, Jerman, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Turki, Australia, Maladewa mulai 12 Agustus 2026 via 23 BP3MI. Bertujuan meningkatkan proporsi lulusan tersertifikasi internasional.
3. PBPU & Penguatan Bahasa Asing: Pelatihan Pengajar Bahasa Prancis Unggulan hingga 20 Agustus 2026 via IFI untuk memperkuat daya saing guru.
4. Revisi Kurikulum Merdeka: Fokus pada literasi, numerasi, dan keterampilan anti-AI seperti komunikasi, adaptasi, dan literasi lintas budaya yang justru menjadi nilai plus lulusan humaniora dengan employment rate 93,6% secara global.
Dengan reformasi ini, diharapkan rata-rata lama sekolah Indonesia bisa naik dari 8 tahun menuju 10+ tahun seperti Malaysia, dan persentase penduduk berpendidikan tinggi naik dari peringkat 46 global.




0 Komentar