Mendikdasmen Tanggapi Kritik TKA: Fenomena Bimbel, Opsi Tidak Wajib & Pentingnya Persiapan

Jan 28, 2026

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menanggapi kritik soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang memicu menjamurnya bimbel. TKA bukan wajib namun persiapan belajar matang ditekankan agar siswa tidak nihil kompetensi.

Mendikdasmen Tanggapi Kritik TKA: Fenomena Bimbel, Opsi Tidak Wajib & Pentingnya Persiapan

Oleh: Tim Redaksi

Info Pendidikan BIC, 28 Januari 2026 – Kebijakan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SD dan SMP yang mulai digulirkan tahun ini memang memantik reaksi beragam di masyarakat. Setelah aspek pembiayaan dan logistik menjadi sorotan, kini fokus kritik bergeser ke dampak sosiologisnya: menjamurnya lembaga bimbingan belajar (Bimbel) yang mengklaim spesialisasi menghadapi TKA.

Di tengah hiruk-pikuk kekhawatiran orang tua ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, akhirnya buka suara. Dengan nada yang tenang namun tegas, Mendikdasmen menilai fenomena meningkatnya minat orang tua menyekolahkan anak ke bimbel akibat adanya TKA adalah sesuatu yang wajar dan sudah diprediksi sebelumnya.

"Ini adalah konsekuensi logis dari sebuah kebijakan evaluasi. Masyarakat pasti akan mencari cara untuk memaksimalkan hasil anak mereka. Kita tidak bisa memblokir niat orang tua untuk memberikan tambahan ilmu bagi anaknya," ujar Abdul Mu'ti dalam konferensi persnya di Jakarta, akhir pekan ini.

Namun, di balik sikap tenangnya tersebut, Mendikdasmen menyisipkan pesan pendidikan yang mendalam. Ia mengingatkan bahwa TKA bukanlah ujian yang menentukan hidup mati siswa, namun sebuah alat ukur pemetaan.

Fenomena Bimbel: Ekonomi Pasar versus Kebutuhan Edukasi

Maraknya bimbel yang berlabel "Persiapan TKA" adalah bentuk respon pasar yang sederhana. Ketika ada permintaan (kecemasan orang tua akan hasil tes), maka akan muncul penawaran (layanan bimbel). Para orang tua merasa tidak ingin anaknya "kelihatan bodoh" dalam pemetaan kemampuan akademik skala nasional.

Mu'ti menilai bahwa selama bimbel tersebut memberikan materi yang benar—yaitu memperdalam pemahaman konsep, bukan sekadar drilling soal atau trik menjawab tanpa bernalar—maka hal tersebut justru positif.

"Jika bimbel membantu anak-anak yang tertinggal untuk mengejar ketertinggalan materinya, itu bagus. Tapi jika bimbel hanya mengajarkan cara menebak jawaban tanpa memahami isinya, itu justru merusak tujuan pendidikan kita," tegasnya.

Kritik yang beredar menyebutkan bahwa kehadiran TKA telah menciptakan anxiety (kecemasan) baru di kalangan orang tua yang kemudian ditransfer ke anak-anak. Mendikdasmen menyadari hal ini, namun menegaskan bahwa psikologis masyarakat butuh waktu untuk beradaptasi dengan paradiigma baru evaluasi berbasis pemetaan ini.

TKA Tidak Wajib: Prinsip Kemanusiaan dalam Evaluasi

Salah satu poin penting yang disampaikan Abdul Mu'ti untuk meredakan kepanikan adalah penegasan sifat TKA. TKA bukanlah kegiatan wajib bagi siswa yang secara kondisi psikologis atau kesehatan merasa belum siap menghadapi evaluasi.

Hal ini merupakan pergeseran drastis dibanding era Ujian Nasional (UN) dulu, di mana semua siswa wajib ikut di bawah ancaman tidak lulus.

"Jika ada siswa yang sakit, atau kondisi psikisnya sedang tidak stabil sehingga mengancam kesehatannya jika dipaksa ikut tes, biarkanlah mereka tidak ikut. TKA adalah pemetaan, bukan ajang perang angka. Tidak ada hukuman bagi yang tidak ikut," jelas Mu'ti.

Pernyataan ini menjadi oase ketenangan bagi orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus atau kondisi tertentu. Pemerintah melalui sekolah tetap akan melakukan penilaian (assessment) terhadap siswa-siswa tersebut melalui metode non-tes, seperti observasi kelas, portofolio karya, atau penilaian proyek, sehingga data kemampuan mereka tetap tercatat.

Antara "Tidak Belajar" dan "Belajar Terlalu Keras"

Namun, Mendikdasmen juga meluruskan satu kesalahpahaman. Opsi "tidak wajib" ini tidak boleh disalahartikan sebagai izin bagi siswa untuk tidak belajar sama sekali.

Pernyataan Mu'ti yang menekankan pentingnya persiapan belajar yang matang harus menjadi pedoman. Ia membedakan antara preparing for a test (mempersiapkan diri untuk ujian) dengan learning for understanding (belajar untuk pemahaman).

Kritik yang menyebut TKA memicu budaya "bimbel" harus dimaknai ulang. Budaya belajar itu sendiri sebenarnya baik. Mu'ti menekankan bahwa tujuan utama pendidikan adalah agar anak-anak memiliki kompetensi dasar yang kuat: membaca, memahami bacaan, dan berhitung. Tiga kemampuan ini adalah modal dasar untuk mempelajari ilmu lain.

"Jika anak tidak belajar sama sekali, dan hasil pemetaan menunjukkan dia tidak memiliki kompetensi dasar, itu adalah kegagalan kita bersama. Jadi, silakan belajar, silakan persiapkan diri, tapi jangan jadikan ujian itu sebagai momok yang menakutkan," imbuhnya.

Mengapa Persiapan Itu Penting?

Mendikdasmen menjelaskan bahwa persiapan yang dimaksud bukanlah membeli buku soal terbanyak atau menyewa tutor termahal. Persiapan yang dimaksud adalah kehadiran siswa di kelas dengan penuh perhatian, menghafal konsep dasar yang diajarkan guru, dan berani bertanya ketika tidak paham.

Jika siswa sudah melakukan tugas kewajibannya di sekolah dengan baik, sejatinya mereka sudah siap menghadapi TKA. Bimbel hanyalah pelengkap, bukan substitusi kelas sekolah. Ketergantungan pada bimbel tanpa fokus di kelas adalah indikator pendidikan yang salah.

Di sinilah peran guru menjadi sangat krusial. Tidak cukup hanya mengajar, guru harus bisa memberikan rasa aman pada siswa bahwa apa yang diajarkan di sekolah sudah cukup untuk menjawab TKA. Jangan sampai siswa merasa bahwa materi di kelas tidak relevan dengan soal TKA, sehingga mencari jawaban di luar sekolah.

Evaluasi Akademik Baru: Menuju Pendidikan yang Autentik

Dalam tanggapannya, Abdul Mu'ti juga sempat menyentuh filosofi di balik TKA. Kritik yang menyebut TKA sebagai "alat ukur yang menakutkan" dibantahnya dengan dalih bahwa sebenarnya TKA adalah alat ukur yang lebih manusiawi dibanding UN.

UN dulu menilai hafalan dan keberuntungan menebak. Sementara TKA dirancang untuk mengukur literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir kritis. Soal-soal TKA tidak bisa dikerjakan hanya dengan hafalan rumus, tetapi membutuhkan pemahaman logika.

Oleh karena itu, jika memang ada tren bimbel yang berfokus pada mengajarkan "trik" atau "kuncian" menjawab soal TKA, Mu'ti mengingatkan agar waspada. Trik-trik tersebut tidak akan efektif menghadapi soal-soal TKA yang bersifat berpikir tingkat tinggi. Justru bimbel yang berfokus pada menambal ketidaktahuan konsep dasar siswa yang dianjurkan.

Pesan untuk Orang Tua: Jangan Lestarikan Kecemasan

Di akhir paparannya, Mendikdasmen menyampaikan pesan langsung kepada orang tua siswa di seluruh Indonesia. Ia meminta agar orang tua tidak terjebak dalam pola pikir negatif yang menjadikan ujian sebagai sumber ketakutan.

Pendidikan adalah perjalanan panjang. TKA hanyalah satu titik di peta perjalanan tersebut untuk mengetahui di mana posisi kita saat ini. Jika hasilnya belum maksimal, bukan berarti akhir dunia. Itu adalah tanda bagi guru dan pemerintah untuk memberikan bantuan.

"Jangan salurkan kecemasan bapak ibu pada anak. Biarkan anak-anak belajar dengan senang. Berikan dukungan, jangan tekanan. Tidak ada salahnya mengikuti bimbel jika memang diperlukan, tapi pastikan bimbel tersebut membuat anak lebih paham, bukan semakin bingung," tutupnya.

Tanggapan Abdul Mu'ti ini menjadi penyeimbang di antara pro-kontra kebijakan. TKA hadir bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengukur. Dan mengukur membutuhkan alat yang presisi, serta subjek yang dipersiapkan dengan bijak.

Ingin terus mendapatkan update seputar dunia pendidikan dari kami?
Ayo gabung ke Saluran WhatsApp Info Pendidikan BIC

Tag: dikdasmen | tka

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *