Sorotan utama:
- Peristiwa Utama: Banyak Sekolah Dasar (SD) negeri di Kabupaten Karangasem, Bali, menghadapi krisis pendaftaran siswa baru yang sangat minim pada tahun ajaran 2026/2027.
- Statistik & Kondisi Lapangan: Belasan SD negeri hanya mendapatkan murid di bawah 5 orang. SDN 3 Bukit hanya mencatatkan 2 siswa baru, sementara SDN 6 Bhuana Giri mencatatkan nihil pendaftar. Total murid SDN 3 Bukit dari kelas I hingga VI hanya berjumlah 35 anak.
- Faktor Penyebab: Penurunan populasi usia sekolah di tingkat lokal, fenomena migrasi penduduk usia produktif ke luar daerah (merantau), lokasi geografis sekolah yang berada di wilayah pinggiran, serta tingginya kompetisi karena terdapat 5 SD dalam satu wilayah desa.
- Kebijakan Pembelajaran: Proses belajar mengajar tetap dilanjutkan secara normal demi menjamin hak pendidikan dasar yang setara. Rencana penggabungan (regrouping) sekolah masih dikaji secara mendalam guna menghindari risiko putus sekolah.
- Aktor Kunci: I Made Adriana Putra (Kabid SD Disdikpora Karangasem), Komang Suranata (Kepala SDN 3 Bukit), dan I Wayan Sudira (Ketua Komisi IV DPRD Karangasem).
KARANGASEM — Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karangasem, Bali, mencatat belasan Sekolah Dasar (SD) negeri di wilayah "Gumi Lahar" mengalami krisis kepesertaan didik ekstrem dengan perolehan kurang dari lima murid baru dalam penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026/2027. Di tengah kemerosotan jumlah pendaftar tersebut, otoritas pendidikan setempat menegaskan bahwa kegiatan belajar-mengajar akan tetap dilaksanakan secara normal sesuai dengan standar kurikulum nasional.
Langkah penyesuaian operasional kelas kini mulai dirancang oleh dinas terkait untuk memastikan hak belajar anak-anak di daerah pinggiran tetap terpenuhi. Evaluasi mendalam terhadap tata kelola sekolah dasar sepi peminat juga terus dilakukan demi merespons usulan penggabungan sekolah dari legislatif daerah.
Ironi PPDB: SDN 3 Bukit Hanya Memiliki Dua Siswa Baru saat MPLS
Salah satu potret paling kontras dari penyusutan murid ini terjadi di SDN 3 Bukit yang berlokasi di Dusun Kebon Bukit, Desa Bukit, Kecamatan Karangasem. Pada tahun ajaran baru ini, sekolah tersebut hanya berhasil menjaring dua murid baru yang keduanya merupakan anak laki-laki. Meski hanya diikuti oleh dua peserta didik, pihak sekolah tetap menggelar kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara tatap muka sejak Senin, 13 Juli 2026.
Kepala SDN 3 Bukit Komang Suranata menjelaskan bahwa pelaksanaan MPLS selama satu minggu dirancang secara menyenangkan dan ramah anak dengan bimbingan khusus dari satu orang guru kelas. Suranata memaparkan bahwa minimnya jumlah siswa baru sudah menjadi tren berulang dalam beberapa tahun terakhir di wilayahnya.
"Saat ini, total siswa SD Negeri 3 Bukit berjumlah 35 orang," ungkap Suranata. Ia menambahkan bahwa tidak ada satu pun tingkatan kelas di sekolahnya yang memiliki jumlah murid lebih dari 10 anak. Berdasarkan data sekolah, penyusutan ini dipicu oleh empat faktor utama: minimnya populasi anak usia sekolah di lingkungan sekitar, perpindahan warga ke luar daerah untuk bekerja (merantau), lokasi sekolah yang berada di area pinggiran dusun, serta tingginya kepadatan sekolah dasar di Desa Bukit yang menampung hingga lima unit SD.
| Kelas | Jumlah Siswa SDN 3 Bukit | Status Operasional Kelas |
| Kelas I | 2 siswa | Berjalan normal dengan 1 rombel |
| Kelas II | 4 siswa | Berjalan normal |
| Kelas III | 9 siswa | Berjalan normal |
| Kelas IV | 8 siswa | Berjalan normal |
| Kelas V | 6 siswa | Berjalan normal |
| Kelas VI | 6 siswa | Berjalan normal |
| Total | 35 siswa | Kegiatan belajar berjalan penuh |
Komitmen Layanan: Pembelajaran Tetap Berjalan Sesuai Standar Nasional
Meskipun kuota siswa di belasan sekolah dasar berada jauh di bawah standar pelayanan minimum nasional, Disdikpora Karangasem memastikan tidak akan ada penutupan kelas secara sepihak yang dapat merugikan siswa. Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikpora Karangasem I Made Adriana Putra menegaskan bahwa seluruh proses pembelajaran wajib diselenggarakan secara normal demi memenuhi hak konstitusional anak atas pendidikan dasar.
Adriana berkata bahwa keterbatasan jumlah teman sekelas tidak boleh mengurangi kualitas transfer ilmu dari guru kepada siswa. Pihak dinas juga terus memantau pemenuhan sarana mengajar di sekolah-sekolah minim siswa agar kualitas instruksionalnya tetap setara dengan sekolah perkotaan yang padat murid.
"Proses belajar-mengajarnya nanti juga akan dilaksanakan dengan normal. Karena pendidikan dasar wajib kita penuhi sesuai standar pembelajaran yang ada," kata Adriana.
Pro-Kontra Wacana Regrouping Sekolah Dasar di Karangasem
Menanggapi meluasnya fenomena sekolah sepi peminat di Karangasem, Ketua Komisi IV DPRD Karangasem I Wayan Sudira mendesak eksekutif untuk mengambil tindakan taktis berupa penggabungan sekolah (regrouping) dengan sekolah terdekat. Sudira menilai pemeliharaan sekolah dengan jumlah murid yang sangat sedikit tidak efisien secara anggaran operasional dan berisiko memicu ketimpangan distribusi tenaga guru. Legislator meminta Disdikpora mendata ulang sekolah-sekolah yang konsisten kekurangan murid selama bertahun-tahun agar penggabungan dapat segera dieksekusi.
Namun, rencana penggabungan tersebut ditanggapi secara hati-hati oleh pihak Disdikpora Karangasem. Adriana mengonfirmasi adanya wacana peleburan tersebut, namun menekankan perlunya kajian sosiologis dan geografis yang sangat matang. Menurutnya, kondisi topografi Karangasem yang berbukit membuat jarak antar-sekolah seringkali sulit dijangkau jika harus dipaksakan bergabung. Pemerintah daerah mengkhawatirkan kebijakan regrouping yang terburu-buru justru akan memicu naiknya angka putus sekolah karena kendala transportasi siswa menuju sekolah baru.
"Memang ada gagasan untuk menggabungkan sekolah yang mendapat siswa sedikit, tapi hal tersebut harus dikaji dengan matang dulu," tegas Adriana. Hingga pertengahan Juli 2026, belum ada instruksi ataupun regulasi formal dari Bupati Karangasem maupun kepala dinas terkait eksekusi peleburan sekolah dasar terdampak.






0 Komentar