TKA SD-SMP 2026 Resmi Dimulai: Menggeser Paradigma Ujian ke Pemetaan Kompetensi

Jan 23, 2026

Kemendikdasmen resmi memulai TKA SD-SMP 2026 sebagai alat pemetaan kompetensi siswa. Ujian ini menggantikan paradigma Ujian Nasional lama yang berorientasi kelulusan demi perbaikan kualitas pembelajaran.

TKA SD-SMP 2026 Resmi Dimulai: Menggeser Paradigma Ujian ke Pemetaan Kompetensi

Oleh: Tim Redaksi

Info Pendidikan BIC, 23 Januari 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi memulai persiapan dan sosialisasi pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SD dan SMP yang akan berlangsung pada tahun 2026. Langkah ini menandai babak baru dalam sejarah evaluasi pendidikan nasional, di mana pemerintah secara tegas menggeser fokus dari "ujian kelulusan" menuju "pemetaan kompetensi".

Menteri Pendidikan dalam konferensi persnya menjelaskan bahwa TKA bukanlah instrumen untuk menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa. TKA dirancang murni sebagai diagnosis untuk melihat seberapa jauh pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan.

"Kami ingin mengakhiri era keketutan dan kecurangan yang kerap terjadi karena tekanan kelulusan. TKA 2026 adalah teman bagi guru untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan siswanya, bukan algojo yang menakut-nakuti," ujar Menteri.

Bedanya TKA dengan Ujian Nasional Lama

Perubahan fundamental ini membutuhkan adaptasi bagi sekolah, guru, dan orang tua. Di bawah rezim Ujian Nasional (UN) lama, skor ujian seringkali menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan sekolah dan syarat mutlak bagi siswa untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Hal ini memicu praktik konvoi nilai, kebocoran soal, dan tekanan psikologis tinggi pada anak.

Sebaliknya, TKA hadir dengan paradigma assessment for learning (penilaian untuk pembelajaran). Hasil TKA tidak akan dicantumkan dalam ijazah dan tidak berpengaruh langsung pada kelulusan siswa. Kelulusan siswa SD dan SMP kini sepenuhnya menjadi wewenang sekolah melalui rapor dan penilaian berkelanjutan.

Fungsi TKA adalah untuk menghasilkan data akurat (pemetaan) mengenai capaian kompetensi peserta didik secara nasional. Data ini akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan sekolah untuk melakukan intervensi pembelajaran.

Mekanisme Pelaksanaan dan Teknis

TKA SD-SMP 2026 akan diselenggarakan secara nasional dengan format soal yang beragam. Tidak hanya berupa pilihan ganda, TKA akan mengadopsi format soal yang lebih kognitif untuk mengukur kemampuan berpikir logis, literasi, dan numerasi.

Secara teknis, pelaksanaan TKA akan mengedepankan prinsip inklusivitas dan keadilan. Soal-soal akan dirancang berbasis komputer (CBT) namun tetap disiapkan mekanisme bagi sekolah yang belum memiliki fasilitas memadai.

Jadwal pelaksanaannya pun dirancang tidak bertepatan dengan masa-masa puncak kegiatan akhir tahun ajaran, memberikan ruang bagi siswa untuk mengikuti ujian dengan kondisi fisik dan mental yang prima.

dari "Mengejar Nilai" ke "Memperbaiki Proses"

Dengan dihapusnya beban kelulusan, guru diharapkan dapat fokus melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter dan potensi minat siswa, bukan sekadar drilling soal-soal ujian.

Siklus umpan balik dari hasil TKA akan menjadi kunci. Jika data menunjukkan bahwa sebagian besar siswa di suatu daerah lemah dalam literasi numerasi, maka dinas pendidikan setempat wajib memberikan pelatihan tambahan bagi guru atau memperbaiki kurikulum daerah tersebut.

Hal ini sejalan dengan tujuan utama pendidikan nasional untuk mencetak generasi yang cerdas kritis, bukan generasi yang mahir menjawab soal tapi lemah dalam penerapan ilmu.

Reaksi Orang Tua dan Siswa

Awalnya, kebijakan ini memunculkan kekhawatiran dari sebagian orang tua yang masih berpikiran bahwa tanpa ujian standar nasional, standar kualitas sekolah akan menurun. Namun, Kemendikdasmen menegaskan bahwa akreditasi sekolah akan lebih diperketat untuk menjamin mutu.

"Sekolah yang memberikan nilai rapor asal-asalan akan kena sanksi berat. Kewenangan kelulusan dibebankan kepada sekolah karena sekolah yang paling tahu perkembangan anaknya selama 6 tahun di SD atau 3 tahun di SMP," jelas Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar.

Sementara itu, para siswa menyambut baik kebijakan ini. Mereka merasa beban berat yang selama ini menggantung di pundak akhirnya terangkat. Belajar menjadi lebih menyenangkan karena berfokus pada pemahaman materi, bukan pada strategi menebak jawaban benar.

Menuju Pendidikan yang Berkeadilan

Pelaksanaan TKA SD-SMP 2026 adalah langkah konkret menuju sistem pendidikan yang lebih manusiawi dan berkeadilan. Dengan pemetaan yang akurat, pemerintah dapat membagi sumber daya bantuan kepada daerah atau sekolah yang paling membutuhkan, bukan memberikan perlakuan yang sama untuk kebutuhan yang berbeda.

Transformasi ini membutuhkan waktu dan dukungan dari semua pihak. Namun, satu hal yang pasti: era di mana nilai ujian segala-galanya telah berakhir. Kini, saatnya fokus pada substansi ilmu dan pertumbuhan setiap anak Indonesia.

Ingin terus mendapatkan update seputar dunia pendidikan dari kami?
Ayo gabung ke Saluran WhatsApp Info Pendidikan BIC

Tag: sd | smp | tka

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *