INFOPENDIDIKAN.BIC.ID – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menobatkan diri sebagai mercusuar inovasi pendidikan nasional. Melalui penyelenggaraan Anugerah Leapfrogging 2025 pada Selasa (2/12), program strategis ini secara resmi diakui oleh otoritas pusat, dalam hal ini Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), sebagai best practice nasional.
Program Leapfrogging, yang diluncurkan pada Agustus 2024, merupakan respons cerdas terhadap tantangan klasik yang dihadapi Perguruan Tinggi Swasta (PTS), yaitu keterbatasan sumber daya versus tuntutan peningkatan kualitas. Dalam kurun waktu satu tahun, model ini terbukti efektif dalam mendorong percepatan mutu, tidak melalui intervensi anggaran yang masif, melainkan melalui sinergi dan kolaborasi regional yang inovatif, yang kini diproyeksikan untuk direplikasi di seluruh Indonesia.
Model ini secara fundamental mengubah lanskap pendidikan tinggi, menempatkan semangat maju bersama (sedulur limo) sebagai inti dari strategi peningkatan kompetensi bangsa.
Menumbuhkan Budaya Sinergi Pendidikan
Keberhasilan Program Leapfrogging tidak terletak pada besarnya dana insentif, melainkan pada penanaman filosofi baru dalam ekosistem pendidikan tinggi: kooperasi (kerja sama) yang berujung pada kompetisi sehat.
Direktur Kelembagaan Kemendiktisaintek, Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.TP., M.M., menegaskan bahwa kunci utama dari pengakuan ini adalah kemampuan LLDIKTI V untuk menyeimbangkan dua kutub yang seringkali dianggap berlawanan tersebut.
“Cooperation dan competition harus menjadi nature yang membawa kemajuan bersama. Program Leapfrogging yang diinisiasi LLDIKTI V adalah best practice nasional, karena mendorong PTS untuk berlomba dalam kebaikan sekaligus saling menguatkan,” ujar Prof. Najib dalam sambutannya.
Filosofi ini diimplementasikan melalui komitmen bersama yang bersifat mengikat dan terukur. Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., melaporkan capaian signifikan program ini dalam satu tahun terakhir. Sebanyak 99 PTS di DIY telah menandatangani komitmen penuh untuk berkolaborasi. Komitmen ini diterjemahkan menjadi kolaborasi nyata, dengan menghasilkan:
- 192 Nota Kesepahaman (MoA)
- 204 Perjanjian Kerja Sama (IA)
Kolaborasi ini mencakup berbagai aspek krusial peningkatan mutu, mulai dari sharing dosen, penggunaan laboratorium bersama, hingga inisiatif publikasi bersama, riset, seminar, dan konferensi lintas institusi. Ini adalah bukti konkret bahwa sinergi antar perguruan tinggi merupakan elemen penting dalam memperkuat ketahanan ekosistem pendidikan tinggi Indonesia.
Solusi Cerdas Kesenjangan Infrastruktur
Salah satu komponen paling strategis dan inovatif dari Program Leapfrogging adalah inisiatif Joint Resources Program. Program ini secara langsung mengatasi masalah mendasar yang dihadapi banyak PTS, yaitu kesenjangan infrastruktur dan fasilitas pendukung, khususnya laboratorium.
Strategi ini memungkinkan PTS yang tidak memiliki fasilitas memadai untuk menyelenggarakan praktikum dan kegiatan akademik lainnya dengan memanfaatkan sumber daya milik PTS lain yang sudah lebih mapan. Ini adalah mekanisme berbagi sumber daya yang menciptakan efisiensi operasional tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.
Dalam ajang Anugerah Program Leapfrogging 2025, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) meraih predikat Universitas Terbaik I untuk kategori kerja sama Joint Resources Program. Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., menekankan pentingnya capaian ini dalam memperkokoh posisi universitas di bidang kerja sama, sekaligus mengingatkan unit kerja sama untuk terus memperkuat tata kelola administrasi agar prestasi serupa dapat dipertahankan.
Kepala LLDIKTI V, Prof. Setyabudi, menyatakan bahwa skema berbagi sumber daya ini merupakan kontribusi yang signifikan bagi peningkatan kualitas PTS, dengan tujuan menumbuhkan budaya kolaborasi yang intens di antara kampus-kampus di Yogyakarta, atau yang dikenal dengan istilah “sedulur limo”.
Pengakuan resmi oleh Kemendiktisaintek bahwa Leapfrogging LLDIKTI V adalah best practice menandai titik balik penting. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah pusat akan mendorong replikasi model ini ke wilayah LLDIKTI lainnya di seluruh Indonesia.
Analisis Dampak dan Prediksi (Expertise): Secara strategis, adopsi model Leapfrogging di tingkat nasional memiliki implikasi besar terhadap efisiensi anggaran negara dan akselerasi mutu yang merata. Daripada menunggu intervensi pembangunan fasilitas baru dari pusat yang memakan waktu dan biaya besar, model ini memanfaatkan aset internal ekosistem pendidikan tinggi yang sudah ada. Mobilisasi sumber daya regional ini memungkinkan peningkatan kualitas dicapai secara cepat (leapfrogging) dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Target kuantitatif dari program ini pun cukup ambisius: LLDIKTI V menargetkan akselerasi capaian program studi unggul di wilayahnya hingga 51,15 persen pada tahun 2028. Lebih jauh, program ini ditujukan untuk memulihkan citra Yogyakarta sebagai barometer perguruan tinggi di Indonesia.
Jika model ini direplikasi, seluruh LLDIKTI Wilayah diharapkan mampu memetakan sumber daya unggulan di wilayahnya, menciptakan konsorsium kolaborasi, dan secara bersama-sama mempercepat peningkatan akreditasi program studi.
Lulusan dari ekosistem pendidikan tinggi yang terakselerasi ini akan secara otomatis memperkaya pool talenta nasional, menjadikannya kandidat yang lebih siap dan berkualitas tinggi untuk rekrutmen di sektor publik (ASN/CPNS) maupun sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di masa depan. Leapfrogging bukan sekadar program penghargaan, melainkan sebuah cetak biru kebijakan untuk pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkelanjutan.
- Status Resmi: Program Leapfrogging LLDIKTI V pada 2 Desember 2025 diakui oleh Kemendiktisaintek sebagai best practice nasional untuk akselerasi mutu PTS.
- Mekanisme Kunci: Model ini sukses menerapkan prinsip Cooperation dan Competition yang mendorong 99 PTS di DIY menghasilkan lebih dari 396 perjanjian kerja sama (MoA dan IA) dalam satu tahun.
- Inovasi Fasilitas: Joint Resources Program memungkinkan PTS yang memiliki keterbatasan infrastruktur, seperti laboratorium, untuk tetap menyelenggarakan praktikum dengan berbagi sumber daya dengan PTS lain yang lebih mapan, seperti yang dicontohkan oleh UKDW.
- Proyeksi Kebijakan: Model ini berpotensi besar untuk direplikasi di seluruh Indonesia, menjanjikan peningkatan mutu yang efisien dan merata, dengan target akselerasi program studi unggul di wilayah LLDIKTI V mencapai 51,15% pada tahun 2028.




0 Comments