INFOPENDIDIKAN.BIC.ID – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang telah dimulai serentak pada Senin, 3 November 2025, menjadi perbincangan hangat di kalangan peserta. Banyak siswa dari berbagai daerah melaporkan adanya perbedaan signifikan antara materi yang telah mereka pelajari secara intensif selama berbulan-bulan dengan model soal yang disajikan dalam ujian, terutama pada subtes literasi dan numerasi.
Pemandangan umum di luar lokasi-lokasi ujian nasional diwarnai dengan diskusi antar siswa yang membandingkan ekspektasi mereka dengan realitas soal yang dihadapi. Keluhan ini dengan cepat menggema di berbagai platform media sosial, di mana banyak peserta mencurahkan rasa terkejut dan frustrasi mereka.
Fokus keluhan bukan pada tingkat kesulitan, melainkan pada "tipe" soal yang dianggap di luar prediksi.
"Saya dan teman-teman sudah menguasai banyak rumus turunan dan integral lanjutan yang rumit, karena itu yang sering keluar di try out," ujar Rian, seorang peserta TKA 2025 di salah satu lokasi ujian di Jakarta, Rabu (5/11/2025). "Tapi di ujian tadi, soal numerasi lebih banyak menuntut analisis data tabel dan logika pada grafik. Rumus yang saya hafal nyaris tidak terpakai."
Hal serupa diungkapkan Amanda (17), siswi asal Surabaya. Ia mengaku telah memfokuskan pembelajaran literasi pada materi teknis kebahasaan.
"Saya mengharapkan soal-soal identifikasi majas, perbaikan ejaan, atau menemukan ide pokok paragraf. Tapi yang keluar adalah dua teks panjang tentang filsafat dan sejarah yang harus dianalisis ideologi tersiratnya. Itu lebih mirip tes penalaran murni," katanya.
Tanggapan Panitia: "Soal TKA 2025 Sudah Sesuai Kerangka Acuan"
Menanggapi keluhan yang meluas ini, Ketua Panitia Pelaksana TKA Nasional 2025, Prof. Dr. Budi Santoso, angkat bicara. Ia menyatakan bahwa panitia memaklumi adanya keterkejutan di kalangan siswa, namun menegaskan bahwa seluruh butir soal telah disusun sesuai dengan kerangka acuan (framework) dan kisi-kisi resmi yang telah dipublikasikan.
"TKA bukan tes hafalan mata pelajaran. Ini adalah tes untuk mengukur kemampuan dasar kognitif, yaitu penalaran dan pemecahan masalah. Seluruh soal sudah divalidasi dan sesuai dengan framework yang ada," jelas Prof. Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Prof. Budi menambahkan, kemampuan ini tidak bisa didapat hanya dari menghafal bank soal atau rumus cepat. "Esensi dari literasi adalah kemampuan memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan teks. Esensi numerasi adalah menggunakan data dan angka untuk bernalar. Inilah yang kami uji," tegasnya.
Analisis Pakar: Perangkap 'Belajar Pola Soal'
Doni Hermawan, seorang pengamat kebijakan pendidikan dari Institute for Education Reform, menyebut fenomena ini sebagai "disparitas ekspektasi" yang klasik terjadi setiap tahun. Menurutnya, masalah tidak terletak pada soal, tetapi pada strategi belajar siswa yang terlalu fokus pada pola soal tahun-tahun sebelumnya.
"Banyak lembaga bimbingan belajar (bimbel) terjebak pada reverse engineering soal tahun lalu dan melatih siswa dengan 'trik cepat' untuk pola-pola tersebut," ujar Doni saat dihubungi.
Ia menjelaskan bahwa panitia pembuat soal TKA setiap tahun pasti di-briefing untuk membuat tipe soal baru dengan logika dasar yang sama untuk menjaga integritas tes. "Jadi wajar jika siswa yang berlatih 'trik cepat' untuk soal integral akan kebingungan saat dihadapkan pada soal analisis data yang membutuhkan logika penalaran, meski keduanya sama-sama matematika," tambahnya.
Fenomena ini, menurut Doni, menunjukkan bahwa TKA 2025 menggeser fokus dari knowledge-based test (tes berbasis pengetahuan) menjadi competency-based test (tes berbasis kompetensi).
Di sisi lain, Psikolog Pendidikan Dr. Setiawati, M.Psi., menyoroti dampak psikologis dari fenomena ini. "Rasa kaget saat ujian dapat memicu test anxiety (kecemasan ujian) yang tinggi, yang bisa memblokir kemampuan berpikir logis siswa, meskipun sebenarnya mereka mampu," jelasnya.
"Ini bukan sepenuhnya salah siswa," lanjut Dr. Setiawati. "Ini adalah gejala dari sistem belajar kita yang mungkin masih terlalu fokus pada skor (score-oriented) dan hafalan, ketimbang pemahaman konsep (understanding-oriented)."
Panitia TKA Nasional 2025 menyatakan akan menampung seluruh masukan dan keluhan dari peserta sebagai bahan evaluasi untuk pelaksanaan tes di tahun-tahun mendatang. Hasil resmi TKA 2025 sendiri dijadwalkan akan diumumkan serentak secara nasional pada pertengahan Desember 2025 dan akan digunakan sebagai data pemetaan mutu pendidikan serta bahan seleksi lebih lanjut.




0 Comments