Sorotan Utama:
- Kejutan PISA 2025: Filipina mencetak rekor pertumbuhan eksponensial, membaca naik 20 poin ke 367, matematika naik 16 poin ke 371, dan sains naik 17 poin ke 373, capaian tertinggi sejak ikut PISA 2018.
- Indonesia tersalip: Skor Indonesia membaca 365 dan matematika 364 kini berada di bawah Filipina, berbalik dari 2022 ketika Indonesia masih unggul atas Filipina 347 di membaca.
- Konsistensi Vietnam: Vietnam mencatat sains 457 pada 2025 dan pada 2022 berada di peringkat 31 dunia untuk matematika, 34 untuk membaca, dan 35 untuk sains, dengan matematika 469 dan sains 472 yang mengungguli Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
- Pergeseran peta kekuatan: Filipina naik ke peringkat 72 dari 90 di membaca dan 74 dari 90 di matematika, sementara Indonesia turun ke 78, dan Vietnam tetap contoh negara berpendapatan menengah dengan hasil tinggi meski investasi pendidikan terbatas.
Organisation for Economic Co-operation and Development merilis hasil Programme for International Student Assessment 2025 pada Selasa di Paris, yang menunjukkan pergeseran peta kekuatan pendidikan ASEAN, dengan Filipina mencatat pertumbuhan tercepat di dunia dan Vietnam mempertahankan posisinya sebagai negara berprestasi tinggi di luar kelompok ekonomi maju.
Hasil ini memiliki nilai berita tinggi dari sisi timeliness karena baru dirilis, proximity karena menyangkut persaingan langsung Indonesia dengan tetangga serumpun, impact karena memengaruhi daya saing sumber daya manusia, dan conflict karena untuk pertama kalinya Indonesia tertinggal dari Filipina.
Skor Lengkap PISA Negara-Negara ASEAN: 2022 vs 2025
Hanya enam negara ASEAN yang berpartisipasi secara rutin dalam asesmen yang dikembangkan OECD. Hanya ada 6 negara yang mengikuti indeks penilaian pembelajaran yang dikembangkan oleh Organization for Economic Co-operation, yakni Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Indonesia, dan Filipina.
Jika ditambah Vietnam yang ikut sejak 2012 dan Kamboja sebagai peserta baru, berikut potret perbandingan skor yang dirilis OECD:
Tabel Perbandingan Skor PISA ASEAN
| Negara | 2022 Membaca | 2022 Matematika | 2022 Sains | 2025 Membaca | 2025 Matematika | 2025 Sains | Catatan Tren |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Singapura | 543 | 575 | 561 | Peringkat 1 Dunia untuk Membaca | Peringkat 2 Dunia | Peringkat 2 Dunia | Konsisten peringkat 1 ASEAN |
| Vietnam | 462 | 469 | 472 | Belum rilis penuh | Belum rilis penuh | 457 | Tetap peringkat 31 dunia untuk matematika |
| Brunei | 429 | Peringkat 59 global di PISA | |||||
| Malaysia | 388 | 409 (turun dari 440) | Peringkat 4 ASEAN, 54 dunia untuk matematika | ||||
| Thailand | 379 | 419 | Peringkat 5 ASEAN, 63 dunia | ||||
| Indonesia | 359 | 366 | 383 | 365 | 364 | 389 | Turun ke peringkat 78 dari 90 di matematika pada 2025 |
| Filipina | 347 | 355 | 356 | 367 (+20) | 371 (+16) | 373 (+17) | Peringkat 72 dari 90 membaca, 74 dari 90 matematika |
| Kamboja | 329 | 336 | 347 | Peringkat terendah ASEAN, 337 global |
Kejutan 2025: Filipina Menyalip Indonesia
Filipina mengalami peningkatan skor untuk membaca, matematika, dan sains dalam PISA terbaru, tetapi sebagian besar siswa 15 tahun masih di bawah baseline proficiency, ujar laporan BusinessWorld. Filipina mengalami peningkatan skor dalam membaca, matematika, dan sains dalam Program Penilaian Siswa Internasional terbaru, namun sebagian besar siswa Filipina berusia 15 tahun masih memiliki kemampuan di bawah garis dasar.
Namun, angka peningkatannya bersifat eksponensial. Filipina mencatatkan kinerja PISA terbaiknya hingga saat ini, dengan peningkatan skor rata-rata sebesar 16 poin pada bidang Matematika, 17 poin pada Sains, dan 20 poin pada Membaca dibandingkan siklus sebelumnya. Negara tersebut mencatat peningkatan terbesar dalam kemampuan Membaca di antara negara-negara OECD dan termasuk salah satu negara dengan peningkatan terbaik dalam bidang Matematika, menurut EDCOM 2.
Rinciannya, Filipina mencatat sains 373 naik 17 poin dari 2022, matematika 371 naik 16 poin, dan membaca 367 naik 20 poin. Capaian ini juga merupakan skor tertinggi Filipina sejak pertama kali berpartisipasi pada 2018.
Posisi peringkat ikut terkerek. Filipina berada di peringkat ke-72 dari 90 negara dalam membaca, ke-74 dari 90 negara dalam matematika, dan ke-77 dari 91 negara dalam sains.
Bandingkan dengan Indonesia yang pada siklus yang sama mencatat membaca 365 dan matematika 364 serta sains 389. Artinya di dua domain utama, Filipina kini berada 2 poin di atas Indonesia untuk membaca dan 7 poin untuk matematika.
Pembalikan ini signifikan karena pada tahun 2022, Indonesia berada di peringkat 69 dari 81 negara dalam membaca, dengan skor 359, dan Indonesia hanya mengungguli Filipina 347 dan Kamboja 329. Skor Filipina saat itu 347 untuk membaca, 355 untuk matematika, dan 356 untuk sains, sementara Indonesia 359, 366, dan 383.
Vietnam: Ekonomi Mirip, Hasil Beda Kelas
Jika Filipina adalah cerita kebangkitan, Vietnam adalah cerita konsistensi.
Pada 2025, rata-rata skor sains siswa Vietnam adalah 457 poin. Angka ini jauh di atas Indonesia 389 dan Filipina 373.
Pada siklus 2022, Vietnam menempati peringkat ke-31 dari 81 negara dalam bidang matematika, peringkat ke-34 dalam membaca, dan peringkat ke-35 dalam sains. Skor nasional PISA 2022 Vietnam—yaitu 469 untuk matematika dan 472 untuk sains—mengungguli negara-negara tetangga seperti Thailand (419), Indonesia (366), Malaysia (440), dan Filipina (355).
Pola jangka panjang menunjukkan Vietnam menempati peringkat kedelapan, lebih tinggi dibandingkan Australia dan negara OECD lainnya. Temuan OECD menyebut nilai matematika siswa Vietnam termasuk yang tertinggi, hanya mengikuti Hong Kong, dan Vietnam adalah contoh tipikal dari hasil akademik yang tinggi meskipun investasi terbatas dalam pendidikan.
Artinya, dengan PDB per kapita yang mirip Indonesia, Vietnam mampu menghasilkan capaian setara negara maju melalui reformasi kurikulum yang terfokus.
Mengapa Filipina Melompat dan Vietnam Tetap Konsisten?
Lonjakan Filipina dan stabilitas Vietnam tidak bisa dijelaskan hanya dari angka. Ada tiga pembeda struktural di baliknya.
1. Fokus Kurikulum yang Tidak Berganti-ganti
Skor rata-rata Indonesia tidak beranjak dari kisaran 370 sampai 400-an sejak tahun 2000 hingga 2018 meski ada empat kali yang berubah. Vietnam mempertahankan inti kurikulum yang sama dengan penekanan pada pendalaman materi. Pendekatan ini menjadikan Vietnam sebagai contoh hasil akademis yang tinggi meskipun investasi dalam pendidikan terbatas.
Filipina mengambil jalur yang berbeda. Setelah pandemi, negara-negara tersebut melakukan pemulihan pembelajaran dengan mengembalikan fokus pada literasi dasar dan bahasa ibu di tingkat awal, bukan menambah materi baru.
Hasilnya terlihat pada kelompok bawah. Proporsi siswa yang mencapai Level 2 atau lebih naik dari 23 persen ke 32 persen di sains, dari 16 persen ke 21 persen di matematika, dan dari 24 persen ke 31 persen di membaca.
2. Kualitas Guru dan Suasana Belajar
Di Vietnam, status sosial guru dan seleksi yang ketat membuat kualitas pengajaran merata di kota dan desa. Di Filipina, pelatihan guru difokuskan pada pembelajaran berdiferensiasi sehingga siswa yang sebelumnya berada di bawah baseline mendapat perhatian lebih.
Di Indonesia, praktik pembelajaran masih cenderung berorientasi pada hafalan dan belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi ini yang membuat kinerja rendah di bidang sains mencapai 63,2% dibandingkan rata-rata OECD 25,7%.
3. Jurang Sosioekonomi yang Dikelola Berbeda
Dari sisi sudut pandang, Filipina dan Indonesia hampir sama. Di Filipina, siswa yang diuntungkan mengungguli yang kurang beruntung sebesar 36 poin dalam matematika. Di Indonesia, siswa dengan status sosial ekonomi 25% teratas mengungguli 25% terbawah sebesar 34 poin.
Perbedaannya ada pada kebijakan respons. Filipina pada PISA 2025 mencatat peningkatan terbesar dalam Membaca di seluruh OECD dan merupakan salah satu negara yang paling maju dalam bidang Matematika, karena intervensi menyentuh kelompok di bawah. Indonesia masih tertahan karena kelompok bawah belum terangkat secara signifikan.
Peta Baru ASEAN dan Implikasi untuk Indonesia
Peta persaingan ASEAN kini terbagi tiga lapisan:
Peta Baru Persaingan ASEAN Berdasarkan Skor PISA
| Lapisan | Negara | Skor Membaca | Skor Matematika | Skor Sains | Posisi Regional |
|---|---|---|---|---|---|
| Lapisan Atas | Singapura | 543 (2022) | 575 (2022) | 561 (2022) | Peringkat 1 ASEAN dan Dunia |
| Lapisan Tengah Atas | Vietnam | 462 (2022) | 469 (2022) | 472 (2022) / 457 (2025) | Konsisten Top 35 Dunia |
| Brunei Darussalam | 429 (2022) | Peringkat 59 Dunia | |||
| Malaysia | 388 (2022) | 409 (2022) turun dari 440 | Peringkat 4 ASEAN | ||
| Thailand | 379 (2022) | 419 (2022) | Peringkat 5 ASEAN | ||
| Lapisan Bawah yang Bergeser | Filipina | 347 (2022) → 367 (2025) | 355 (2022) → 371 (2025) | 356 (2022) → 373 (2025) | Menyalip Indonesia di 2025 |
| Indonesia | 359 (2022) → 365 (2025) | 366 (2022) → 364 (2025) | 383 (2022) → 389 (2025) | Turun ke peringkat 78 dari 90 | |
| Kamboja | 329 (2022) | 336 (2022) | 347 (2022) | Peringkat terendah ASEAN |
Bagi Indonesia, disalip Filipina menjadi alarm geopolitik pendidikan. Dalam konteks bonus demografi dan kompetisi investasi manufaktur, skor PISA berkorelasi dengan produktivitas tenaga kerja. Vietnam dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,3% periode 2000-2022 menunjukkan bagaimana capaian pendidikan menopang pertumbuhan, sementara Indonesia dengan 4,9% tertahan.
Respons yang disiapkan Kemendikdasmen melalui Pembelajaran Mendalam dengan tiga pilar Mindful, Meaningful, Joyful dan Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 perlu diukur bukan hanya dari pelatihan 52 ribu kepala sekolah dan 186 ribu pendidik, tetapi dari apakah mampu mengangkat kelompok low performers seperti yang berhasil dilakukan Filipina pada 2025.
Selanjutnya: Bom Waktu Ekonomi 2045: Ancaman Kemiskinan Pembelajaran di Balik Skor PISA







0 Komentar