Infopendidikan.bic.id — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan tidak akan ada pergantian kurikulum baru untuk tahun ajaran 2025/2026. Pembaruan dilakukan dengan mengadopsi metode pembelajaran mendalam atau Deep Learning yang berfokus pada kualitas pemahaman materi, bukan pada pergantian dokumen kurikulum.
Bersamaan dengan itu, pemerintah mulai memasukkan mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial (AI) secara bertahap sebagai mata pelajaran pilihan. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Mendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.
Tidak ganti kurikulum, tapi ganti cara mengajar
Dalam ringkasan resmi yang dipublikasikan di Sistem Informasi Kurikulum Nasional, pemerintah menegaskan lima poin utama. Pertama, "Tidak ada perubahan kurikulum". Kedua, "Penerapan pendekatan pembelajaran mendalam". Ketiga, "Penambahan mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial".
Pernyataan ini menjawab kegelisahan guru dan orang tua yang khawatir akan kembali menghadapi pergantian buku dan administrasi seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Kemendikdasmen memilih jalur yang lebih stabil: struktur Kurikulum Merdeka tetap dipakai, tetapi cara mengajarnya diperdalam.
Pembelajaran mendalam didefinisikan sebagai pendekatan yang menekankan penciptaan suasana belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.
Apa itu Deep Learning versi kelas
Konsep Deep Learning dalam konteks pendidikan Indonesia bukan tentang jaringan saraf tiruan, melainkan tentang kedalaman pemahaman. "Konsep Deep Learning sendiri menjadi pendekatan baru yang mulai diadopsi dunia pendidikan Indonesia untuk membantu peserta didik memahami makna mendalam dari setiap konsep, bukan sekadar menghafal".
Dalam praktiknya, perangkat ajar tidak lagi dipandang sebagai tumpukan dokumen administrasi. "Perangkat ajar kini tidak hanya menjadi kumpulan dokumen administrasi. Ia adalah panduan hidup yang menuntun guru menuju pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada kompetensi".
Fokusnya bergeser dari transfer informasi ke proses membangun pemahaman. "Fokusnya bukan hanya pada transfer informasi, tetapi juga pada bagaimana siswa membangun pemahaman melalui refleksi, analisis, dan penerapan dalam kehidupan nyata".
Coding dan AI masuk sebagai pilihan
Bagian kedua dari kebijakan adalah penambahan Coding dan AI. Pemerintah tidak mewajibkan semua sekolah, melainkan memberi opsi. "Mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial merupakan salah satu mata pelajaran pilihan yang dapat disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang dimiliki dan dapat dipilih oleh Peserta Didik sesuai minat".
Pendekatan bertahap ini penting. Sekolah dengan laboratorium komputer dan guru terlatih bisa membuka kelas coding berbasis proyek. Sekolah tanpa perangkat bisa memulai dengan coding unplugged — belajar logika tanpa komputer — atau permainan logika sederhana.
Integrasi teknologi juga menjadi prinsip dalam perangkat ajar Deep Learning. "Teknologi tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga jembatan untuk memperluas pengalaman belajar. Aplikasi berbasis AI, misalnya, dapat digunakan untuk menyesuaikan materi dengan kemampuan masing-masing siswa".
Mengapa tidak ganti kurikulum
Keputusan untuk tidak mengganti kurikulum didasari evaluasi implementasi Kurikulum Merdeka. Survei internal menunjukkan guru masih beradaptasi dengan Capaian Pembelajaran dan asesmen formatif. Mengganti struktur lagi berisiko menimbulkan kelelahan kurikulum.
Dengan mempertahankan struktur, pemerintah memberi ruang bagi guru untuk memperdalam praktik. Perangkat ajar Deep Learning untuk kelas 1 SD/MI misalnya, sudah disusun berdasarkan CP 2025/2026 dan mengintegrasikan prinsip diferensiasi serta Profil Pelajar Pancasila.
Hasil awal cukup menjanjikan. Referensi yang dikutip dalam panduan guru menyebutkan penelitian UNESCO 2024 menunjukkan pembelajaran mendalam meningkatkan retensi konsep hingga 40 persen lebih tinggi dibanding metode hafalan tradisional. Survei Kemendikbudristek 2025 juga mencatat sekolah yang menerapkan perangkat ajar berbasis Deep Learning mengalami peningkatan hasil literasi siswa sebesar 32 persen dalam dua semester pertama.
Konteks Penting di Balik Keputusan Ini
Keputusan mempertahankan kurikulum sambil memperdalam metode bukan sekadar pilihan teknis. Ada konteks yang lebih besar.
Pertama, Indonesia sedang berada di tengah transisi digital pendidikan. Sejak 2025, lebih dari 288 ribu Interactive Flat Panel didistribusikan ke sekolah. Tanpa perubahan cara mengajar, perangkat itu hanya akan menjadi proyektor mahal. Deep Learning memberi kerangka agar teknologi dipakai untuk eksplorasi, bukan sekadar menampilkan slide.
Kedua, tekanan untuk memasukkan AI ke sekolah datang dari dunia industri dan orang tua. Namun jika AI diajarkan sebagai mata pelajaran hafalan sintaks, manfaatnya hilang. Dengan menempatkan Coding dan AI sebagai pilihan yang diajarkan lewat proyek, pemerintah berharap siswa belajar berpikir komputasional, bukan sekadar mengetik kode.
Ketiga, ada pelajaran dari negara lain. Banyak sistem pendidikan yang terjebak siklus ganti kurikulum setiap lima tahun tanpa memperbaiki kualitas interaksi di kelas. Indonesia mencoba memutus siklus itu dengan mengatakan: kurikulumnya cukup, yang perlu diperbaiki adalah kedalaman.
Apa yang berubah di ruang kelas
Bagi guru kelas 1 SD, perubahan terasa pada cara menyusun modul ajar. Tidak lagi dimulai dari "materi apa yang harus disampaikan", melainkan "pengalaman apa yang harus dialami siswa". Contoh tema "Aku dan Lingkungan Sekitarku" tidak diajarkan lewat ceramah, tetapi lewat observasi lingkungan, menggambar, diskusi kelompok, dan refleksi.
Bagi guru SMP, Deep Learning berarti mengurangi ceramah satu arah dan memperbanyak tugas yang menuntut analisis. Misalnya, dalam matematika, siswa tidak hanya menghitung, tetapi menjelaskan mengapa suatu strategi bekerja dalam konteks nyata.
Bagi guru SMA, penambahan Coding dan AI membuka ruang kolaborasi lintas mapel. Guru fisika bisa bekerja sama dengan guru informatika untuk proyek sensor lingkungan, sementara guru bahasa Indonesia bisa mengajak siswa menganalisis bias dalam teks yang dihasilkan AI.
Rincian yang masih ditunggu
Meski arah kebijakan jelas, beberapa rincian belum diumumkan secara terbuka. Hingga pertengahan April, belum ada daftar kompetensi spesifik untuk Coding dan AI per jenjang. Publik juga belum mengetahui standar minimum sarana yang harus dipenuhi sekolah sebelum boleh membuka mapel pilihan ini.
Belum ada pula pedoman penilaian untuk pembelajaran mendalam. Jika asesmen tetap mengandalkan tes pilihan ganda, maka semangat refleksi dan penerapan akan sulit tumbuh. Guru menunggu contoh rubrik asesmen autentik yang menilai proses, bukan hanya produk.
Selain itu, pelatihan guru masih menjadi pekerjaan rumah. Pendekatan Deep Learning menuntut guru berperan sebagai fasilitator, bukan penceramah. Perubahan peran ini membutuhkan pendampingan intensif, bukan sekadar modul daring.
Dampak pada ekosistem
Bagi penerbit buku, kebijakan ini berarti tidak perlu mencetak buku baru secara massal. Mereka diminta mengembangkan perangkat ajar yang kaya aktivitas, bukan ringkasan materi.
Bagi pemerintah daerah, tidak ada perubahan kurikulum berarti anggaran bisa dialihkan dari sosialisasi dokumen ke pelatihan praktik mengajar dan pengadaan perangkat pendukung.
Bagi orang tua, pesan pentingnya adalah tidak perlu khawatir anak harus beradaptasi dengan kurikulum baru. Yang berubah adalah cara anak belajar: lebih banyak bertanya, mencoba, dan merefleksikan.
Tantangan implementasi
Tiga tantangan utama membayangi. Pertama, kesenjangan kapasitas guru. Guru yang sudah nyaman dengan ceramah akan kesulitan beralih ke fasilitasi. Tanpa komunitas belajar guru yang kuat, Deep Learning berisiko menjadi jargon.
Kedua, kesenjangan infrastruktur. Sekolah di kota besar bisa memanfaatkan aplikasi AI adaptif, sementara sekolah di daerah 3T mungkin baru bisa melakukan coding unplugged. Tanpa peta jalan pemerataan, kesenjangan hasil belajar bisa melebar.
Ketiga, konsistensi asesmen. Jika ujian akhir semester masih menuntut hafalan, guru akan kembali mengajar untuk tes. Sinkronisasi antara metode mengajar dan sistem penilaian menjadi kunci.
Menuju generasi yang memahami, bukan menghafal
Dengan mempertahankan struktur Kurikulum Merdeka dan memperdalam metode, pemerintah mencoba menjawab kritik lama: terlalu sering ganti kulit, jarang menguatkan isi.
Penambahan Coding dan AI sebagai pilihan juga mengirim sinyal bahwa Indonesia tidak ingin tertinggal dalam literasi digital, tetapi tidak ingin pula memaksakan beban baru ke sekolah yang belum siap.
Jika implementasinya konsisten, ruang kelas pada tahun ajaran 2025/2026 akan terasa berbeda tanpa perlu ganti nama kurikulum. Anak kelas 1 akan belajar membaca bukan dengan mengeja huruf, tetapi dengan memahami cerita. Siswa SMP akan belajar matematika bukan dengan rumus, tetapi dengan masalah. Siswa SMA akan belajar AI bukan dengan menghafal definisi, tetapi dengan membuat proyek sederhana yang relevan dengan desanya.
Pada akhirnya, pembelajaran mendalam bukan tentang teknologi atau dokumen. Ini tentang mengembalikan makna ke dalam proses belajar




0 Comments