Oleh: Tim Redaksi InfoPendidikan
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi merombak sistem evaluasi pendidikan lewat penerbitan Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2026 pekan ini. Aturan baru ini menetapkan bahwa instrumen Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SD dan SMP kini dilebur seutuhnya menjadi satu kesatuan dalam pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) tahun ini.
Langkah berani Kemendikdasmen menyatukan TKA ke dalam Asesmen Nasional bukan sekadar upaya memangkas jalur birokrasi, melainkan dekonstruksi total terhadap pola belajar siswa di Indonesia. Dengan peleburan ini, era belajar berbasis hafalan rumus dipaksa berakhir, digantikan oleh tuntutan penguasaan logika analitik yang selama ini menjadi ruh dari Asesmen Nasional. Namun, di balik visi besar tersebut, tantangan nyata justru berpindah ke pundak sekolah yang kini harus menyiapkan infrastruktur digital lebih tangguh guna mengakomodasi kompleksitas instrumen ujian yang kini memiliki fungsi ganda: mengevaluasi mutu institusi sekaligus menentukan nasib akademis individu siswa.
Banyak portal berita hanya menyalin isi aturan ini tanpa membedah apa yang sebenarnya akan dihadapi siswa dan guru di lapangan bulan depan. Kenyataannya, penggabungan ini melahirkan skema ujian yang sama sekali baru. Mari kita bedah celah-celah kritis yang "lupa" disampaikan oleh pemerintah.
Bukan Lagi Soal Hafalan, Bersiaplah Menghadapi 'Literasi Kontekstual'
Kabar baiknya bagi siswa yang kurang suka menghafal, model soal TKA tahun ini akan berubah total. Ketika TKA digabungkan ke dalam engine Asesmen Nasional, bentuk pertanyaannya tidak lagi berupa teori murni yang kaku.
Pemerintah kini menerapkan prinsip Literasi Kontekstual dan Diferensiasi Soal dalam setiap butir pertanyaan. Artinya, soal disajikan berbasis kasus atau pemecahan masalah (problem-based).
Ambil contoh mata pelajaran Biologi. Di tahun-tahun sebelumnya, siswa mungkin hanya diminta menghafal nama-nama bagian sel tumbuhan. Tahun ini, soal Biologi akan muncul dalam bentuk narasi panjang berisi data riset pertanian atau grafik pertumbuhan tanaman. Siswa dituntut untuk membaca data tersebut, menganalisisnya, lalu menarik kesimpulan logis. Ini adalah lompatan besar yang akan membuat siswa yang terbiasa belajar dengan sistem Kebut Semalam (SKS) kelabakan.
Satu Ujian, Dua Nasib: Misteri Sertifikat Hasil Asesmen
Bagaimana mungkin satu instrumen ujian bisa menghasilkan dua data yang fungsi dan sifatnya sangat berbeda? Inilah konsep Hybrid Assessment yang sedang diuji coba oleh Kemendikdasmen.
Selama ini, nilai Asesmen Nasional murni digunakan untuk memotret kualitas sekolah, yang hasilnya bisa dilihat publik di Rapor Pendidikan tanpa mencantumkan nilai individu siswa. Namun, dengan masuknya instrumen TKA, data yang ditarik dari komputer kini dipecah menjadi dua jalur.
Jalur pertama tetap masuk ke Rapor Pendidikan untuk menilai rapor mutu institusi. Jalur kedua, yang jarang dibahas transparan, adalah potensi munculnya "Sertifikat Hasil Asesmen" secara individu. Sertifikat ini kabarnya akan mencantumkan skor TKA masing-masing siswa, yang nantinya bisa digunakan sebagai portofolio pribadi atau salah satu syarat saringan masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Siswa tidak lagi bisa "asal klik" saat mengerjakan AN, karena skornya kini melekat pada nama mereka sendiri.
Beban Proktor: Ancaman Server Tumbang dan Kurang Daya Listrik
Ketika materi ujian bertambah, otomatis durasi siswa menatap layar komputer juga bertambah lama. Di sinilah letak bom waktu bagi manajemen sekolah.
Penambahan durasi ini memaksa sekolah—terutama yang fasilitas komputernya pas-pasan—untuk mengatur ulang shifting (pembagian sesi) dengan sangat ketat. Bagi kamu yang bertugas sebagai proktor sekolah (teknisi ujian), bersiaplah menghadapi hari-hari yang panjang.
Saran kami: jangan tunggu mendekati hari H. Mulailah lakukan audit kesiapan infrastruktur dari sekarang. Pastikan daya listrik sekolah mampu menahan beban puluhan komputer yang menyala berjam-jam tanpa jeda. Pastikan juga stabilitas jaringan internet dan Proctoring System lokal sudah diuji coba secara maksimal. Jangan sampai konsentrasi siswa yang sedang menganalisis soal literasi tingkat tinggi buyar hanya karena listrik sekolah tiba-tiba anjlok atau server mendadak error.
Perbandingan Cepat: Sebelum vs Sesudah Penggabungan
Untuk mempermudah kamu memahami skala perubahannya, kami telah merangkum perbedaan utamanya dalam tabel berikut:
Analisis Redaksi: Jangan Biarkan Daerah Pelosok Menjadi Korban
Kami di Tim Redaksi InfoPendidikan menilai bahwa gagasan Hybrid Assessment ini sangat brilian di atas kertas. Namun, opini kami sangat tajam ketika berbicara soal pemerataan fasilitas.
| Aspek | Sebelum Penggabungan (TKA & AN Terpisah) | Sesudah Penggabungan (Permendikdasmen No. 9/2026) |
|---|---|---|
| Materi Soal | TKA: Hafalan teori mata pelajaran.AN: Literasi & Numerasi dasar. | Lebur: Teori mata pelajaran disajikan dalam bentuk soal Literasi Kontekstual & pemecahan masalah. |
| Durasi Pelaksanaan | Terpisah di bulan yang berbeda, durasi standar. | Disatukan: Durasi duduk di depan komputer bertambah, sekolah butuh manajemen shifting yang lebih ketat. |
| Fungsi Nilai | TKA: Evaluasi siswa.AN: Evaluasi mutu sekolah. | Ganda (Hybrid Assessment): Membentuk Rapor Pendidikan sekolah sekaligus menghasilkan Sertifikat Hasil Asesmen individu. |
| Target Peserta | TKA: Seluruh siswa di tingkat akhir.AN: Sampel acak siswa. | Menyesuaikan: Sistem masih merumuskan skema sampling yang mampu mewakili nilai individu dan mutu institusi secara bersamaan. |
Kebijakan yang menuntut infrastruktur serba digital ini sangat berisiko menciptakan jurang ketimpangan yang semakin luas antara sekolah di kota besar dan sekolah di daerah pelosok. Membebani sekolah dengan durasi ujian yang lebih lama tanpa dibarengi dengan subsidi pengadaan perangkat komputer dan penguatan sinyal internet dari kementerian, sama saja dengan menyuruh prajurit bertempur tanpa senjata. Kemendikdasmen harus turun tangan langsung memastikan bahwa tidak ada satu pun siswa di pelosok yang gagal mendapatkan Sertifikat Hasil Asesmen hanya karena sekolahnya tidak kuat membeli token listrik atau kehabisan kuota internet.
Bagi kamu para guru dan orang tua, bagaimana tingkat kesiapan siswa di sekolahmu saat ini? Apakah mereka sudah terbiasa memecahkan soal berbasis literasi yang panjang, atau masih terjebak pada metode hafalan tradisional? Mari berdiskusi dan bertukar pengalaman di kolom komentar di bawah ini!




0 Comments