Ketika Angka 36 Menjadi Cermin Retak Pendidikan Kita

Dec 26, 2025

Skor Matematika 36 dan Bahasa Inggris 24 pada TKA SMA 2025 memicu alarm nasional. DPR mendesak perombakan kurikulum saat wacana remedial massal dan pengetatan syarat masuk PTN mulai menghantui siswa. Simak liputan mendalamnya.

Ketika Angka 36 Menjadi Cermin Retak Pendidikan Kita

Rara menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Di sudut kantin sekolah yang riuh di Jakarta Selatan, siswi kelas 12 itu tidak sedang melihat konten TikTok viral atau drama Korea terbaru. Jarinya gemetar menunjuk satu baris angka di laman pengumuman hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA): Matematika Wajib, 32. Jauh di bawah angka aman, jauh dari harapan orang tuanya, dan—yang paling menakutkan—mungkin terlalu rendah untuk menembus gerbang Universitas Indonesia yang ia impikan.

"Aku belajar sampai jam dua pagi setiap hari, Kak," ujarnya lirih, matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Tapi soalnya... soalnya seperti meminta kami membangun roket, padahal di kelas kami baru diajari cara melipat pesawat kertas."

Kecemasan Rara bukanlah cerita tunggal. Ia adalah satu dari 3,5 juta wajah siswa SMA sederajat di seluruh nusantara yang hari ini dipaksa menelan pil pahit realitas akademik. Pengumuman hasil TKA 2025 bukan sekadar rilis data statistik tahunan; ia adalah tamparan keras yang membangunkan kita dari tidur panjang pasca-pandemi.

Cermin Retak Kompetensi Dasar

Angka-angka yang tersaji di server Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melukiskan peta kognitif yang suram. Rata-rata nasional untuk Matematika Wajib terjerembab di angka 36,10. Bayangkan, dalam skala 0 hingga 100, mayoritas anak-anak kita bahkan tidak menguasai separuh dari kompetensi numerasi dasar yang dibutuhkan untuk bertahan di abad ke-21.

Kondisi lebih parah terjadi pada literasi global. Mata pelajaran Bahasa Inggris Wajib mencatatkan rekor terendah dengan skor rata-rata 24,93. Di era di mana batas negara kian kabur oleh internet, lulusan sekolah menengah kita justru gagap berkomunikasi dalam bahasa pergaulan dunia.

disparitas capaian perbandingan rerata nilai tka 2025
Ketika Angka 36 Menjadi Cermin Retak Pendidikan Kita 4

Grafik di atas memperlihatkan ketimpangan yang mencolok. Sementara Bahasa Indonesia masih mampu menopang wajah pendidikan kita dengan skor 55,38, dua pilar utama sains dan komunikasi global—Matematika dan Bahasa Inggris—runtuh. Anomali menarik justru terlihat pada Bahasa Inggris Lanjut yang mencetak skor 45,23, sebuah indikasi bahwa kemampuan bahasa asing di negeri ini adalah privilese segelintir siswa yang memiliki akses lebih, bukan kompetensi merata.

Bukan Salah Siswa

Mudah bagi kita menuding "Generasi Z" atau "Generasi Alpha" sebagai kaum yang malas dan kecanduan gawai. Namun, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menolak narasi itu mentah-mentah. Baginya, menyalahkan siswa atas hasil ini sama seperti menyalahkan pasien atas kesalahan diagnosis dokter.

"Ini persoalan struktural, bukan individual," tegas Hetifah.

Masalahnya mengakar jauh ke dalam ruang-ruang kelas kita. Di banyak daerah, Matematika masih diajarkan sebagai serangkaian rumus mati yang harus dihafal, terlepas dari konteks kehidupan nyata. Ketika TKA 2025 menyuguhkan soal-soal penalaran tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) yang menuntut logika pemecahan masalah, siswa gagap. Mereka tidak terbiasa berpikir; mereka hanya terbiasa menghafal.

Bahasa Inggris pun setali tiga uang. Pembelajaran terpaku pada tata bahasa (grammar) yang kaku di atas kertas, sementara lidah siswa jarang dilatih untuk berbicara. Bahasa asing tetap asing, tidak pernah menjadi bagian dari ekosistem komunikasi harian mereka.

Skala partisipasi TKA tahun ini yang begitu masif, melibatkan jutaan siswa dari berbagai latar belakang ekonomi dan geografi, menegaskan bahwa kegagalan ini bersifat sistemik.

Screenshot From 2025 12 26 17 37 25
Ketika Angka 36 Menjadi Cermin Retak Pendidikan Kita 5

Wacana Remedial dan Mimpi Buruk PTN

Kepanikan merambat cepat ke grup-grup WhatsApp orang tua dan ruang guru. Sebagai respons cepat, Senayan dan Kemendikdasmen mulai melempar wacana Remedial Nasional. Idenya terdengar mulia: memberikan kesempatan kedua bagi siswa untuk memperbaiki kompetensi mereka sebelum ijazah dicetak. Namun, di lapangan, ide ini memicu pertanyaan baru tentang logistik dan efektivitas. Apakah mengejar ketertinggalan bertahun-tahun bisa diselesaikan dalam kursus singkat beberapa bulan?

Bagi siswa kelas 12 seperti Rara, ancaman terbesar ada di depan mata: Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB).

Aturan main telah berubah. Tahun 2026, dua jalur masuk PTN tanpa tes—yang biasanya hanya mengandalkan nilai rapor—kini wajib menyertakan nilai TKA sebagai validator. Rapor sekolah yang sering kali "dihias" dengan nilai tinggi kini akan ditelanjangi oleh skor TKA yang objektif. Jika nilai TKA jeblok, pintu masuk ke perguruan tinggi negeri favorit bisa tertutup rapat, memaksa siswa bertarung mati-matian di jalur tes tulis yang kuotanya kian sempit.

Antara Bencana dan Harapan

Situasi makin pelik jika kita menengok ke Sumatera. Di sana, siswa tidak hanya bertarung melawan soal-soal sulit, tetapi juga lumpur sisa banjir bandang. Ribuan sekolah rusak, buku-buku hanyut, dan guru-guru harus mengajar di tengah trauma.

Pemerintah mencoba hadir. Tunjangan khusus dan percepatan rehabilitasi sekolah dikebut. Namun, mengejar ketertinggalan materi di tengah situasi darurat adalah tantangan herculean. Peta pendidikan kita kini diwarnai dua zona merah: zona merah akademik akibat rendahnya nilai, dan zona merah fisik akibat bencana alam.

geografi tantangan wilayah terdampak bencana intervensi guru
Ketika Angka 36 Menjadi Cermin Retak Pendidikan Kita 6

Tahun 2026 akan menjadi tahun pertaruhan. Apakah data TKA yang "berdarah-darah" ini akan berakhir sebagai tumpukan kertas laporan di meja birokrat, atau menjadi pemicu revolusi cara kita mengajar?

Bagi Rara dan jutaan temannya, waktu tidak bisa menunggu. Mereka butuh perbaikan hari ini, bukan sekadar janji evaluasi yang baru terealisasi saat mereka sudah lulus nanti. Pendidikan Indonesia sedang tidak baik-baik saja, dan mengakui hal itu adalah langkah pertama untuk sembuh.

Ingin terus mendapatkan update seputar dunia pendidikan dari kami?
Ayo gabung ke Saluran WhatsApp Info Pendidikan BIC

Tag: sma | tka

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *