JAKARTA, INFOPENDIDIKAN.BIC.ID – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Satryo Soemantri Brodjonegoro, membunyikan sinyal darurat bagi dunia pendidikan nasional. Hal ini menyusul rilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SMA tahun 2025 yang menunjukkan tren negatif yang mengkhawatirkan.
Dalam konferensi pers di Gedung D Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu (24/12/2025), Satryo menyoroti penurunan skor rata-rata nasional yang signifikan pada dua mata pelajaran fondasi, yakni Matematika dan Bahasa Inggris. Merespons data tersebut, Kementerian memutuskan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hulu pencetak guru, yaitu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Korelasi Kualitas Guru dan Hasil Belajar
Mendiktisaintek menegaskan bahwa capaian akademik siswa merupakan cerminan langsung dari kualitas pengajaran di kelas. Jika hasil belajar siswa menurun secara massal, maka kompetensi tenaga pengajar perlu dipertanyakan dan diperbaiki dari akarnya.
"Kita tidak bisa hanya menuntut siswa belajar lebih keras. Kita harus berani mengaudit 'pabrik' yang mencetak para gurunya. Hasil TKA 2025 yang rendah di Matematika dan Bahasa Inggris adalah indikator bahwa lulusan LPTK kita belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan standar kompetensi global," tegas Satryo.
Data awal dari Pusat Asesmen Pendidikan menunjukkan skor literasi numerasi (Matematika) turun hampir 10 poin dibandingkan tahun 2024. Sementara itu, kemampuan Bahasa Inggris siswa SMA stagnan di level dasar, tertinggal dibandingkan negara tetangga di ASEAN.
Fokus Audit LPTK: Kurikulum dan Seleksi
Evaluasi yang dicanangkan pemerintah akan menyasar tiga aspek krusial dalam ekosistem LPTK, yang akan dimulai efektif awal Januari 2026:
- Revitalisasi Kurikulum: Memastikan materi perkuliahan calon guru lebih banyak bermuatan konten mata pelajaran (content knowledge) yang mendalam. Mahasiswa calon guru Matematika harus menguasai konsep matematika murni, bukan sekadar teori pedagogik (cara mengajar).
- Pengetatan Seleksi Masuk: Calon mahasiswa keguruan harus memiliki standar akademik tinggi sejak awal. Profesi guru tidak boleh lagi menjadi "pilihan kedua" bagi calon mahasiswa.
- Uji Kompetensi Dosen: Memastikan dosen LPTK memiliki pengalaman praktis yang relevan dan wawasan teknologi pendidikan terbaru, bukan hanya mengajar secara tekstual.
"Guru Matematika tidak boleh hanya hafal rumus, tapi harus paham logika. Guru Bahasa Inggris harus aktif berbahasa. LPTK yang tidak memenuhi standar akreditasi baru ini akan kami bina atau bahkan diwajibkan merger dengan kampus lain," tambah Satryo.
Jangan Lupakan Kesejahteraan
Langkah tegas Mendiktisaintek mendapat dukungan dari berbagai pihak, meski dengan catatan. Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai evaluasi LPTK adalah langkah tepat, namun harus dibarengi dengan jaminan kesejahteraan guru setelah lulus.
"Memperbaiki kualitas LPTK itu wajib hukumnya. Namun, pemerintah juga harus ingat, guru yang hebat butuh kesejahteraan yang layak agar bisa fokus mengajar. Jangan sampai guru lulusan LPTK terbaik justru lari ke industri lain karena gaji guru rendah," ujar perwakilan P2G saat dihubungi terpisah.
Pemerintah menargetkan roadmap revitalisasi LPTK ini akan rampung pada kuartal pertama 2026. Kemdiktisaintek juga akan melibatkan pakar independen dari universitas ternama untuk menjamin objektivitas audit.




0 Comments