Sorotan Utama:
- Kebijakan baru 2025/2026: Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) menjadi program prioritas Kemendikdasmen, diatur dalam Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025.
- Tiga pilar utama: Mindful atau berkesadaran, Meaningful atau bermakna, dan Joyful atau menggembirakan sebagai fondasi proses belajar.
- Jawaban atas stagnasi: Skor PISA Indonesia tidak beranjak dari kisaran 370 sampai 400-an sejak 2000 hingga 2018, dengan praktik sekolah yang masih berorientasi pada hafalan.
- Lebih dari kognitif: Pendekatan mengintegrasikan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga, serta didukung program koding dan kecerdasan artifisial sebagai pilihan di ajaran baru.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akan menerapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning pada tahun ajaran 2025/2026 di seluruh jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan menengah sebagai upaya mengatasi stagnasi capaian belajar nasional.
Kebijakan ini diumumkan dalam siaran pers di Jakarta pada 5 September 2025, dengan penegasan bahwa Deep Learning bukan pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan pendekatan yang mengubah cara guru dan murid berinteraksi di kelas.
Bukan Kurikulum Baru, Melainkan Cara Belajar Baru
Banyak pemberitaan menyederhanakan Deep Learning sebagai kurikulum baru. Klarifikasi resmi menyebut hal sebaliknya.
Dalam sambutannya, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menegaskan bahwa pembelajaran mendalam menjadi salah satu prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai jawaban atas berbagai tantangan proses belajar-mengajar, said Atip Latipulhayat. Pembelajaran mendalam bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan yang menuntut guru menguasai substansi secara komprehensif.
Penegasan serupa disampaikan Kemendikdasmen. Penegasan yang diberikan oleh Kemendikbud bahwa deep learning bukan pengganti kurikulum, melainkan pendekatan belajar mendalam, mengutamakan berpikir kritis, dan menyajikan suasana belajar yang menyenangkan, said dokumen pedoman.
Regulasi yang mengikatnya adalah Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025, tentang kurikulum pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah, yang mencantumkan beberapa perubahan frasa seperti pendekatan pembelajaran mendalam, penguatan karakter murid melalui gerakan 7 kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta adanya penambahan program baru seperti koding dan kecerdasan artifisial.
Tiga Pilar yang Menjadi Fondasi
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menekankan pentingnya tiga pilar dalam pendekatan Pembelajaran Mendalam. Menteri Mu'ti menekankan pentingnya tiga pilar dalam pendekatan Pembelajaran Mendalam, yakni berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Ketiganya menjadi fondasi untuk menciptakan proses pembelajaran yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mendorong peserta didik memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan apa yang dipelajari.
Menurut Kemendikdasmen, pembelajaran mendalam memiliki tiga prinsip utama: meaningful learning (bermakna), mindful learning (berkesadaran), dan joyful learning (menggembirakan).
Secara rinci:
1. Mindful (Berkesadaran): Prinsip pertama yaitu mindful, di mana hal ini berarti bahwa proses yang berlangsung dilakukan dengan penuh kesadaran, dalam konteks di kelas seorang guru harus mengedepankan rasa penghormatan kepada seluruh muridnya, dan memberikan ruang kepada murid untuk menemukan cara yang efektif untuk mempelajari ilmu. Ini mencakup olah hati dan olah rasa, bukan hanya olah pikir.
2. Meaningful (Bermakna): Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata. Pendekatan ini menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan dengan mengintegrasikan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga. Siswa diajak menemukan manfaat dari materi, bukan sekadar menyelesaikan soal ujian. Deep learning bukan sekadar menghafal atau mengerjakan soal-soal ujian, tetapi bagaimana siswa memahami konsep secara menyeluruh, said Mendikdasmen.
3. Joyful (Menggembirakan): Suasana belajar yang menyenangkan, aman, dan tanpa tekanan, sehingga motivasi intrinsik tumbuh.
Secara konseptual, pendekatan deep learning yang diterapkan mengacu pada tiga proses utama, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
Mengapa Harus Sekarang: Data Stagnasi Pendidikan
Kebijakan ini lahir dari data jangka panjang yang tidak beranjak.
Kurikulum Merdeka akan menjadi pergantian keempat ketika pada 2024 nanti ditetapkan sebagai kurikulum nasional. Potret serupa terlihat dari PISA, studi internasional yang dilakukan setiap tiga tahun untuk mengukur penguasaan literasi membaca, matematika, dan sains murid berusia 15 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, skor rata-rata Indonesia tidak beranjak dari sekitar angka 370 sampai 400-an.
Analisis evaluasi kurikulum menunjukkan praktik pembelajaran di sekolah masih cenderung berorientasi pada hafalan dan belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Kondisi tersebut sejalan dengan temuan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis hafalan tanpa pemaknaan konseptual melemahkan kemampuan generalisasi matematis. Inilah yang menjelaskan mengapa skor PISA matematika Indonesia stagnan di 366, meski kurikulum berganti.
Bagaimana Penerapannya di Kelas pada 2025/2026
Penerapan Pembelajaran Mendalam pada setiap jenjang memerlukan dukungan ekosistem pembelajaran yang kondusif serta kemitraan yang luas dan bermakna.
Contoh implementasi:
- Fase Memahami: Guru tidak langsung memberi rumus, tetapi memfasilitasi eksplorasi. Siswa diajak sadar akan tujuan belajar.
- Fase Mengaplikasi: Materi dihubungkan dengan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan isu nyata, seperti proyek lingkungan atau literasi keuangan.
- Fase Merefleksi: Siswa menulis jurnal refleksi, berdiskusi, dan mengaitkan dengan olah hati dan olah rasa.
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan telah menggelar Lokakarya Pembelajaran Mendalam di Denpasar pada 24-26 September 2025 untuk melatih guru mengembangkan pembelajaran yang kreatif, said Ditjen GTKPG.
Fajar mengatakan pembelajaran mendalam yang akan diterapkan pada ajaran baru ini adalah bagian dari upaya besar Kementerian untuk transformasi pendidikan, said Fajar. Selanjutnya, Kemendikdasmen juga mendorong pembelajaran koding dan kecerdasan buatan di sekolah yang akan diterapkan di ajaran baru sebagai mata pelajaran pilihan.
Sekolah model seperti SMA Muhammadiyah 1 Pekanbaru yang ditetapkan sebagai sekolah model pembelajaran mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial pada SK 0010 Tahun 2026 menjadi rujukan praktik baik.
Kapan Dampak Deep Learning Mulai Terlihat? Timeline 2025 hingga 2028
Dampak Pembelajaran Mendalam tidak diproyeksikan instan pada tahun ajaran 2025/2026. Pemerintah menyusunnya dalam tiga fase berjenjang.
Fase 1: Fondasi Guru pada 2025 - 2026
Pada 2025, Kemendikdasmen telah melatih lebih dari 21.000 satuan pendidikan. Pada 2026, Kemendikdasmen juga akan mengadakan pelatihan deep learning, koding, dan kecerdasan artifisial dengan sasaran sekitar 113.000 satuan pendidikan.
Selain itu, pendekatan pembelajaran mendalam juga telah melatih lebih dari 52 ribu kepala sekolah dan 186 ribu pendidik.
Target perluasan lebih besar disiapkan melalui Pelatihan Mandiri. Lebih dari 361.000 pendidik dan tenaga pendidikan berpotensi mengikuti pelatihan pembelajaran mendalam dan koding di tahun 2026 ini, said Nunuk Suryani, Dirjen GTKPG.
Pada fase ini, 1.099 sekolah di seluruh Indonesia ditetapkan sebagai Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai laboratorium praktik.
Fase 2: Dampak Awal di Ruang Kelas Desember 2026 - Juni 2027
Dampaknya kami proyeksikan akan terlihat secara berkelanjutan pada periode Desember 2026 hingga Juni 2027 di mana kita menargetkan jangkauan 80% satuan pendidikan dan guru diharapkan menguasai fondasi konseptual PMKKA, said Nunuk Suryani.
Rangkaian Aksi Pembelajaran Mendalam berlangsung pada 22 Juli hingga 9 Agustus 2026, melibatkan 250 satuan pendidikan sasaran pelatihan tahun 2025 hingga terpilih 10 karya terbaik yang meraih berbagai kategori penghargaan.
Metode laboratorium pembelajaran ini dijadwalkan berlangsung dari Juli hingga November 2026, dengan proyeksi dampak berkelanjutan hingga Juni 2027 menuju target implementasi penuh nasional pada 2028.
Pada periode ini, Asesmen Nasional Berbasis Komputer menjadi cermin pertama. Asesmen Nasional Berbasis Komputer adalah program evaluasi yang diselenggarakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memotret input, proses dan output pembelajaran, said Kemendikbud. Asesmen Nasional juga digunakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan.
Artinya, perubahan pada kemampuan literasi, numerasi, dan karakter yang menjadi fokus Mindful, Meaningful, Joyful akan mulai terbaca di rapor pendidikan ANBK 2027, bukan 2025.
Fase 3: Implementasi Penuh 2028 dan Dampak Jangka Panjang
Pemerintah menargetkan sekolah menerapkan penuh Deep Learning di 2028. Implementasi metode ini juga akan memangkas beban materi pelajaran, sehingga fokus pencapaian siswa bergeser dari aspek kuantitatif menjadi lebih sederhana dan mendalam, said Kemendikdasmen.
Jika fase ini tercapai, dampak pada indikator internasional seperti PISA baru akan terlihat pada siklus PISA 2028 dan 2029, karena PISA mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi yang menjadi inti dari Deep Learning, bukan hafalan prosedural.







0 Komentar