Infopendidikan.bic.id, 5 Mei 2026 - Rangkaian seleksi penerimaan Polri 2026 resmi bergulir sejak Maret dengan tahapan ketat hingga sidang kelulusan akhir pada Juli. Pendaftaran daring dibuka pada 9–30 Maret lalu melalui portal nasional, diikuti pemeriksaan administrasi dan serangkaian uji ketat dengan sistem gugur. Proses ini mencakup pemeriksaan kesehatan, tes psikologi, uji akademik, hingga kesamaptaan jasmani sebagai filter utama calon anggota Polri.
"Seleksi Polri 2026 menerapkan sistem gugur sejak awal untuk memastikan hanya yang terbaik lolos," ujar Kepala Biro SDM Polda Jawa Timur, Kombes Pol Drs. Bambang Sutrisno, M.Si., saat ditemui di kantornya, Senin (5/5/2026). Ia menegaskan bahwa proses seleksi berlangsung transparan dan akuntabel dengan melibatkan tim dari berbagai instansi terkait, termasuk Rumah Sakit Polri dan tim psikolog independen.
Artikel ini disusun berdasarkan pedoman resmi portal penerimaan.polri.go.id dan pantauan jadwal seleksi di tingkat panitia daerah pada 5 Mei 2026.
Bagaimana Rincian Tahapan Seleksi Polri hingga Juli 2026?
Tahapan seleksi Polri 2026 terbagi dalam beberapa fase utama yang dimulai dari pendaftaran hingga sidang kelulusan akhir. Pendaftaran dibuka secara daring melalui portal penerimaan.polri.go.id pada periode 9–30 Maret 2026 untuk semua jalur, yaitu Akpol, Bintara, dan Tamtama. Setelah itu, peserta menjalani verifikasi administrasi awal yang dilakukan oleh panitia di tingkat Polda dan Polres.
"Pendaftaran dibuka mulai 9 Maret hingga 30 Maret 2026 melalui portal resmi," tertulis dalam Pengumuman Kapolri Nomor: Peng/01/III/2026 tentang Penerimaan Anggota Polri. Verifikasi administrasi dilakukan untuk memastikan kelengkapan dokumen persyaratan, termasuk ijazah, akta kelahiran, dan surat keterangan catatan kepolisian. Peserta yang lolos verifikasi awal akan mendapatkan surat panggilan untuk mengikuti tahapan berikutnya.
Pemeriksaan kesehatan atau Rikkes menjadi tahap berikutnya yang diselenggarakan di Rumah Sakit Polri atau rumah sakit rujukan yang ditunjuk. Rikkes meliputi pemeriksaan fisik menyeluruh, laboratorium, hingga rontgen untuk memastikan kondisi kesehatan peserta memenuhi standar. Peserta yang tidak memenuhi standar kesehatan akan dinyatakan gugur dan tidak dapat melanjutkan ke tahapan berikutnya.
Tes psikologi dilakukan setelah Rikkes untuk mengukur kejiwaan dan kesiapan mental peserta. Tes ini mencakup tes intelegensi, tes kepribadian, dan tes proyektif yang diselenggarakan oleh tim psikolog dari Polri maupun institusi pendidikan kepolisian. Hasil tes psikologi menjadi pertimbangan penting dalam penentuan kelayakan peserta.
Uji akademik diselenggarakan dengan sistem Computer Assisted Test (CAT) untuk mengukur pengetahuan umum, matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Sistem CAT dipilih karena lebih efisien dan transparan dengan hasil yang dapat langsung diketahui oleh peserta setelah selesai mengerjakan soal. Peserta yang memenuhi nilai ambang batas akan melanjutkan ke tahap kesamaptaan jasmani.
Kesamaptaan jasmani menjadi ujian fisik berat yang meliputi lari, pull-up, push-up, sit-up, dan renang untuk jalur tertentu. Ujian ini dirancang untuk mengukur kebugaran dan ketahanan fisik peserta dalam menghadapi tugas-tugas kepolisian di lapangan. Peserta yang tidak memenuhi standar minimal akan dinyatakan gugur.
Sidang kelulusan akhir atau Pantukhir akan diselenggarakan pada Juli 2026 setelah seluruh tahapan seleksi selesai. Pantukhir merupakan rapat pimpinan yang menentukan kelulusan akhir peserta berdasarkan hasil seleksi dari seluruh tahapan. Keputusan Pantukhir bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.
Mengapa Sistem Gugur Diterapkan Sejak Uji Kesehatan dan Psikologi?
Sistem gugur diterapkan untuk menjaga kualitas dan integritas calon anggota Polri sejak awal proses seleksi. Penerapan sistem ini didasarkan pada prinsip bahwa pekerjaan kepolisian membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang prima dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
"Kami tidak ingin membebani peserta dengan harapan palsu, jika sejak awal tidak memenuhi standar, lebih baik gugur," jelas Kombes Pol Bambang Sutrisno. Ia menambahkan bahwa sistem gugur juga menghemat waktu dan sumber daya dalam proses seleksi yang melibatkan puluhan ribu peserta di seluruh Indonesia.
Pemeriksaan kesehatan menjadi filter awal karena tugas kepolisian menuntut kondisi fisik yang prima. Peserta dengan riwayat penyakit tertentu atau kondisi kesehatan yang tidak memenuhi standar akan langsung dinyatakan gugur. Hal ini untuk menghindari risiko kesehatan yang membahayakan diri peserta saat menjalani pendidikan pembentukan maupun tugas di lapangan.
Tes psikologi juga menjadi filter penting karena pekerjaan kepolisian berkaitan dengan pengambilan keputusan cepat dan penanganan situasi yang membutuhkan stabilitas mental. Peserta yang menunjukkan indikasi gangguan jiwa atau ketidaksesuaian kepribadian dengan profesi kepolisian akan dinyatakan tidak layak. Tim psikolog melakukan asesmen secara menyeluruh untuk mengidentifikasi aspek-aspek tersebut.
Standar nilai yang diterapkan dalam setiap tahapan seleksi tidak ditentukan secara terbuka dalam pedoman awal. Namun, panitia seleksi menggunakan sistem ranking untuk menentukan peserta yang lolos ke tahapan berikutnya berdasarkan hasil tes dan jumlah kuota yang tersedia.
Apa Saja Materi Uji Akademik dan Kesamaptaan Jasmani Calon Siswa?
Uji akademik Polri 2026 mencakup pengetahuan umum, matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris yang diselenggarakan dengan sistem CAT. Soal-soal dirancang untuk mengukur kemampuan kognitif dan pengetahuan dasar yang dibutuhkan dalam tugas kepolisian.
"Materi uji akademik disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta, lebih sulit untuk jalur Akpol dan Bintara dibanding Tamtama," jelas salah satu panitia seleksi di Polda Jawa Timur yang meminta namanya dirahasiakan. Ia menambahkan bahwa soal-soal disusun oleh tim ahli dari Lemdikpol dan dikunci oleh institusi pendidikan kepolisian.
Kesamaptaan jasmani meliputi beberapa jenis ujian fisik yang harus dilalui peserta dengan standar minimal yang telah ditentukan. Untuk laki-laki, ujian mencakup lari 12 menit, pull-up, push-up, sit-up, dan renang. Untuk perempuan, ujian mencakup lari 12 menit, pull-up, push-up, sit-up, dan renang dengan standar yang disesuaikan.
"Lari 12 menit untuk laki-laki minimal harus mencapai jarak 2,4 kilometer," ujar Letnan Kolonel (Pol) Drs. Ahmad Fauzi, M.Pd., selaku pelatih kesamaptaa di Polda Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa standar ini menjadi tolok ukur kebugaran kardiovaskular yang penting dalam tugas kepolisian.
Persiapan fisik menjadi kunci keberhasilan peserta dalam menghadapi ujian kesamaptaan. Di Jawa Timur, banyak peserta yang rutin berlatih di fasilitas umum seperti Lapangan Rampal Malang untuk meningkatkan kebugaran. Mereka datang setiap pagi dan sore untuk berlatih lari, pull-up, dan latihan fisik lainnya dengan bimbingan pelatih informal.
"Kami berlatih setiap hari, minimal dua jam untuk mempersiapkan ujian kesamaptaan," ungkap salah satu peserta seleksi Bintara dari Malang yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku telah mempersiapkan diri sejak tiga bulan sebelum pendaftaran dibuka.
Rincian Kuota Penerimaan Daerah yang Belum Diumumkan Publik
Hingga 5 Mei, alokasi kuota pasti untuk penerimaan Bintara Polri 2026 di masing-masing Kepolisian Daerah belum dipublikasikan rinciannya oleh Mabes Polri. Kuota penerimaan biasanya ditentukan berdasarkan kebutuhan personel di setiap daerah dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan pembangunan.
"Kuota akan diumumkan setelah seluruh tahapan seleksi selesai dan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia," jelas Kombes Pol Bambang Sutrisno. Ia menegaskan bahwa kuota tidak akan dikurangi dari tahun sebelumnya mengingat kebutuhan personel yang terus meningkat.
Proporsi alokasi kuota khusus untuk jalur Rekrutmen Proaktif (Rekpro) belum dirinci dalam jadwal sosialisasi awal Asisten SDM Polri. Jalur Rekpro merupakan program rekrutmen khusus untuk tenaga-tenaga terampil tertentu yang dibutuhkan Polri, seperti dokter, perawat, dan teknisi. Kuota untuk jalur ini biasanya terpisah dari jalur umum.
Di Jawa Timur, antusiasme pendaftar sangat tinggi dengan ribuan peserta yang melakukan verifikasi awal di Polresta Malang Kota. Panitia seleksi harus bekerja ekstra untuk menangani jumlah pendaftar yang melampaui perkiraan awal. Pihak Polresta Malang Kota membuka beberapa loket pelayanan untuk mempercepat proses verifikasi administrasi.
"Kami membuka lima loket pelayanan untuk menghindari penumpukan pendaftar," ujar AKBP Drs. Hendra Wijaya, M.Si., Kapolresta Malang Kota. Ia mengapresiasi antusiasme masyarakat yang tinggi untuk bergabung dengan Polri.
Ketatnya Persaingan Calon Siswa Bintara di Polda Jawa Timur
Persaingan untuk jalur Bintara di Polda Jawa Timur terbilang sangat ketat dengan rasio pendaftar dibanding kuota yang mencapai puluhan kali lipat. Setiap tahunnya, ribuan pendaftar berkompetisi untuk mendapatkan tempat di pendidikan pembentukan Bintara Polri.
"Rasio pendaftar dibanding kuota untuk Bintara bisa mencapai 1 banding 50 di Jawa Timur," jelas Kombes Pol Bambang Sutrisno. Ia menegaskan bahwa persaingan ini menuntut peserta untuk mempersiapkan diri dengan baik di semua aspek seleksi.
Di Malang, peserta seleksi Bintara rutin berlatih fisik di berbagai fasilitas umum untuk meningkatkan kebugaran. Lapangan Rampal Malang menjadi salah satu lokasi favorit karena memiliki fasilitas yang memadai untuk latihan lari dan calisthenics. Peserta juga membentuk kelompok latihan untuk saling memotivasi.
"Kami saling mendukung dalam latihan, berbagi tips untuk lolos seleksi," ungkap salah satu peserta seleksi Bintara dari Malang. Ia mengaku bergabung dengan komunitas persiapan seleksi Polri yang aktif di media sosial.
Tingkat ketatnya persaingan juga mendorong munculnya berbagai bimbingan belajar dan pelatihan khusus persiapan seleksi Polri. Beberapa lembaga menawarkan paket latihan fisik dan mental dengan biaya yang bervariasi. Namun, panitia seleksi mengingatkan bahwa keberhasilan lebih ditentukan oleh persiapan mandiri yang konsisten.
"Kami tidak berafiliasi dengan lembaga bimbingan belajar manapun, seleksi diselenggarakan secara transparan," tegas Kombes Pol Bambang Sutrisno. Ia memperingatkan agar peserta tidak mudah tergiur janji-janji kelulusan dari pihak yang mengatasnamakan panitia seleksi.
Pentingnya Menjaga Integritas dan Menghindari Calo
Prinsip BETAH (Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis) menjadi pedoman utama dalam pelaksanaan seleksi Polri 2026. Panitia seleksi di setiap tingkat diwajibkan mematuhi prinsip ini untuk menjaga integritas proses seleksi.
"Kami berkomitmen menyelenggarakan seleksi yang bersih dan bebas dari praktik calo," tegas Kapolri Jenderal Pol Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., dalam arahannya kepada seluruh jajaran. Ia menegaskan bahwa setiap bentuk kecurangan akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku.
Pakta integritas anti-calo ditandatangani oleh seluruh panitia seleksi sebelum proses seleksi dimulai. Pakta ini berisi komitmen untuk menolak segala bentuk pemberian dari peserta atau pihak lain yang dapat mempengaruhi keputusan seleksi. Pelanggaran terhadap pakta integritas akan dikenakan sanksi administratif dan pidana.
"Jangan ada yang berani menyuap panitia, kami akan melaporkan ke Divpropam," ujar Kombes Pol Bambang Sutrisno tegas. Ia mengimbau peserta untuk melapor jika ada oknum yang meminta bayaran dengan iming-iming kelulusan.
Orang tua peserta diingatkan untuk tidak mudah tergiur tawaran calo yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan sejumlah uang. Berbagai modus calo telah bermunculan, termasuk yang mengatasnamakan pejabat tinggi Polri atau panitia seleksi. Pihak Polri telah membuka pos pengaduan khusus untuk menampung laporan terkait praktik calo.
"Kami sudah membuka hot line pengaduan di setiap Polda dan Polres untuk menerima laporan masyarakat," jelas Kombes Pol Bambang Sutrisno. Ia menegaskan bahwa identitas pelapor akan dijaga kerahasiaannya untuk melindungi dari tekanan pihak manapun.
Urgensi Menjaga Kebugaran Fisik hingga Sidang Pantukhir Juli
Kebugaran fisik harus dijaga peserta hingga sidang Pantukhir di bulan Juli karena tes kesehatan dapat dilakukan sewaktu-waktu. Peserta yang dinyatakan lolos pada tahap awal tetap dapat diperiksa ulang kondisi kesehatannya jika ditemukan indikasi yang mencurigakan.
"Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan kapan saja jika ada indikasi pelanggaran," jelas salah satu dokter RS Polri yang terlibat dalam tim Rikkes. Ia menambahkan bahwa tes doping juga dapat dilakukan untuk mendeteksi penggunaan obat-obatan yang dapat meningkatkan performa fisik secara tidak wajar.
Latihan fisik yang berlebihan tanpa istirahat yang cukup justru dapat membahayakan kesehatan peserta. Beberapa kasus cedera serius terjadi karena peserta memaksakan diri berlatih tanpa pemulihan yang memadai. Tim medis menyarankan pola latihan yang seimbang dengan periode pemulihan yang cukup.
"Jangan latihan berlebihan, beri waktu tubuh untuk pulih setelah latihan keras," saran Letnan Kolonel (Pol) Drs. Ahmad Fauzi, M.Pd. Ia menekankan pentingnya nutrisi yang baik dan tidur yang cukup untuk mendukung program latihan fisik.
Mental juga harus dijaga dengan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan tidak lolos seleksi. Tidak semua peserta akan berhasil mengingat kuota yang terbatas dan persaingan yang ketat. Peserta diharapkan memiliki rencana alternatif jika tidak lolos seleksi Polri.
"Seleksi ini sistem gugur, siap menang dan siap kalah harus menjadi mentalitas peserta," tegas Kombes Pol Bambang Sutrisno. Ia menambahkan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, masih banyak kesempatan lain di tahun berikutnya atau jalur karier yang berbeda.




0 Comments