Oleh: Tim Redaksi
Info Pendidikan BIC, 30 Januari 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi mengumumkan pembukaan pendaftaran TKA 2026 jenjang pendidikan dasar dan menengah. Melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), pemerintah membuka akses pendaftaran bagi seluruh satuan pendidikan SD/MI/sederajat dan SMP/MTs/sederajat mulai tanggal 19 Januari hingga 28 Februari 2026.
Pengumuman ini menjadi sinyal penting bagi ribuan sekolah di Tanah Air untuk segera mempersiapkan peserta didik terbaiknya. TKA tahun 2026 ini digadang-gadang sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan paling komprehensif yang akan menjadi dasar perumusan kebijakan pendidikan ke depan.
Kepala BSKAP menyatakan bahwa pelaksanaan TKA tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Validitas data menjadi prioritas utama. "Kami ingin memastikan asesmen ini menggambarkan potensi nyata anak bangsa. Oleh karena itu, kami memperketat syarat kepesertaan," ujarnya dalam siaran pers yang diterima, Senin (20/1).
Syarat Mutlak: Validitas NISN
Satu hal yang menjadi sorotan utama dalam pelaksanaan TKA tahun 2026 adalah persyaratan mengenai Nomor Induk Siswa Nasional (NISN). Hanya murid yang terdaftar di satuan pendidikan dan memiliki NISN yang valid yang dapat mengikuti tes.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Selama ini, perbedaan data antara sekolah asal dan database pusat seringkali menimbulkan masalah administratif saat ujian berlangsung. Banyak siswa yang terpaksa tertunda ujurnya atau bahkan tidak bisa ikut ujian karena status NISN mereka tidak aktif (non-active) atau terkendala duplikasi data.
Dengan mewajibkan NISN valid, Kemendikdasmen bertujuan untuk membangun ekosistem data pendidikan yang bersih dan integritas-nya terjamin. Proses verifikasi ini berjalan otomatis dalam sistem pendaftaran daring. Jika saat pendaftaran NISN siswa terdeteksi bermasalah, maka nama siswa tersebut otomatis ditolak oleh sistem.
Bagi sekolah, ini berarti beban tambahan untuk melakukan pembenahan data. Guru BK atau operator sekolah diwajibkan mengecek kembali status keaktifan siswa di aplikasi Dapodik atau Verval PD. "Sekolah harus proaktif. Jangan tunggu hari H ujian baru ternyata siswa tidak bisa daftar karena NISNnya mati," imbau Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta saat memberikan arahan.
Memahami Fungsi TKA, Bukan Sekadar Ujian
Munculnya kekhawatiran di kalangan orang tua dan siswa mengenai pelaksanaan TKA adalah hal yang wajar. Namun, BSKAP terus berupaya mengedukasi publik bahwa TKA bukanlah "ujian nasional" versi baru yang menentukan kelulusan.
TKA adalah asesmen formatif yang dirancang untuk memetakan kemampuan akademik siswa dalam dua domain utama: Literasi dan Numerasi. Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana kemampuan siswa dalam memahami informasi, menggunakan penalaran, serta memecahkan masalah dalam konteks sehari-hari.
Berbeda dengan ujian sekolah yang menilai hafalan materi, TKA mengukur higher order thinking skills (HOTS). Misalnya, soal numerasi tidak hanya menanyakan hasil hitungan, tetapi bagaimana siswa menerapkan logika matematika untuk menghitung diskon belanja atau mengatur budget jadwal perjalanan.
Hasil dari TKA ini nantinya akan diserahkan kepada sekolah dalam bentuk rapor mutu individual dan rapor mutu sekolah. Data ini akan menjadi bahan bagi guru untuk melakukan remedial atau pengayaan bagi siswa, serta bagi pemerintah untuk mengevaluasi kualitas pembelajaran di masing-masing wilayah.
Jadwal Pelaksanaan dan Teknis Ujian
Jadwal pendaftaran yang terbuka selama kurang lebih satu setengah bulan memberikan ruang fleksibilitas yang luas bagi sekolah. Sekolah dapat menyesuaikan jadwal pendaftaran dengan jadwal akademik internal mereka.
Namun, BSKAP mengingatkan bahwa pendaftaran bersifat first come, first serve dalam hal penjadwalan jadwal ujian. Setiap satuan pendidikan bisa memilih tanggal dan jam pelaksanaan TKA di periode yang telah ditentukan setelah pendaftaran ditutup.
Pelaksanaan TKA tahun 2026 akan dilakukan secara serentak dengan sistem Computer Based Test (CBT). Siswa akan mengerjakan soal langsung melalui komputer atau tablet yang telah disiapkan sekolah.
Untuk sekolah di daerah 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal) yang belum memiliki fasilitas komputer memadai, BSKAP menyediakan opsi pelaksanaan berbasis kertas (Paper Based Test) atau menyediakan perangkat komputer portabel. Hal ini untuk memastikan prinsip keadilan (equity) dalam pendidikan tetap terjaga, tidak ada siswa yang tertinggal karena keterbatasan teknologi.
Persiapan Sekolah dan Guru: Infrastruktur vs Kapasitas
Tantangan terbesar dalam pelaksanaan TKA seringkali bukan pada persiapan mental siswa, melainkan kesiapan infrastruktur jaringan internet di sekolah. Kegagalan jaringan saat ujian berlangsung adalah mimpi buruk bagi setiap operator ujian.
Kemendikdasmen mendorong sekolah untuk melakukan simulasi jaringan (try out CBT) sebelum hari H ujian. "Jangan biarkan murid-murid gelisah karena koneksi internet putus di tengah ujian. Cek jaringan, cek server, dan siapkan backup plan," tutur seorang konsultan IT pendidikan.
Selain infrastruktur, kapasitas guru juga diuji. Guru harus memahami betul bahwa TKA bukan soal mengajar hafalan. Guru perlu mengubah metode pembelajaran di kelas agar siswa terbiasa dengan soal-soal berbasis penalaran. Proyek penguatan literasi dan numerasi yang digulirkan pemerintah beberapa tahun terakhir adalah langkah antisipatif menyambut TKA ini.
Perspektif Orang Tua: Harapan vs Realita
Di tengah euforia pemerintah mendorong asesmen mutu, orang tua siswa kelas akhir (kelas 6 SD dan kelas 9 SMP) seringkali memiliki kekhawatiran tersendiri. Apakah hasil TKA ini akan berpengaruh pada kelulusan atau penjurusan (penentuan jalur) ke jenjang selanjutnya?
Hal ini seringkali menimbulkan tekanan tambahan pada siswa. Seorang psikolog pendidikan, Dr. Andi Wijaya, menyarankan agar orang tua tidak memberi tekanan berlebihan. "Jangan jadikan TKA sebagai momok. Beri tahu anak bahwa ini hanya soal latihan untuk mengukur kemampuan diri, bukan penentu masa depan mereka," ujarnya.
Dr. Andi menambahkan, pendekatan orang tua yang terlalu result oriented (berorientasi hasil) justru dapat membuat anak cemas dan hasil tesnya tidak maksimal. Kondisi psikologis yang tenang adalah kunci utama agar siswa dapat berpikir kritis dalam menjawab soal numerasi dan literasi.
Menuju Pendidikan Berbasis Data
Pendaftaran TKA SD dan SMP 2026 ini adalah salah satu fondasi menuju sistem pendidikan berbasis data yang transparan. Dengan data yang valid dan akurat, pemerintah dapat melakukan intervensi yang tepat sasaran.
Misalnya, jika data menunjukkan bahwa wilayah tertentu memiliki skor literasi yang rendah, maka pemerintah daerah bisa mengalokasikan anggaran lebih banyak untuk program gerakan membaca di wilayah tersebut. Ini jauh lebih efektif daripada pembagian bantuan yang asal-asalan.
Kepala Sekolah SDN 01 Jakarta Selatan mengapresiasi kebijakan ini. "TKA ini seperti cek kesehatan sekolah. Kita jadi tahu kelemahan kita di mana. Dari situ kita bisa berbenah. Tentu, persiapannya memang capek, tapi hasilnya untuk kebaikan anak-anak kita juga," ungkapnya.
Bagi seluruh sekolah, operator, dan siswa di Indonesia, Januari dan Februari ini adalah bulan konsolidasi. Pastikan data NISN aman, pastikan komputer siap, dan yang terpenting, pastikan pikiran siswa siap untuk menghadapi asesmen ini tanpa rasa takut.



0 Comments