INFOPENDIDIKAN.BIC.ID – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 untuk siswa SMA/sederajat, yang rampung digelar awal November ini, menuai keluhan massal dari peserta di berbagai daerah. Banyak siswa melaporkan tingkat kesulitan soal yang tinggi, terutama pada mata pelajaran Matematika, yang dinilai tidak sepadan dengan waktu pengerjaan dan materi kurikulum.
Situasi ini memicu diskusi publik dan kritik dari pengamat. Mereka menilai fenomena ini bukan sekadar ketidaksiapan siswa, melainkan indikasi adanya masalah sistemik yang lebih dalam pada sistem pendidikan nasional.
Keluhan Waktu dan Soal Logika
Keluhan utama berpusat pada soal Matematika. Siswa melaporkan bahwa 50 menit yang dialokasikan tidak cukup untuk menyelesaikan 25 soal yang mayoritas berbasis High Order Thinking Skills (HOTS) dan logika.
"Baru mengerjakan setengah, waktunya sudah habis," keluh Ikhsan Bagas, siswa SMAN 78 Jakarta, seperti dikutip Kompas.com, Senin (7/11/2025). Ia mengaku tertekan dengan durasi dua menit per soal untuk soal yang membutuhkan penalaran mendalam.
Hal senada diungkapkan siswa di Bandung, yang merasa waktu persiapan sejak sosialisasi TKA pada Agustus 2025 terlalu singkat. "Rasanya mepet, jadi persiapannya kurang," ujar Zalfa, siswi SMKN 2 Bandung, kepada Pikiran Rakyat (4/11/2025).
Respons Kemendikdasmen
Menanggapi keluhan ini, pihak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan respons yang terbagi.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Prof. Toni Toharudin, mengklaim bahwa tingkat kesulitan soal TKA 2025 telah disusun sesuai standar nasional dan melalui proses uji coba. "Kami sudah melakukan uji coba dan analisis distribusi normal sebelum pelaksanaan," ujarnya, dilansir Suara Merdeka (5/11/2025).
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Atip Latipulhayat, mengakui adanya masukan tersebut. "Salah satu yang akan kami evaluasi itu soal waktu [Matematika]. Ada usulan agar durasinya ditambah. Itu akan kami pertimbangkan," kata Atip saat meninjau pelaksanaan TKA (6/11/2025).
Sorotan pada Kesenjangan Sistemik
Pengamat pendidikan menilai, masalah TKA 2025 jauh lebih fundamental daripada sekadar durasi ujian Matematika. Fokus kritik mengarah pada implementasi kebijakan yang dinilai tergesa-gesa dan tidak selaras dengan kondisi di lapangan.
1. Kesenjangan Implementasi Kurikulum Masalah utama yang diidentifikasi dari berbagai analisis (sesuai gap analysis dari file panduan) adalah ketidakselarasan antara TKA dengan implementasi Kurikulum Merdeka. Sebuah petisi daring yang ditandatangani ratusan ribu siswa (dilaporkan SINDOnews) menyoroti bahwa TKA dan Kurikulum Merdeka adalah "kombinasi yang tidak baik".
"Banyak guru tidak mengajar secara optimal, sementara materi tidak merata antar sekolah. Kami hanya punya waktu singkat untuk memahami format baru TKA," tulis petisi tersebut. Pengamat setuju, standardisasi TKA berpotensi memperlebar kesenjangan antara sekolah di kota besar yang siap dan sekolah di daerah yang masih beradaptasi dengan kurikulum baru.
2. Kesiapan dan Sosialisasi yang Singkat Kritik juga tertuju pada jadwal implementasi. Siswa menilai sosialisasi yang baru masif dilakukan pada Agustus 2025 dan pelaksanaan tes pada November 2025 terlalu mepet, terutama bagi siswa SMK yang juga terbebani jadwal Praktik Kerja Lapangan (PKL).
3. Krisis Integritas Ujian Selain soal kesulitan, gap informasi terbesar yang menjadi sorotan publik adalah masalah integritas TKA. Dilaporkan EKSAM.ID, pelaksanaan tes diwarnai insiden peserta yang melakukan siaran langsung (live streaming) TikTok dari dalam ruang ujian dan dugaan beredarnya bocoran soal di media sosial.
Insiden ini memicu tuntutan agar TKA 2025 dibatalkan penggunaannya sebagai validator nilai untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). "Jika ujian dasarnya bisa dipertanyakan, maka keadilan seleksi juga terancam," tulis laporan tersebut.
Keluhan atas TKA 2025 kini telah melampaui sekadar sulitnya soal. Diskursus publik beralih pada keselarasan antara kurikulum, kesiapan implementasi kebijakan, dan urgensi menjaga integritas asesmen nasional. Evaluasi yang dijanjikan Kemendikdasmen ditunggu publik sebagai langkah krusial untuk menentukan arah asesmen pendidikan ke depan.




0 Comments