Sorotan utama:
- Daftar Viral Forbes: 6 jurusan dengan pengangguran tertinggi versi Forbes: Seni, Filsafat, Sastra, Ilmu Sejarah, Pendidikan, dan Pertanian/Ilmu Kesehatan. Dinilai sepi lowongan karena apresiasi seni rendah, kesejahteraan pendidik kurang, dan lapangan kerja tidak sebanding lulusan.
- Data Terbaru 2024 Fed New York: Laporan terbaru Fed New York justru mengejutkan: Anthropology 7,9%, Computer Engineering 7,5%, Computer Science 7,0% pengangguran tertinggi 2024 - hampir 2x rata-rata nasional 4,2%, menunjukkan bahkan jurusan STEM aman pun terdampak AI.
- Konteks Indonesia - Overeducated: LPEM FEB UI temukan 15% pekerja berstatus pegawai/buruh adalah overeducated dengan penalty upah 6,4% lebih rendah. BPS Feb 2025 catat 7,28 juta penganggur, TPT lulusan universitas 5%, Diploma I 9%. Fenomena bekerja di bawah spesifikasi.
- Akar Masalah: Bukan jurusannya yang salah, tapi mismatch, orientasi kuliah hanya agar tidak dicap nganggur, apresiasi seni rendah, pertumbuhan lembaga kesehatan/pertanian tidak sebanding lulusan, dan kesejahteraan guru.
Jika kamu pikir jurusan Seni, Sastra, atau Pendidikan pasti aman dari pengangguran, data terbaru Forbes mungkin akan membuatmu berpikir dua kali. Daftar 6 jurusan dengan lulusan paling banyak menganggur versi Forbes mendadak viral di media sosial Indonesia, karena isinya justru jurusan-jurusan yang setiap tahun jadi favorit di SNBP dan SNBT.
Viralnya daftar global ini tidak bisa dilepaskan dari konteks Indonesia. Di saat yang sama, Labor Market Brief LPEM FEB UI merilis temuan mengkhawatirkan: 15% pekerja Indonesia mengalami overeducation - bekerja di posisi yang seharusnya bisa diisi lulusan lebih rendah - dan harus menerima penalty upah 6,4% lebih rendah.
Bahkan 45 ribu lulusan S1 dan lebih dari 6 ribu lulusan S2-S3 masuk kategori putus asa cari kerja karena harapan upah tak terpenuhi dan mismatch bidang studi. Forbes di level global, LPEM di level lokal, keduanya menunjuk masalah yang sama: relevansi pilihan studi dengan pasar kerja.

Daftar 6 Jurusan Versi Forbes - Kenapa Bisa Nganggur?
Mengutip laman Trigger.id yang merangkum Forbes, berikut 6 jurusan yang lulusannya paling banyak menganggur:
1. Seni (Teater, Musik, Rupa, Desain)
Jurusan seni mencakup banyak cabang. Pakar pendidikan menilai jurusan seni sepi lowongan karena dinilai hanya berisi ilmu terkait hobi pribadi. Padahal kesalahan bisa terletak pada apresiasi seni masyarakat Indonesia yang masih rendah. Data Fed New York Q1 2024 juga menyebut Art History, Visual and Performing Arts, dan Graphic Design punya tingkat pengangguran tertinggi, dengan 50% lebih underemployment.
2. Filsafat
Jurusan yang mempelajari nilai, moralitas, dan struktur berpikir mendasar. Hampir seluruh ilmu menanamkan prinsip filsafat, tapi nyatanya sarjana filsafat murni sulit dapat kerja yang spesifik sesuai bidang, kecuali di akademik.
3. Sastra (Inggris, Indonesia, Daerah)
Ada banyak cabang sastra, tapi tak semua ramai peminat kerja. Lulusan sering harus berjuang mencari lowongan yang tak sesuai bidang. Survei penyesalan jurusan bahkan mencatat Sastra Inggris masuk daftar paling disesali 52% lulusannya.
4. Ilmu Sejarah (Sejarah, Arkeologi, Antropologi)
Ahli sejarah harus bersaing dengan jurusan lain untuk lowongan umum. Data terbaru 2024 dari Fed New York: Anthropology justru jadi yang tertinggi penganggurannya 7,9% - hampir dua kali rata-rata nasional AS 4,2%. History 7,5% dengan underemployment 53,5%.
5. Pendidikan
Ironis. Kuliah di pendidikan tapi sulit dapat kerja. Di Indonesia, kesejahteraan tenaga pendidik yang dinilai kurang membuat banyak sarjana pendidikan memilih menganggur sejenak atau menyeberang profesi. BPS Feb 2022 mencatat TPT 5,83% dan lulusan kependidikan bersaing ketat di formasi ASN yang terbatas.
6. Pertanian & Ilmu Kesehatan
Meski banyak instansi butuh tenaga profesional, jumlahnya tidak berbanding lurus dengan lulusan. Pertumbuhan lembaga kesehatan dan pertanian tidak secepat pertumbuhan lulusan. Banyak yang akhirnya bekerja di bidang lain.
Yang Mengejutkan - Jurusan Favorit Baru Juga Nganggur Tinggi
Information Gain terbaru dari Investopedia & Fed New York 2024 menunjukkan daftar ini bergeser:
- Anthropology: 7,9% pengangguran
- Computer Engineering: 7,5%
- Computer Science: 7,0% dan 6,1%
- Physics: 6,2%
- Commercial Art & Graphic Design: 6,0% dan 5,7%
- Sociology: 5,5% dengan underemployment 49,6%
Artinya, bahkan jurusan yang selama ini dianggap paling aman seperti Teknik Komputer dan Ilmu Komputer masuk top pengangguran tertinggi 2024, karena disrupsi AI dan perusahaan lebih cari yang berpengalaman. Ini yang disebut Forbes sebagai jurusan over-educated & rendah serapan.
Kenteks Indonesia - 8 Juta Lulusan Bekerja Di Bawah Spesifikasi
LPEM FEB UI dalam Labor Market Brief mengungkap pola mengkhawatirkan:
- 38,9 juta pekerja diupah di bawah UMK, terdiri dari 8 juta lebih lulusan SD & SMA, disusul SMP & SMK.
- 15% pegawai/buruh adalah overeducated (bekerja di bawah kualifikasi).
- Mereka kena penalty upah 6,4% lebih rendah dibanding yang adequately educated.
- 45 ribu lulusan S1 dan 6 ribu lulusan S2-S3 masuk kategori putus asa, menghadapi hambatan harapan upah tak terpenuhi, mismatch bidang studi, dan diskriminasi usia.
BPS Feb 2025 mencatat pengangguran terbuka 7,28 juta orang atau 4,82% dari angkatan kerja. TPT lulusan Diploma I 9%, Diploma III 4,5%, dan Universitas 5%. Artinya kuliah tidak otomatis bebas nganggur.
MPR RI bahkan menyebut ketidaksesuaian antara kebutuhan pasar kerja dan kualitas lulusan harus segera diakhiri.
Bukan Salah Jurusan, Tapi Salah Orientasi
Trigger.id mencatat banyak yang memilih jurusan bukan karena minat, tapi karena terpengaruh teman, keinginan orang tua, atau yang paling fatal: jurusan apa saja tidak penting, yang penting kuliah daripada dicap nganggur. Pandangan pragmatis kuliah untuk bekal kerja tidak salah, tapi tanpa riset pasar, yang terjadi adalah:
- Apresiasi Rendah: Seni dianggap hobi, bukan profesi.
- Kesejahteraan Rendah: Pendidikan dan kesehatan dianggap kurang sejahtera.
- Lapangan Kerja Sempit: Pertanian dan sejarah butuh lapangan spesifik yang tidak tumbuh secepat lulusan.
- Talent Factory Minim: Tracer study kampus cenderung superfisial, hanya catat status kerja tanpa cek relevansi.
Jadi, Harus Hindari Jurusan Ini?
Tidak. Forbes tidak bilang jurusan ini harus dihindari. Yang harus diubah adalah strateginya:
- Pilih jurusan berbasis minat + riset tren 5 tahun ke depan, bukan ikut teman.
- Ambil minor skill yang laku: digital marketing untuk sastra, data analytics untuk pertanian, UI/UX untuk seni.
- Cari kampus yang punya AI Center, Data Center, dan link industri kuat seperti UB yang kerja sama dengan Microsoft & Google Cloud, agar tidak overeducation.
- Siap magang dan bangun portofolio sejak semester 3.
Sumber: Forbes & LPEM FEB UI







0 Komentar